
Hari ini, rencana awal ialah melanjutkan pencarian WO. Meski susah dan belum berpengalaman, namun Hara berusaha melakukan itu demi Mario dan Nia, kakaknya.
Siang ini, kuliah selesai lebih cepat. Entah bisa disebut keberuntungan atau tidak, dosen yang seharusnya memberi kuliah sore membatalkan kuliah dan mengatur ulang jadwal perkuliahan.
“Ra, ngopi dulu, yuk. Kalian mau juga, nggak?” ajak Renata kepada Hara, Syera dan Regis.
“Boleh, deh. Lagipula, seandainya kita pergi sekarang, mungkin juga kebanyakan masih istirahat makan siang karna mepet sama jam makan siang,” tambah Syera. Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun pergi menuju tempat kopi yang biasa mereka datangi, memesan kopi dan beberapa makanan, dan memilih tempat duduk keramat mereka.
Hara memilih duduk di dekat jendela dan membuang pandangannya keluar jendela, memandangi orang yang berlalu lalang. Perasaannya masih sedikit sesak. Bagaimana tidak, tempat ini adalah salah satu tempat yang sering ia datangi bersam Mario, dan kali ini ia harus datang dengan status yang berbeda, tanpa Mario dan hubungannya pun kandas.
Karna asik melamun, Hara sampai tak sadar bahwa pesanannya sudah datang.
“Ra,” terdengar suara yang tak asing ditelinganya, suara yang sudah beberapa waktu tak ia temui, El.
“El?” ucap Hara sembari masih terbengong, seolah itu pun hanya ilusinya.
“Wah, hebat. Padahal dari tadi kami panggil-panggil dia loh, mas. Tapi giliran mas barista wang bersuara, dia langsung sadar. Keren, kan?” ucap Regis mulai profokasi, sedangkan Renata dan Syera hanya tersenyum melihat hal itu.
“Oh, ya. Untuk kejadian tempo hari, makasih ya udah tampung teman kami,” ucap Renata kepada El.
“Oh, itu. Iya, mbak. Soalnya saya juga nggak sengaja ketemu sama Hara,” balas El.
“Btw, gue Renata. Kedepannya santai aja nyebutnya, nggak usah pakai kata ‘mbak’ segala,” jelasnya yang dianggukkan oleh El.
Seolah sedang sendirian, sedari tadi Hara kembali membuang pandangannya ke arah luar, membuang kasar nafas yang terasa sesak di dadanya, yang membuat mereka seketika memandang ke arah Hara.
“Ckckck… Gue rasa dia mulai frustasi,” ucap Regis, yang ternyata Hara mendengar ucapan Regis.
“Gue belum pernah nikah, belum pernah datang ke tempat WO. Nggak tau gimana standar pemesanannya, dan tiba-tiba gue disuruh buat persiapin pernikahan pacar gue? Eh, maksudnya mantan pacar gue. Kalau lo jadi gue, apa lo juga bakal baik-baik aja, Gis?” ucap Hara yang secara tiba-tiba mengungkapkan keberatannya. El yang masih ngobrol dengan sahabat-sahabatnya tak sengaja mendengar keluhan Hara.
“Oh, jadi kalian masih sibuk cari WO dalam waktu semepet ini?” ulang El mencoba memastikan kebenarannya, dan hanya dianggukkan oleh Syera, Renata dan Regis. Terlihat seperti berpikir, El membenahi posisi duduknya, menyilangkan kaki panjangnya, dan tangan kanannya menyangga dagunya, membuat karismanya semakin terlihat.
“Sebenarnya, gue ada kenalan pemilik WO,” belum selesai El menjelaskan, Hara dan sahabat-sahabatnya spontan mengarahkan mata yang penuh harap itu kepada El.
“Ya. Gue punya kenalan pemilik WO. Mungkin lebih tepatnya teman gue. Hanya, gue nggak tau apa bisa disewa dalam waktu dekat,” jelasnya ulang.
“Kira-kira kita bisa coba datang ke sana dulu, nggak?” ucap Hara. Melihat pandangan Hara yang penuh dengan harap, El menjadi tak tega melihatnya, dan dorongan untuk membantunya pun semakin besar.
“Gue coba telpon dia dulu, ya,” ucap El sembari berjalan menuju ruang istirahat untuk menghubungi temannya itu.
“Kalau seandainya temannya El nggak bisa, gimana ya?” ucap Hara yang mulai lelah dengan hal ini.
__ADS_1
“Ra, jangan gitu, ah. Setidaknya kita berharap aja dulu kalau mereka bisa tolong kita yang nggak tau apa-apa soal dunia pernikahan ini,” ucap Syera berusaha menenangkan. Sembari menunggu kepastian dari El, mereka pun menikmati kopi dan makanan yang mereka pesan sembari tertawa dan bertukar canda, berusala melepaskan penat yang masih melekat dalam diri sahabat mereka.
Tak lama kemudian, terlihat laki-laki yang bertubuh tinggi berjalan dari arah ruang istirahat karyawan dan menghampiri mereka.
“Gimana El?” tanya Hara to the point.
“Ra, basa-basi dulu, kenapa?” ucap Regis.
“Ck! Kebanyakan basa-basi nggak baik buat kesehatan, nanti jadinya kaya lo, jadi nggak peka sama keadaan,” balas kembarannya.
“Jadi gimana, El?” tanya Hara lagi, matanya penuh dengan harap.
“Bisa atau enggaknya belum bisa dipastikan, Ra. Yang pasti, kita datang aja dulu ke kantor mereka buat diskusiin dan sekalian tawar menawar lah,” jelas El.
