
Beberapa hari menjelang hari pernikahan Nia dan Mario, semua orang sibuk mempersiapkan semua perlengkapan serta kebutuhan, dekorasi taman yang akan dijadikan tempat pernikahan pun sudah hampir selesai. Acara pernikahan Nia dan Mario diadakan di taman milik keluarga Hara.
Tak perlu ditanyakan lagi. Hingga saat ini pun, hatinya masih sangat perih melihat kenyataan yang ada. Bahkan dirinya pun merasa seolah semuanya sangat sibuk dengan pernikahan ini, kecuali dirinya dan kedua mempelai. Walau hara secara resmi sudah melepaskan ikatan yang hanya sebagai sepasang kekasih, namun hatinya masih belum bisa merelakan laki-laki yang selama ini selalu ada untuknya.
Kesibukan karna persiapan pernikahan kakaknya membuat Hara merasa bahwa keberadaannya tidak begitu diperhitungkan lagi oleh keluarganya, bahkan seandainya ia tidak pulang ke rumah pun, orang tuanya juga tidak akan menyadarinya, seperti kejadian beberapa hari yang lalu.
...Beberapa hari yang lalu...
Akhir-akhir ini, tugas kuliah semakin banyak dan menumpuk. Dosen-dosen seolah tidak memikirkan perasaan para mahasiswa ketika memberikan tugas yang setiap hari selalu diterima dari semua dosen. Tugas yang menumpuk juga terjadi karna Hara beberapa waktu membiarkan tugasnya, karna pikirannya kalut dengan masalah perjodohan itu.
“Ngantuk banget rasanya, Syer. Pengen tidur aja,” ucap Hara kepada Syera yang sedang membantunya menyelesaikan tugasnya yang terbengkalai.
“Kan tugasnya dikumpul besok, Ra. Kalau lo tidur, nanti mana sempat lagi kita kumpul besok pagi?” ucap Syera mengingatkan.
“Yaudah, gue tidur di sini aja, deh. Biar sekalian bisa selesaikan, dan besok gue bisa tidur,” ucap Hara yang sudah hampir menyerah dengan banyaknya tugas. Tanpa ia sadari, karna banyaknya tugas yang dikerjakan, Hara sampai lupa memberi tahu mamanya bahwa ia akan menginap di rumah Syera.
Ketika pagi datang, Hara pun pergi ke kampus dari rumah Syera, dan ia baru pulang ke rumahnya ketika sore hari setelah mata kuliah hari itu selesai.
Ketika Hara pulang ke rumahnya hari itu, baik papa atau mamanya tidak ada yang bertanya semalam ia ada di mana, bahkan mereka tidak ada yang tau bahwa Hara tidak ada di rumah. Ya, sejak hari di mana Hara sudah menemukan WO yang cocok untuk pernikahan Nia dan Mario, walau sudah berbaikan dengan papanya, namun keadaan masih tetap sama, bahkan mereka juga menjadi lebih jarang untuk sekadar mengobrol.
__ADS_1
Hara berjalan keluar dari kamarnya, memperhatikan taman yang biasanya menjadi tempatnya dan sahabat-sabahatnya bermain ketika di rumahnya, bahkan yang biasanya juga menjadi tempatnya mengobrol dengan Mario, kini pernuh dengan hiasan yang cantik dan indah, yang dipersiapkan untuk pengantin yang sedang berbahagia.
Dari balkon, Hara memandang dengan lekat ke arah taman yang berada tepat di bawah kamarnya. Orang-orang yang dengan sibuk berlalu lalang mendekor taman membuatnya semakin lama semakin muak, dan rasa sesak kembali menekan dadanya yang hampir saja membuat air matanya kembali menetes. Ketika Hara sedang sibuk dengan lamunannya, terdengar langkah kaki yang menghampirinya dan ikut berdiri di sampingnya.
“Sesak ya, Ra?” ucap Nia dengan pandangan kosongnya yang menatap ke arah taman. Mendengar suara kakaknya, Hara segera mengkondisikan hati dan ekspresinya, bersikap seolah ia juga merasa bahagia bersama dengan Mario dan kakaknya. Hara berpaling ke arah kakaknya dan memberikan senyum terbaiknya.
“Maksud kakak apa? Kan 3 hari lagi kakak akan menikah, tentu aku senang, dong,” ucapnya yang sedang berusaha membohongi dirinya sendiri.
“Syukurlah kalau kamu senang, Ra. Tapi, kakak nggak senang kalau kakak harus menikah dengan orang yang dicintai oleh adik kakak sendiri,” ucap Nia yang akhirnya mengungkapkan perasaannya.
“Kakak, hubungan Hara dan Mario sudah berlalu. dan Hara sendiri kok yang mengakhiri hubungan itu. Jadi, kakak jangan merasa nggak enak hati lagi,” ucap Hara yang berusaha meyakinkan kakaknya dengan keputusannya itu.
