
Udara pagi hari merupakan udara yang sangat bagus untuk dinikmati. Pagi ini, ketika matahari masih bermalu-malu untuk memancarkan sinarnya, Hara sudah siap dengan running shoes nya yang berwarna peach, lengkap dengan sebuah handuk kecil yang melingkar di leher dan botol air mineralnya yang siap untuk dihabiskan ketika dahaganya tiba.
Hara melihat ke arah arloji yang ia kenakan, waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi, dan ia pun berjalan menuju pintu utama, yang rupanya telah berdiri di depan pintu gerbang, ada dua orang kembar pria dan wanita yang tentunya tampan dan cantik, berwajah blasteran Indonesia-Belanda. Dia adalah Regis Alvaro bersama dengan saudara kembarnya Renata Alvira.
Melihat sosok yang berdiri di samping Regis, seketika wajah Hara berubah dan tanpa aba-aba, Hara berlari, memeluk tubuh wanita yang memiliki tinggi badan 165cm dan bertubuh langsing itu untuk meluapkan rasa rindunya selama beberapa tahun.
“Kok lo ngga bilang kalau bakal balik ke Indo, Ta? Kejam ya, diem-diem begini.” Renata dan Regis hanya bisa terkekeh mendengar ocehan Hara yang menyambut pagi mereka.
“Gue jelasin sambil jalan, yuk. Nanti keburu siang, udah nggak enak lagi kalau ketinggalan sunrise nya,” ajak Renata yang langsung disetujui oleh Hara dan Regis. Di sepanjang jalan, rencana awal yang dirancang adalah lari pagi ala Regis dan Hara berubah, menjadi cerita pagi ala Renata dan Hara, dan Regis hanya berjalan dengan lunglai di belakang dua wanita cantik yang sedang asik bercerita itu.
“Oh, jadi memang awalnya nggak ada rencana buat balik. Terus, lo bakal lama di Indo, kan?” Tanya Hara sembari beristirahat di bangku pinggir taman di dekat kompleks rumah mereka.
“Masih belum tau juga si, Ra. Karena dari awal gue memang nggak ada niat buat balik ke Indo. Jadi masih nggak tau juga mau balik lagi ke Belanda atau stay di sini aja.”
“Ah, gimana kalau lo pindah kampus aja, ke sini, bareng gue, Regis, dan Syera,” ajak Hara dengan penuh harap.
“Percuma lo bujuk anak ini, Ra. Sebelum lo ngomongin ini, gue, bahkan papi mami juga udah bujuk dia buat kuliah di sini,” sahut Regis yang baru membuka suara.
“Eh, gue sampai lupa kalau ada orang lain selain kita, Ta,” balas Hara yang baru ingat bahwa Regis ada bersama mereka.
“Lo emang kebangetan, Ra. Kalau udah asik sama satu hal, gue dilupain,” balas Regis kesal yang disambut dengan tawa Hara dan Renata.
“Gue piker-pikir dulu deh, Ra. Soalnya, gue juga kasihan sama nenek gue di sana, sendirian.”
“Ya, gue sebagai sahabat cuma bisa kasih saran yang menurut gue baik buat lo, Ta. Memang kasihan nenek di sana, cuma mengingat lo di sana harus susah-susah hidup sendiri, urus semua sendiri, apa nggak lebih baik pulang? Tapi, lumayan si kalau nenek lo mau pekerjakan ART.”
__ADS_1
“Justru itu masalahnya, Ra. Pertama, susah ngajak nenek ke Indo, dan kedua nenek nggak mau pekerjakan ART, karena merasa nggak aka nada yang dia kerjain lagi kalau pekerjaan rumah harus diurus sama ART. Jadi, ya mau gimana lagi. Cucu nenek cuma gue sama Regis, karna papi anak tunggal.”
“Yaudahlah, sambil dipikir aja, Ta,” ucap Hara mengakhiri percakapan mereka, dan mereka pun melanjutkan rencana awal mereka.
Setelah puas mengelilingi kompleks, mereka pun kembali ke rumah masing-masing.
“Lo yakin nggak mau main ke rumah gue dulu, Ta?” Tanya Hara kembali berusaha mengajak Renata ke rumahnya.
“Yaelah, Ra. Rumah kita cuma beda pagar. Tuh, Ra, di seberang jalan rumah gue, bareng sama Regis. Lo nggak lagi pura-pura lupa kan?” ucap Renata yang mulai kesal dengan rengekan Hara, yang disambut dengan tawanya.
“Yaudah deh, iya, iya. Dimarahin lagi kan gue sama kembaran lo, Gis.”
“Makanya jangan ngeyel sama mak Lampir ini, Ra,” ucap Regis meledek adik kembarnya. Merasa ada hawa panas yang datang dari arah Renata, Regis pun segera berlari menuju rumahnya dan mengunci pintu gerbang dari dalam. Renata pun berlari meninggalkan Hara dan mengejar Regis. Melihat kelakuan mereka, Hara hanya bisa tertawa melihat si kembar yang tidak pernah akur.
