
Tanpa terasa, hari sudah pagi. Setelah lelah semalaman menangis, tanpa terasa ia ketiduran dalam posisi meringkuk hingga pagi. Akibat dari menangis semalam, pagi ini ia hampir saja tak mampu membuka matanya. Hara berdiri di depan cermin di kamarnya dan memandang lekat wajahnya, terutama matanya. Segera ia berlari menuju kulkas, mengambil es batu yang dilapisi kain untuk mengompres matanya.
Setelah merasa matanya sedikit membaik, Hara pun bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Ketika ia keluar dari rumahnya, terdengar suara Renata memanggilnya.
“Ra!” panggil Renata dari dalam mobil miliknya yang berwarna putih, sembari melambaikan tangannya mengajak Hara untuk masuk mobil. Melihat tanda dari sahabatnya, Hara pun mengikuti intruksi itu, berjalan masuk ke dalam mobil. Regis dan Renata sedikit kaget melihat Hara yang mengenakan kacamatanya pagi ini, dan pandangan mereka terus tertuju ke arah sahabatnya.
“Kalian kenapa, sih?” tanya Hara sembari mengerutkan keningnya.
“Tumben lo pakai kacamata, Ra?” tanya Regis.
“Oh, ini. Mata gue perih kalau langsung kena sinar matahari, makanya gue pakai kacamata. Memangnya nggak cocok, ya?” tanya Hara sedikit kehilangan kepercayaandirinya.
“Cocok kok, Ra. Ya aneh aja, kan lo jarang tuh pakai kacamata kecuali di depan laptop atau buku. Itupun lo masih jarang juga pakai kacamata,” ucap Renata sembari membenahi posisi duduknya kembali menghadap ke depan. Merasa semuanya sudah siap, tanpa aba-aba, Regis pun segera menjalankan mobilnya menuju ke kampus.
Dalam perjalanan menuju kampus, tak lupa mereka menghampiri Syera dan berangkat bersama ke kampus.
Tak membutuhkan waktu lama, mobilnya sudah terparkir dengan rapi di area parkir kampus, dan mereka pun berjalan menuju kelas. Di antara mereka berempat, hanya Renata yang berbeda kelas karna Renata tak mengambil mata kuliah yang sama. Ketika sampai di kelas, tak lama kemudian jam kuliah hari dimulai dari pukul 8.20 sampai 10.00, dan dilanjut lagi pukul 12.00.
...---...
Tak terasa, jam kedua sudah selesai, namun Hara masih saja melamun sembari mencoret-coret buku catatannya, bahkan ia pun tak sadar bahwa jam kedua sudah usai.
“Ra,” ucap Syera sembari menyentuh bahu sahabatnya itu. Merasakan sentuhan lembut Syera, seketika membangunkan Hara dari lamunannya dan menatap sahabatnya yang duduk tepat di sampingnya.
“Ya?” mata Hara pun menyusuri ruangan yang rupanya sudah kosong, dan hanya tersisa mereka bertiga. Regis dan Syera masih terus menatap Hara.
“Oh, udah selesai? Kok gue nggak dengar dosen jelasin?” ucapnya mulai panik sembari menatap buku catatannya yang penuh dengan coretan-coretan tak jelas, bak balita yang sedang senang-senangnya bermain tinta. Melihat kelakuan tangannya sendiri, Hara pun shock, karna bukan hanya satu dua lembar ia jadikan pelampiasan, hampir 10 lembar kertas yang ia coret-coret. Seolah tak mampu berkata-kata, Syera dan Regis hanya bisa diam melihat sahabatnya yang terlihat sangat kalut akan masalah yang tengah dihadapi.
Merasa bahwa Regis, Syera dan Hara belum terlihat, Renata pun menghampiri mereka ke kelas. Tanpa mereka sadari, sudah hampir 15 menit Renata berdiri di ambang pintu kelas A, melihat Syera, Regis dan Hara sembari menyandarkan tubuhnya di pintu.
