
Hari-hari yang dilalui Hara cukup normal, tak ada sesuatu yang tampaknya mencurigakan, bahkan dari sang kekasih hati pun tak ada pergerakan yang aneh.
......Pagi ini, 3 hari menjelang hari ulang tahun Hara......
Hara sedang menikmati paginya dengan berbaring santai di atas tambangnya yang terasa sangat nyaman itu. Perlahan, matanya mengarah ke arah bufet yang terletak tepat di sebelah ranjangnya. Matanya berhenti pada satu benda yang mengingatkannya bahwa tinggal menghitung hari, ia akan benar-benar berusia 21 tahun. Terlihat jelas dalam tulisan pada kalender tersebut angka 12 yang berwarna merah.
'Oh, ternyata tahun ini ulang tahunku bertepatan dengan weekend. Weekend biasanya pada sibuk. Apa akan ada yang ingat, ya? ' ucapnya dalam hati, yang sebenarnya tidak perlu diragukan lagi bahwa ulang tahunnya akan tetap dirayakan oleh orang terkasih.
...Tiba-tiba hpnya berdering, dan pada layar HP tersebut memunculkan ukiran nama dari orang yang sangat dikenalnya....
...~Panggilan Masuk~...
...πμκΈ°μΌπ...
Terlihat panggilan masuk dari Mario, tanpa menunggu lama dan dengan hati gembira, Hara segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, sayang?" ucap Mario dengan lembut dari seberang telpon.
"Halo. Kok tumben jam segini telpon? Memangnya nggak pergi ke kantor?" tanya Hara sedikit heran.
"Enggak. Maaf aku lupa kasih tau kamu, kalau mulai hari ini sampai minggu depan aku bakal ke Jepang karna ada meeting penting," jelas Mario berusaha sekuat tenaga supaya Hara mau mengerti.
"Kok baru bilang sekarang? Terus sekarang di mana? Udah di bandara?" tanyanya tanpa henti.
"Aku udah sampai di Jepang, dan baru ingat kalau belum kasih tau kamu, sayang." Dalam hati Hara merasa sangat kecewa dengan kenyataan itu. Tidak biasanya seorang Mario yang telah menjalin hubungan 4tahun bersamanya, lupa memberitahukan kabar penting.
Hara tak menjawab atau bahkan kembali bertanya. Ia hanya diam, sembari mendengarkan Mario yang terus membujuknya agak tak marah.
"Sayang, benar. Maafkan aku. Akhir-akhir ini terlalu banyak pekerjaan di kantor, sampai aku lupa."
"Akhir-akhir ini terlalu banyak pekerjaan, katamu? Itu sebabnya kamu lupa kasih tau aku jauh-jauh hari? Mario. Kita nggak baru 1th 2th pacaran. Tapi 4th, Mario. 4tahun. Dan kamu masih lupa keberadaanku?" kekecewaannya tak bisa ia tahan lagi. Mario sangat kaget mendengar respon dari kekasihnya. Ia pikir Hara akan bersikap seperti biasa, mengerti dan memahami pekerjaan dan tuntutan Mario selaku Menejer di perusahaan milik ayah Mario.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku sal..." belum sempat Mario melanjutkan perkataannya, Hara langsung menyela.
"Udah dulu ya, Mar. Aku masih ada tugas yang belum kuselesaikan. Oh, satu lagi. Semangat kamu buat kerja di negri orang. Bay..."
"Sayang, tunggu. Hara. Har..." saluran telpon terpurus. Dengan berat hati, Hara mengakhiri pertengkaran pagi ini sebelum Mario menjelaskan detiknya, dan sebelum sakit hatinya semakin membuncah.
Pertengkaran dalam sebuah hubungan memang hal yang wajar. Akan tetapi bagi seorang Hara, hal ini tidak bisa dikatakan wajar bila Mario yang melakukannya. Hara pun menumpahkan kekecewaannya dengan tangis yang meledak, yang berusaha ia sembunyikan sehingga tidak menimbulkan suara yang memancing orang lain untuk datang.
Puas menangis, Hara berusaha mencari orang untuk menghiburnya.
...~Panggilan Keluar~...
...Renata...
__ADS_1
Tak perlu menunggu lama, terdengar jawaban dari seberang telpon.
"Kenapa, Ra?"
"Lo sibuk nggak, Ta? Gue butuh teman."
"Belum terlalu si. Karna lo sendiri tau, gue lagi siapin barang-barang karna besok udah mau balik ke Belanda." Merasa ada yang tak beres, Tenaga memberanikan diri bertanya pada sahabatnya
"Lo kenapa, Ra? Nggak biasanya lo begini. Ada apa?" Mengingat ucapan Renata, Hara mengurungkan biatnya untuk bercerita.
"Nggak kok, Ta. Yaudah, lo siap-siap gih. Udah dulu ya. Bay... "
...Telpon terputus...
Setelah lelah menelepon Renata dan Syera, Hara memutuskan menelepon Regis.
"Apa? Bisanya Mario lakuin itu ke lo, Ra. Apa dia udah nggak sayang sama lo, makanya dia mulai lupa keberadaan lo?"
"Lo apaan si, Gis! Gue telpon lo tujuannya cari solusi dan teman curhat, bukan malah bikin hati gue jadi makin dongkol," ucapnya.
"Iya deh, iya. Sorry kalo gue nggak bisa ngertiin lo." Tak ada jawaban dari suara seberang, Regis sudah hafal betul bahwa kalau begini, Hara sudah pasti ngambek parah.
"Gue ada ide buat ilangin kesel lo, Ra," suara yang sedari tadi tidak merespon, kini berubah merespon dengan cepat.