...---...
...Melihat ke arah laptop yang masih terbuka...
‘Kayaknya gue pengen nulis, deh. Tapi, cerita mana yang bakal gue tulis?’ ucapnya dalam hati, sembari berjalan menuju meja belajarnya yang terletak di dekat jendela kamar. Berusaha mencari suasana yang pas untuk mulai menulis, Hara membawa laptop, buku-buku referensi, dan beberapa perlengkapan lainnya ke balkon yang ada di depan kamarnya, meletakkan barang-barang tersebut, dan jarinya pun mulai asik menari di atas keyboard laptop itu. Merasa ada yang kurang, Hara berlari dari balkon menuju dapur yang ada di lantai 1, yang tanpa disadari membuat kaget kedua orang tuanya. Melihat kelakuan anak bungsu mereka, mama dan papa Hara hanya bisa menebak kegiatan apa yang sedang ia lakukan hingga sampai harus ditemani dengan kopi kesukaannya.
“Kayaknya, anak kita mulai sibuk sama laptop dan karangan-karangannya yang belum selesai, ma,” ucap pak Herdian kepada istrinya.
“Udah lama rasanya, mama nggak lihat anak bungsu kita mulai sibuk dengan tulisannya itu, pa.” Sejak SMA, Hara memang mulai menekuni dunia novel. Berawal dari kesukaannya membaca novel bergenre romansa, hingga memberikannya ketertarikan tersendiri untuk ikut mencoba menuliskan apapun itu ke dalam bentuk cerpen maupun novel. Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada 1 tulisanpun yang selesai. Ia lebih sering mengganti judul, mengganti tema, sampai mengganti cerita, hingga yang ada hanya tumpukan synopsis yang tak kunjung selesai.
Sembari mendengarkan lagu kesukaannya dari Boyband Kpop kesukaannya, Hara membuang pandangannya ke arah jalan, mulai memperhatikan tetangga yang berlalu-lalang, sampai ke pedagang cilok yang sedang berjualan. Merasa mendapatkan ide cerita, ia kembali sibuk dengan dunia khayalnya.
__ADS_1
...---...
...Di lain sisi, di rumah Regis...
Regis dan Renata sedang menikmati waktu mereka di balkon sembari saling berbagi cerita, pendapat hingga hubungan asmara mereka masing-masing.
“Oh iya, Gis, bukannya minggu depan Hara ulang tahun, ya?”
“Oh, iya. Kok bisa gue hampir kelupaan gini, ya?” ucap Regis yang merasa heran dengan ingatannya. Renata hanya berdecak, ia tak heran melihat Regis yang lupa akan sesuatu.
“Kan lo memang pelupa, Gis. Untung aja kepala lo jadi satu sama badan. Coba kalau enggak, mungkin lo bakal kupa juga di mana taruh kepala,” ucapnya dengan sengit.
“Enak aja lo, sembarangan ya ngomong sama kakak. Gini-gini, gue itu kakak lo. Ingat. KAKAK!”
“Haish!! Berisik. Jadi gimana nih? Kita mau buat kejutan apa? Gue udah kangen banget buat kejutan untuk Hara, rasanya udah lama banget nggak ikut bareng ngerayain ulang tahun Hara.”
“Gimana kalau kita liburan ke Puncak? Kan ulang tahun dia pas banget di hari weekend.”
“Tapi, apa Mario bisa ikut kalau sampai ke luar kota?” Regis menggelengkan kepalanya melihat adik kembarnya yang tak begitu mengerti betapa besarnya cinta Mario untuk Hara.
“Jangankan ke luar kota. Seandainya Hara minta dirayain ulang tahunnya di luar negri pun, bahkan seandainya kita ikut, Mario bakal mau bayarin kita, saking cintanya dia,” ucapnya berusaha menjelaskan.
“Ok deh. Nanti lo pokoknya harus hubungi Mario, Syera juga sekalian buat bahas ini. Tapi ingat 1 hal, kita buat seolah kita lupa ulang tahunnya.” Mendengar ide dari adiknya yang menarik, Regis pun segera menghubungi Mario dan Syera. Cukup berbeda dengan Regis, Tenaga memiliki kepribadian yang cukup dingin, bahkan sekilat terlihat judes, namun dia mampu bersikap lebih dewasa dari Regis, kakaknya.
Dari rumah seberang, Renata memperhatikan sosok Hara yang sibuk dengan laptopnya, hingga tak menyadari keberadaan Renata dan Regis yang sedari tadi berisik dari arah rumah seberang jalan yang mewah itu.
__ADS_1
...‘Gue harap lo akan selalu bahagia, Ra. Gue sangat berharap akan itu.’...
...***...