“Kak, Hara nggak apa, kok. Yakin. Walau mungkin saat ini Hara masih nggak bisa sepenuhnya baik-baik saja, tapi Hara yakin kok, suatu saat nanti Hara juga akan mendapat laki-laki yang sebaik Mario, yang juga mencintai Hara,” ucapnya, sembari menghadap ke arah Nia, dan mereka pun berhadapan. Hara memegang tangan kakaknya dan berusaha meyakinkan akan keputusan adiknya itu.
“Kak, karna Hara tahu bahwa Mario laki-laki baik, Hara relakan dia untuk kakak. Karna Hara mau kakak juga bahagia, seperti waktu Hara bersama Mario. Walau pernikahan ini atas dasar perjodohan, setidaknya kakak juga harus bahagia dalam pernikahan ini. Hara sayang sama kakak dan Mario, jadi Hara nggak mau kalian terus sedih seperti ini, karna kakak juga harus bahagia.” Mendengar ucapan adiknya kali ini, Nia tak mampu lagi membendung air matanya. Butiran bening bagaikan kristal itu pun mulai berjatuhan dan mulai berlarian membasahi pipi Nia. Merasakan sesak yang teramat dalam dadanya, Nia pun memeluk adiknya.
Adik yang seharusnya ia lindungi dan adik yang seharusnya bersikap manja kepadanya, kini menjadi adik yang bersikap dewasa dan mementingkan kebahagiaan kakaknya. Sedangkan Nia malah menjadi penghancur harapan dan kehidupan adiknya itu. Perasaan yang merasa diri tak pantas disebut sebagai seorang kakak pun semakin sering melanda dirinya, tepatnya sejak perjodohan itu.
Ini adalah kali pertama setelah Hara tumbuh dewasa kembali menyaksikan kakaknya yang biasanya bersikap dingin dan tegas sedang menangis tersedu-sedu sembari memeluknya.
__ADS_1
Dalam hati, Hara juga merasakan sakit dan sesak yang teramat dalam, namun tak mungkin baginya untuk menumpahkan air matanya sekarang di depan sang kakak, karna itu akan semakin membuat kakaknya merasa bersalah kepadanya.
Tak lama setelah Nia mulai merasa sedikit membaik, datang Yerim yang sedari tadi mencari Nia.
“Nia, bisa ke sini sebentar?” ucap Yerim yang dianggukkan oleh Nia. Nia pun menghampiri Yerim dan meninggalkan Hara seorang diri. Melihat kakaknya pergi, air mata Hara turun dengan derasnya, membasahi pipinya dan membuat dadanya kembali terasa sesak hingga membuatnya tersedu.
Merasa dirinya semakin terpuruk lagi, Hara segera masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu dan menyendiri, menangis sepuasnya seorang diri. Pemandangan di dalam kamarnya pun sudah bersih dari foto dirinya dan Mario, dinding terlihat sangat kosong dan hanya terisi dengan poster boyband kesukaannya.
Merasa dirinya membutuhkan hiburan, setelah dirinya tenang usai menangis, Hara pun memutuskan untuk mencari suasana yang mampu mengembalikan moodnya, dan ia juga berniat untuk pergi mencari hadiah pernikahan untuk kakaknya dan laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya itu. Hara pun berjalan ke luar kamar dengan pakaian yang santai tanpa berpamitan dengan orang yang ada di rumahnya itu.
...Beberapa menit sebelum Yerim memanggil Nia...
Yerim yang tengah sibuk mempersiapkan beberapa peralatan dan hendak menyimpannya di kamar pengantin. Ia mendcari keberadaan Nia yang hendak ia ajak berdiskusi tentang acara yang akan berlangsung 3 hari mendatang.
“Nia kemana, ya? Perasaan tadi dia ke arah balkon, deh,” ucapnya pada dirinya sendiri sembari menyusuri jalan yang ia rasa tadi dilalui oleh Nia. Yerim pun melihat Nia yang sedang berbincang dengan Hara di balkon. Yerim pun berjalan mendekati Nia dan Hara.
“Ah, itu dia. Ni,” Yerim menghentikan panggilannya. Untung saja suaranya tak cukup kuat untuk bisa terdengar oleh Nia dan Hara. Tanpa disadari, Yerim mendengar percakapan Hara dan Nia. Percakapan yang tak seharusnya ia dengar antara kakak adik itu. Merasa tak enak hati mengganggu percakapan itu, Yerim pun memilih untuk diam, membiarkan Nia dan Hara meluapkan isi hatinya.
...‘Tanpa sadar, aku mengetahui rahasia antara Hara dan Nia. Rahasia yang membuat El mau membawa Hara ke kantorku, dan rahasia yang sepertinya menjadi faktor terbesar El untuk selalu berada di samping Hara, walau mereka belum saling mengenal,’ ucap Yerim dalam hatinya....
__ADS_1
...***...