Perjalanan Cinta Hara

Perjalanan Cinta Hara
Sebuah Kenyataan 2


__ADS_3

Weekend memanglah perjalanan yang melelahkan, khususnya perjalanan dari arah Puncak menuju Jakarta. Banyaknya kendaraan, membuat lalulintas jalur Puncak menjadi macet.


......Sore ini, pukul 15.30......


Setelah menempu perjalanan kurang lebih 6 jam, akhirnya mereka sampai juga di Jakarta. Perjalanan normalnya hanyalah kurang lebih 3jam, namun dikarenakan macet, perjalanan menjadi lebih lama dan menyita banyak waktu.


Mario sudah sampai di Bandara setelah menghantar Hara dan teman-temannya sampai ke rumah mereka. Mario sengaja tidak mengajak Hara, karena selama mereka berpacaran, walau sudah 4tahun, Mario tidak pernah sekalipun memperkenalkan mereka.


Banyak hal yang dipertimbangkan oleh Mario ketika hendak mengenakan mereka. Salah satu penyebabnya ialah sudah sejak 5tahun ini, orang tua Mario bekerja tinggal di Korea untuk mengurus bisnis mereka yang di sana.


Walau Mario berniat untuk serius dengan hubungan mereka, akan tetapi baik dari pihak Mario maupun Hara, masih belum siap untuk ke tahap saling memperkenalkan kepada orang tua masing-masing.


Meski orang tua Hara sudah mengenal Mario, dengan hubungan 4tahun mereka, secara otomatis Mario bisa bertemu dengan orang tua Hara ketika menghantar kekasihnya, ataupun sekadar izin untuk pergi berkencan.


Itulah yang saat ini sedang ada di pikiran Mario. Memperkenalkan kekasihnya dengan orang tuanya.


Ketika tengah merenung bagaimana cara yang tepat untuk mengadakan pertemuan itu, terlihat 2sosok yang sangat ia kenal di tengah keramaian orang yang berlalu lalang di Bandara. Melihat merekabyang berjalan ke arahnya, bibir Mario tidak berhenti tersenyum.


Dengan gembira, pria berusia 25 tahun itu segera berlari ke arah pria dan wanita paruh baya uang sedari tadi ia nanti kedatangannya. Mario memeluk kedua orang tuanya dengan penuh kehangatan dan rindu yang akhirnya bisa terobati.


"Ma, pa, Mario kangen banget" ucap Mario. Mendengar penuturan putra semata wayangnya, orang tua Mario hanya tersenyum.


"Hampir 5th nggak tinggal serumah, kamu masih sama manja ya, Rio" ucap mamanya sembari membelai lembut bahu bidang sang putra, yang disambut dengan senyuman manja sang anak.


"Loh, kok pada kanhen kangenn di Bandara. Ayo pulang dulu, Mumpung masih agak sore ini" ajak sang ayah yang juga disetujui oleh istri dan anak kesayangannya.


Ketika dalam perjalanan, keluarga kecil itu dengan senang berbincang, membicarakan segala hal, kecuali hubungannya dengan Hara. Dengan sorot mata berbinar dan bibir yang tak berhenti tersenyum,


"Ma, pa, mau makan dulu sebelum pulang?" ajak Mario yang berusaha mencari cara untuk menceritakan hubungannya dengan kekasihnya.


"Kayaknya makan malamnya besok aja deh, Yo. Soalnya nanti malam jam 7 kita ada undangan makan malam di rumah sahabat papa" jawab sang ayah menjelaskan.


"Oh gitu? Oke deh, Rio ikut aja." Selama perjalanan dari Bandara hingga ke rumah keluarga pak Haris Mahendra dan ibu Lee Marissa dipenuhi dengan canda tawa dan kehangatan yang telah lama Mario rindukan.


...Di sisi lain, di rumah Hara...


...15.05...


Hara memasuki rumahnya, ia merasa ada yang aneh yang akan terjadi di dalam rumahnya, sesuatu yang asing baginya. Dekorasi-dekorasi yang memenuhi di sepanjang lantai 1 terasa membuatnya tak nyaman.


'Kok, mama, papa, nggak minta saran aku buat dekor tangannya, sih? Kan harusnya hari ini aku pemeran utamanya' ucapnya dalam hati sembari mengomnentari dekorasi rumahnya karna merasa tak puas.

__ADS_1


Setelah meletakkan barang bawaannya di kamarnya, Hara berjalan menuju dapur rumahnya dan melihat banyak orang yang sedang sibuk memasak. Mamanya menoleh dan mendapati sosok putrinya yang sudah sampai di rumah.


"Ra, kapan datang?" tanya sang mama kaget.


"Belum lama kok, ma" ucapnya yang masih merasa asing dengan suasana rumahnya.


"Kamu udah makan?"


"Udah tadi di jalan. Ini ada apa si, ma?"


"Kan tadi mama udah bilang, kita mau ada acara makan malam, Ra" jelas mamanya.


"Makan malam dalam hal apa? Kenapa ada dekorasi nggak masuk akal kayak di depan?"


