
Beberapa hari setelah hari yang melelahkan itu, hari di mana Hara dan sahabat-sahabatnya mencari WO, setidaknya hari-hari yang dilalui Hara tidak terlalu berat baginya. Karna tugas yang diberikan papanya pun sudah ia laksanakan dengan baik berkan bantuan dari El.
Karna banyaknya pekerjaan yang dimiliki Mario dan Nia, mereka terpaksa membiarkan Hara yang membantu mereka untuk mencari WO. Dalam hati pun, Nia dan Mario percaya dengan kemampuan penilaian Hara mengenai dekorasi dan style pernikahan, karna itu tak akan merugikan Nia dan Mario.
Setelah Hara dan sahabat-sahabatnya yang berlelah mencari WO, siang ini adalah waktunya bagi Mario dan Nia untuk mencari cincin pernikahan mereka. Cincin pernikahan yang sebenarnya tidak pernah mereka inginkan. Cincin pernikahan yang seharusnya tidak ada di jari manis mereka. Dan, cincin pernikahan yang meninggalkan luka pada hati orang yang mereka cintai, adik bagi Nia dan kekasih bagi Mario.
"Ni, lo udah di mana?" tanya Mario melalui voice call.
"Gue udah tunggu lo di depan kantor gue. Lo yang di mana?" tanya Nia balik, yang rupanya sedari tadi ia sudah menunggu Mario.
"Ok, otw," ucapnya singkat dan mengakhiri panggilan mereka. Beruntungnya, kantor Mario dan Nia hanya berseberangan jalan, bahkan karyawan Mario banyak yang mengenal Nia dengan image-nya yang dingin dan cuek kepada lawan jenis itu. Begitu juga dengan Mario, banyak karyawati di kantor Nia yang mengenal Mario karna sifatnya yang ramah dan tampan.
Kabar tentang pernikahan mereka pun sudah tersebar keseluruh karyawan tempat mereka bekerja. Banyak reaksi yang diberikan oleh mereka yang mengetahui rencana pernikahan mereka. Reaksi yang paling umum ialah terkejut mendengar kabar pernikahan mereka. Di satu sisi, karyawan Mario tau bahwa Mario memiliki kekasih yang sangat ia cintai. Namun di sisi lain, Nia tidak pernah terdengar memiliki kekasih.
Sebuah mobil sedan berwarna merah terparkir dengan rapi di depan Nia. Tanpa perlu aba-aba, Nia segera masuk ke dalam mobil, demi menghindari banyak mata yang memperhatikan mereka. Melihat Nia yang sudah masuk ke dalam mobil, Mario segera melajukan mobilnya menuju ke salah satu toko yang terkenal di kota temat tinggalnya.
"Kenapa tadi lo cepet-cepet masuk mobil?" tanya Mario ketika mereka sedang dalam perjalanan.
"Malas aja gue liat pandangan mata yang terus tertuju ke gue. Jadi risih aja, nggak nyaman," jelas Nia.
"Gue rasa sikap cuek lo udah sedikit berkurang, deh," ucap Mario. Tak mengerti dengan perkataan calon suaminya, Nia hanya berpaling menatap Mario dengan tatapan tanyanya.
"Kalau ingat sifat lo yang dulu, lo nggak akan terusik dama pandangan orang banyak. Tapi lo yang sekarang, lo udah semakin peduli dengan diri lo."
"Maksud lo, gue yang dulu segitunya nggak peduli sama pandangan orang ke gue. Dan gue yang sekarang terlalu urusin pandangan orang ke gue, gitu?"
"Kurang lebihnya. Tapi gue rasa sifat itu bagus lo pertahankan, apalagi lo sebentar lagi bakal nikah. Setidaknya lo bisa urus suami lo dengan baik."
"Apa lo lupa kalau calon suami gue itu mantan pacar adek gue sendiri?" tanya Nia dengan nada sedikit kesal, namun Mario malah tertawa mengingat kenyataan yang terjadi di antara mereka.
__ADS_1
"Lo pikir ini lucu?" ucap Nia.
"Sedikit. Lo bahkan udah gue anggap adik gue sendiri, bahkan mungkin calon kakak ipar gue karna gue pacaran sama Hara. Tapi kenyataannya, malah lo orang yang gue ajak buat ngukur cincin dan gaun pengantin," ucap Mario dengan senyuman yang terpaksa. Senyuman yang menunjukkan rasa sakit yang teramat dalam bagi dirinya, Hara, dan juga Nia.
"Yang penting, lo ingat kan perjanjian kita?" ucap Nia kepada Mario.
"Tenang. Perjanjian itu selalu gue ingat dan nggak akan gue lupain seumur hidup gue," ucapnya meyakinkan wanita yang kini duduk di kursi yang sebelumnya hanya menjadi tempat bagi Hara seorang.
Tak lama kemudian, Nia dan Mario sudah sampai di toko perhiasan, dan salah seorang pegawai toko tersebut membimbing keduanya menuju suatu rak yang berisi cincin mewah dari desainer terkenal.