“Tapi setidaknya mereka masih kasih kesempatan buat ketemu, kan?” tanya Renata lagi berusaha memasrtikan.
“Kalau kalian bisa, setelah istirahat makan siang mereka bisa kok,” jelas El.
“Ok, segera meluncur,” ucap Hara yang dengan spontan berdiri, seolah ia sudah tau tempat tujuannya.
“Eits, paan si? Emangnya lo udah tau di mana kantornya?” ucap Renata sembari menarik lengan Hara untuk kembali duduk.
“Boleh minta tolong antar ke sana, nggak?” ucap Syera dan Renata yang hampir bersamaan, dan disetujui oleh El. Sembari menunggu jam istirahat makan siang selesai, mereka menghabiskan kopi dan makanan mereka, sementara El juga sibuk melayani pelanggan di sisa waktunya. Waktu istirahat makan siang terasa sangat cepat, kini mereka sudah siap dan menunggu di depan kafe, sedangkan El masih bersiap di ruang ganti.
“Ayo,” ucap El yang sudah bergabung bersama mereka.
“Aduh, kalau kalian aja, gimana? Sebenarnya gue lupa kalau hari ini mama gue harus kontrol ke dokter,” ucap Syera mencari alasan.
“Mama lo sakit, kok semalam nginep di rumah gue?” tanya Hara curiga.
“Bukan sakit yang lo pikir, Ra. Lo sendiri tau mama gue harus kontrol sebulan sekali,” jelas Syera yang dianggukkan oleh Hara.
“Yaudah, salam ya buat tante,” ucap Hara lembut.
“Ra, sebenarnya siang ini gue juga udah harus mulai penelitian gue. Bukan sekarang, dari kemarin malah, Cuma gue tunda,” ucap Renata mencari alasan.
“Dan gue harus antar adik gue buat penelitian, Ra. Nggak apa ya kalau kami ijin,” pamit Regis.
“Ya, mau gimana lagi kalau memang kalian yang sibuk,” ucap Hara berusaha mengerti keadaan sahabat-sahabatnya.
“El, titip Hara, ya,” ucap Regis sembari berjalan pergi meninggalkan Hara dan El. Hara dan El pun melanjutkan tujuan mereka hari ini.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama, Hara dan El sudah berada di ruang tunggu kantor Yerim, teman El.
“Aduh, sorry. Kalian udah tunggu lama, ya?” tanya Yerim yang terlihat terburu-buru dari arah ruang atas.
“Santai, Yer. Belum terlalu lama, kok,” jelas El. Melihat El datang membawa seorang wanita, senyuman licik Yerim pun mulai menghantui mereka.
“Apaan? Nggak seperti yang lo pikir, ya. Udah, buruan. Waktunya udah semakin dekat soalnya,” mendengar ocehan El, Yerim hanya tertawa dan kemudian mengajak Hara dan El ke ruang kerjanya.
“Jadi begini, sekitar 2 minggu lagi kakak saya akan menikah. Karna beberapa kendala jadi saya yang membantu untuk mencari WO. Kira-kira bisa nggak kak, kalau dalam waktu dekat ini kami menyewa jasa di sini?” ucap Har menyampaikan tujuan mereka ke kantor Yerim.
“2 minggu lagi tepatnya tanggal berapa, ya?” tanya Yerim.
“29 November ini.”
“Wah, mepet banget, ya. Sebentar deh, saya lihat jadwal kami dulu,” ucap Yerim. Tak lama kemudian, ia kembali menghampiri Hara dan El.
“Jadi gimana, lo bisa kan tanggal segitu?”
“Gue rasa, kalian beruntung, deh. Karna dari tanggal 27 sampai 30 kami nggak ada orderan,” jelas Yerim.
“Jadi bisa kan, mbak?” tanya Hara memastikan, dan dianggukkan oleh Yerim. Rasa lega itu pun menjalar ke dalam hati Hara.
“Ini sample nya, kalian lihat-lihat aja, dulu,” ucap Yerim sembari memberikan album sample gaun pengantin yang tersedia. Hara dan El pun sibuk membolak-balik halaman album, memilih gaun pengantin bersama, bahkan mendiskusikan beberapa hal menyangkut pernihakan, seolah merekalah yang akan menikah dalam waktu dekat ini.
Setelah memilih sample yang kira-kira cocok dengan style kakaknya dan Mario, serta beberapa keperluan yang dibutuhkan, Hara dan El pun pamit dari kantor Yerim.
“Ada untungnya juga gue temenan sama lo,” ucap El sembari tersenyum kepada Yerim.
“Gue anggap itu sebagai ucapan terima kasih, loh,” balas Yerim.
“Terima kasih banyak, mbak. Kalau begitu, kami pamit dulu,” ucap Hara. Ketika Hara dan El berjalan tak jauh dari Yerim, wanita itu kembali menanyakan hal yang mengusik El.
“Jadi, kapan lo mau ke sini lagi, El?” mendengar pertanyaan Yerim, spontan El membalikkan badannya dan memberikan tatapan peringatan untuk Yerim, yang hanya disambut dengan tawa dari Yerim.
“Kalau lo udah mau nikah, sewa di tempat gue aja, ya?! Jangan lupa. See you,” ucap Yerim dan El pun tanpa sadar menggandeng tangan Hara, mengajaknya untuk segera keluar dari kantor Yerim.
Hara memperhatikan tangannya yang digandeng oleh El, orang yang belum lama ia kenal, namun perasaan tak asing ketika mereka bertemu yang membuatnya merasa bahwa ia telah mengenal El dalam waktu yang lama.
...‘Lagi dan lagi, lo tolong gue waktu gue butuh. Thanks, El’...
...***...
__ADS_1