"Hust. Nggak boleh ngomong sembarangan gitu, ah."


"Lalu ini apa? Kenapa pas Hara masuk rumah Hara sendiri, Hara merasa asing, ma?"


"Karena memang mama nggak pernah mendekor rumah kita, sayang. Jadi, nanti malam rumah kita mau kedatangan tamu, sahabat papa" jelas mamanya.


"Oh, gitu. Bilang dong kalau cuma mau sambut teman papa. Tau gitu, aku nggak perlu pulang, relain liburanku yang jarang cuma demi sambut teman papa, yang aku sendiri nggak tau siapa" ucapnya dengan sedikit kecewa mendengar penuturan mamanya. Tanpa sepatah kata, Hara pergi meninggalkan rumahnya, dan berjalan menuju rumah yang berada di seberang rumahnya, menuju rumah Regis.


"Halo, Rara. Cari Regis, ya?"


"Hehehe... Mami tau aja" mendengar ucapan Hara, mami Regis hanya tersenyum.


"Tau, dong. Masuk aja, Ra. Regis ada di kamarnya, kalau Rena mungkin ada di balkon" jelas sang mami, orang yang berperan layaknya ibu bagi Hara selain ibu kandungnya.


"Rara ke atas dulu ya, mi" ucapnya meninggalkan sang mami menuju kamar Regis.


...Ceklek..... ...


Dengan percaya diri, Hara membuka pintu kamar Regis yang ternyata...


"Ris! Gue,.... Alahhh!!!" suara teriakan Hara berhasil mengundang Renata dan mami menuju sumber suara.


"Ra! Lo udah gila, ya?" ucap Regis sembari menutupi bagian tubuhnya dengan kain yang disebut celana dan baju.


"Ada apa si, Ra? Baru naik kok teriak?" tanya mami penasaran yang diikuti oleh Renata.


"Regis sembarangan ganti pakaian, mi. Dia mesum!!!" jelas Hara sembari menutup matanya dan menunjuk ke arah Regis yang tengah mengenakan bajunya. Melihat kenyataan itu, Renata dan sang mami tertawa puas.

__ADS_1


"Yang aneh itu lo, Ra. Kalian sadar nggak si, kalau kalian udah bukan anak kecil lagi yang bisa mandi bareng di bak yang sama, bahkan dengan tubuh telanjang?" ledek Renata.


"Lo tuh, yang aneh. Masa iya, lo main masuk aja ke kamar cowok lain, tanpa lo tau dia masih ngapain di dalam kamarnya" sengit Regis, yang disambut dengan wajah cemberut dari Hara.


"Udah, udah. Jangan berantem lagi. Mami pikir ada apa" ucap sang mami yang kemudian memilih pergi meninggalkan anak-anak.


Renata dan Hara berjalan menuju balkon rumah itu, yang disusul oleh Regis.


"Ada apa, Ra? Nggak biasanya lo begini?" tanya Renata langsung.


"Gue kesek aja, Ta. Gue pikir acara yang dimaksud nyokap gue itu acara ulang tahun gue yang disiapin buat kejutan gue. Eh, giliran gue sampai rumah tadi, nyatanya bukan" keluh Hara.


Akhirnya, Hara menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu. Setidaknya, Hara mendapat sedikit pengertian dan kekuatan dari Regis dan Renata setelah menceritakan masalah ini.


...---...


Waktu terasa cepat berlalu. 15 menit lagi, tamu yang dibicarakan sang mama akan datang ke rumah Hara.


Benar saja, tak butuh waktu lama, tamu yang dimaksud datang ke rumah mereka.


...Tok... tok... tok... ...


"Dek, ayo turun. Tamu papa udah datang, tuh" ajak sang kakak.


"Kakak dukuan aja. Nanti Hara nyusul. Hara belum selesai siap-siapnya."


"Oke deh. Tapi, cepet ya" ucap sang kakak sembari meninggalkan sang adik yang masih berkutik dengan make up nya.


...Di ruang tamu rumah Hara...


"Wah! Halo. Selamat datang, Ris. Lama banget nggak ketemu" ucap papa Hara memeluk sahabatnya yang sudah lebih dari 10tahun hilang kabarnya, yang disusul juga dengan para istri yang saling bersalaman dan berjabat tangan.


Sebagai sahabat, papa Hara dengan asik berbincang dengan sahabat lamanya, demikian pula dengan mama Hara.


"Ini Nia? Yang dulu pipinya tembem itu?" tanya sahabat papanya.


"Hehehe... Iya, om" balas Virginia sembari menjabat lembut tangan oom dan tante itu.


"Oh iya, anaknya nggak diajak, Mbak?" tanya sang mama kepada tante Marissa.


"Tadi mobil kami sempat bocor. Jadi masih di bawa ke bengkel sama anak kami." Perbincangannya twrus berlanjut, sembari menunggu sang anak untuk datang ke rumah keluarga Hara. Hara pun sudah bergabung dalam perbincangan dan canda tawa dari tamu itu.

__ADS_1


__ADS_2