"Ya sabar, si. Belum juga dibilang udah nggak sabar aja. Besok kan udah weekend, gimana kalau kita refreshing ke puncak? Udah lama juga kita nggak main ke sana," ajak Regis dengan riang. Berpikir ini adalah ide yang bagus untuk menghilangkan mood buruknya, Hara oun menyetujui.
...---...
...07:30...
Hara membuka matanya, terlihat pemandangan macet yang luar biasa dari arah Jakarta menuju Puncak.
"Masih macet ya?" tanya Hara yang baru saja membuka matanya setelah melanjutkan tidur ketika masuk ke dalam mobil.
"Kalau gini ceritanya, kapan kita bakal sampai?" merasa tak memiliki jawaban, Regis hanya mengangkat bahunya. Merasa kesal, Hara melanjutkan tidurnya, sedangkan Regis harus menyetir mobil.
...---...
...10.15...
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Walau perjalanan lebih lama dari perkiraan, namun pemandangan hijau kebun teh, lembah-lembah yang penuh dengan tanaman rambat, kebun yang dipenuhi sayuran, dan pemandangan pegunungan yang dingin dan sejuk, terasa sangat menghibur bagi Hara.
"Walaupun di jalan terasa setahun, tapi pemandangan ini lebih dari cukup untuk membayar macet," ucapnya dengan bibir yang tak berhenti tersenyum gembira.
"Kalau gitu, apa kita mau langsung ke Villa aja, Ra?"
__ADS_1
"Bentar lagi deh. Toh Villa lo nggak bakal dibawa lari semut, kan?" mendengar respon Hara, terlihat bahwa mood sahabatnya sudah sedikit membaik.
Tak lama kemudian, Hara dan Regis sampai di Villa milik keluarga Regis, yang sudah disambut oleh ibu pengurus Villa dan makanan hangat yang tersapu di meja makan.
Segera Hara menuju kamar yang telah disiapkan, membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang lebar untuk melepas kelasnya selama kurang lebih 5jam dalam perjalanan.
"Sayang banget ya, cuna lo sama gue. Adik gue mendadak minta pulang ke Belanda. Suara nggak bisa ikut karna ke rumah nenek di Lampung. Dan Mario," belum selesai ia berkata..
"Udah deh, Gis. Gue dateng ke sini buat lupain pertengkaran gue sama Mario. Jadi, mohon kerja dananya ya, Gis." Setelah selesai menikmati makan siang, Hara dan Regis pun kembali berkeliling di kebun belakang Villa.
Tanpa terasa, malam telah tiba. Regis dan Hara tengah asik menikmati pemandangan malam puncak, sembari menghangatkan badan di dekat api yang mereka buat, dengan camilan jagung bakar dan ubi bakar madu kesukaan Hara, sembari diselingi curhatan-curhatan tentang berbagai persoalan mereka.
...22.45...
Waktu terasa begitu cepat ketika Hara tengah menikmati waktu liburnya ini.
"Oh, iya. Besok kita mau ke mana lagi? Kan hari ini nggak jadi jalan-jalan karna capek," ucap Hara.
"Gue bingung Ra, harus ajak lo kem mana. Mana tempat wisata banyak banget," keluh Regis.
"Ye. Gimana si. Kan lo yang ajakin gue ke sini. Harusnya udah punya planing dong." Sejenak berpikir tempat yang akan dikunjungi.
"Oh, gue inget tempat yang paling pengen gue datengin. Pokoknya kita harus ke sana besok. Titik."
"Ya, ke mana dulu?"
"Gue pengen ke Taman Sakura di Cibodas. Abis itu ke Kota Bunga buat naik Gondola. Terus ke Taman Bunga Nusantara, karna gue pengen masuk ke sana nggak pernah jadi. Gue pengen masuk ke labirinnya, karna ada banyak tempat bagus di sana." Regis hanya bisa menghela nafas mendengar permintaan Hara yang banyak.
"Yaudah. Karna bakal banyak perjalanan besok, lo harus tidur sekarang juga. Biar besok gue nggak susah banguninnya," pinta Regis yang langsung dituruti oleh Hara. Dengan hati gembira, Hara memasuki kamar dan segera tidur. Walau terkesan ada sesuatu hal yang terlupakan, namun Hara tak mengambil pusing perasaan itu.
...Di sisi lain...
Regis masih saja duduk di tempat yang sama sembari sibuk dengan hpnya.
"Halo. Di mana? Oh, ok. Aman terkendali pokoknya. Iya, jangan sampe lupa itu. Udah dulu ya, gue kedinginan ini," ucap Regis berbisik-bisik mengakhiri panggilan tersebut.
...00.00...
Hara yang masih tidur dengan nyenyak pun seketika bangun mendengar suara ledakan yang begitu nyaring di telinganya, duduk dan berusaha membuka matanya yang masih berat. Ledakan petasan yang begitu dekat membangunkannya.
"Surprice!!!!!!" Suara teriakan gembira yang mengagetkan Hara. Terlihat sosok kedua orang tuanya, kakaknya, Syera, Renata, bahkan Mario yang katanya bakal 1minggu di luar negri berkumpul dalam ruangan yang sama bersama Hara dan Regis. Seketika butiran bening mengalir deras di pipi mulus Hara, tak kuasa menahan kebahagiaan yang diberikan orang-orang terkasih.
Ya. Kejutan ulang tahun yang tak biada itu sukses besar dilaksanakan, dengan bekerja sama dengan semua orang terdekat Hara. Pagi ini, di mana usianya genap 21 tahun, semua terasa begitu sempurna, tanpa cela, bahkan tak akan ada orang yang menyadari di tengah kebahagiaan itu akan terjadi suatu tragedi besar yang merubah kehidupan semua orang.
...***...
__ADS_1