"Ini adalah 5 jenis cincin yang sedang tren sekarang, pak Mario. Silakan dicoba," ucap menejer toko tersebut.
Perusahaan keluarga Mario merupakan salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia, bahkan memiliki banyak cabang, maka tak heran bila yang melayani langsung adalah menejer toko tersebut.
"Lo cocok yang mana?" ucap Mario kepada Nia yang terlihat tenfah serius memilih cincin pernikahan. Tak ada respon dari Nia, Mario pun memilih membiarkan calon istrinya yang memilih cincin pernikahan mereka.
"Ini kan cuma pernikahan karna perjodohan. Kenapa lo milih cincinaja lama banget, si?" ucap Mario sembari berbisik ke telinga Nia.
Bagi orang yang tak mengetahui pernikahan perjodohan mereka, orang-orang pasti berpikir tentang betapa romantisnya mereka ketika memilih cincin pernikahan. Terlebih, Mario memiliki tampang yang tampan dan Nia juga berparas cantik, membuat orang menilai bahwa mereka adalah pasangan yang cocok, suaminya tampan dan istrinya cantik.
Demi mengambil opini dari masyarakat, Nia dan Mario sengaja sedikit lama dalam memilih cincin pernikahan mereka.
"Yang ini aja, deh. Ini bagus, simpel dan bernilai," ucap Nia sembari menunjuk salah satu cincin dengan ukiran bunga dan ada permata di bagian tengah untuk poin pada cincin itu.
"Boleh juga, sih. Gue setuju," ucap Mario menyetujui perkataan Nia.
"Jadi mau ambil yang ini, pak Mario?" tanya menejer itu.
"Ada kan ukuran untuk jadi calon istri saya?" tanya Mario memastikan.
__ADS_1
"Tentu ada, pak Mario. Karna kami sudah diberi tau kondisinya, jadi kami sengaja menyiapkan berbagai ukuran dari kelima cincin ini," jelas menejer toko itu.
Akhirnya, memilih cincin pun selesai, walau lebih lama dari waktu yang diperkirakan. Setelah memilih cincin, Mario dan Nia pun melanjutkan untuk mengukur gaun pengantin yang akan dikenakan Nia di hari pernikahan mereka.
"Oh, jadi mas dan mbak yang akan mengukur gaun hari ini, atas pesanan Hara?" tanga pegawai di toko milik Yerim.
"Benar. Apa semua sudah dipersiapkan?" tanya Mario memastikan.
"Keperluan yang lain sudah siap, tinggal pengukuran gaun pengantin saja. Silakan ke arah sini," ucap pegawai itu dan diikuti oleh Nia dan Mario.
...Di satu sisi, di kafe tempat kerja El...
"Kira-kira, apa kakak Nia udah sampai di toko kak Yerim, ya?" tanya Hara kepada El yang tengah duduk menemaninya menikmati kopi.
"Apa mau coba telpon ke Yerim aja?" tanya El.
"Nggak usah deh, El. Takut ngeganggu. Apa kita nyusul ke sana aja, ya?"
"Apa dengan kita ke sana kamu bakal baik-baik aja?" ucap El yang berusaha menanyakan keadaan hati Hara ketika melihat pria yang ia cintai menemani wanita lain untuk mengukur gaun pengantin mereka.
"Entahlah, El. Aku juga nggak bisa memastikan apa aku akan baik-baik aja ketika melihat mereka saat pemberkatan nikah nanti. Setidaknya, aku ingin terbiasa melihat mereka berdua. Mungkin dengan begitu, hatiku juga bisa semakin pulih," ucap Hara. Meski terlihat sangat berharap untuk pulih dari sakit hatinya, namun El dapat melihat kepedihan yang masih mendalam di sorot matanya setiap kali Hara membicarakan Mario, atau bahkan melihat Mario.
...Di sisi lain, di toko Yerim...
"Lo yakin kan, terakhir kali lo ketemu Hara, lo nggak ceritain rahasia kita ini?" tanya Nia pada Mario yang juga sedang mengukur jas.
"Yakin. Lo tenang aja, Ni. Nggak ada satu orang pun yang tau rahasia kita. Cuma lo dan gue yang tau. Dan, lo juga jangan lupa, banyak hal yang harus kita kerjakan setelah pernikahan. Dan gue mau, itu harus terwujud, supaya apa yang selama ini kita lakuin nggak sia-sia," ucap Mario yang juga disetujui oleh Nia.
...Setiap orang pasti memiliki rahasia dalam hidup mereka. Baik itu bersama dengan teman, sahabat, atau bahkan pasangan hidup, demikian juga bagi Nia dan Mario. Walau keduanya menikah tanpa cinta, namun tak menutup kemungkinan bagi mereka untuk tetap memiliki kehidupan umum yang juga dimiliki oleh pasangan pada umumnya, yaitu sebuah rahasia....
__ADS_1
...Sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh Mario dan Nia. Sebuah rahasia dalam pernikahan mereka, dan juga rahasia yang akhirnya membuat mereka mau menerima perjodohan itu....
......***......