“Kalian mau sampai kapan di kelas terus? Keburu dikunci nanti sama pak satpam,” ucap Renata.
“Sejak kapan lo disitu?” tanya saudara kembarnya. Renata pun melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas A, dan duduk tepat di kursi depan Hara.
“Sejak 15 menit yang lalu, gue tunggu kalian di depan pintu, tapi kalian masih sibuk liatin kertas yang penuh coretan ini. Gue berasa lagi momong adek-adek yang corat-coret kertas, tau nggak?” mendengar ucapan Renata, mereka pun tertawa. Renata memang terkenal blak-blakan, dan karna memiliki kembaran laki-laki, membuat sikapnya juga terkadang seperti laki-laki dibanding Syera dan Hara.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka pun meninggalkan kelas menuju warung tenda yang berada di seberang gedung kampus mereka. Renata, Regis, dan Syera sudah duduk manis dan memesan makanan, namun Hara masih saja berdiri di luar tenda.
“Teman-teman, kayaknya gue nggak bisa makan bareng kalian, deh,” ucapnya.
“Ada apa memang, Ra?” tanya Regis. mendengar pertanyaan kembarannya, Renata pun mencubit lengan Regis karna ia terlalu tidak peka.
“Yaudah, Ra. Lo duluan aja,” ucap Renata.
“Kalau ada apa-apa, hubungi kami ya, Ra,” ucap Syera melanjutkan perkataan Renata. Mendengar persetujuan dari sahabat-sahabatnya, Hara segera menuju kafe tempatnya dan Mario janjian siang ini.
Terlihat jelas dari luar kafe, sosok laki-laki yang sangat sia kenal dari arah jendela kaca yang transparan. Seolah sedang mengumpulkan keberaniannya Hara menunda beberapa waktu untuk masuk ke kafe, menarik nafas panjang dan menyiapkan hatinya.
‘Ra, lo harus bisa. Lo harus kuat, demi papa, dan demi keluarga lo’ ucapnya dalam hati, memberikan semangat pada diri sendiri. Ketika Hara hendak melangkah ke arah kafe, datang seorang anak perempuan yang kira-kira berusia 11 tahun.
“Kakak, ini,” ucapnya sembari memberikan coklat dan minuman kesukaannya. Hara pun terkejut melihat adik kecil yang entah datangnya dari mana, yang berdiri dan memberikan sesuatu padanya.
“Makasih banyak ya, dik,” ucap Hara sembari sedikit menundukkan badannya mengimbangi tinggi badan anak perempuan itu. Ketika mendengar ucapan terima kasih dari Hara, anak itu pun pergi meninggalkan Hara. Hara pun segera berjalan menuju kafe itu.
“Udah nunggu lama?” tanya Hara sembari menarik kursi untuknya duduk di depan Mario. Terlihat jelas senyum bahagia di sudut bibir lelaki tampan yang kini tengah berhadapan dengannya.
“Seperti biasa aja,” jawab Hara, Mario pun menghampiri meja pemesan makanan dan memesan makan siang mereka. Terdengar alunan lagu dari boyband kesukaan Hara, seketika Hara mengarahkan matanya ke arah speaker sembari tersenyum. Sembari menunggu Mario, Hara dengan asik menikmati lagu itu sembari menyanyikan sedikit lirik dari lagu itu.
...Baby baby geudaeneun...
...Café latte hyangboda...
...Pogeunhaetdeon geu neukkim...
...Gieokhago innayo...
...Baby baby tonight...
...1,2,3,4...
Seketika bibirnya berhenti menyanyikan lirik selanjutnya, teringat arti dari lirik selanjutnya yang mengatakan tentang keputusan untuk berpisah setelah jani dan angan-angan bersama tentang masa depan. Bahkan lagu pun seolah berpihak pada keputusan untuk berpisah. Melihat Mario yang telah kembali, Hara memberikan senyumnya, dengan sedikit memaksakan diri.
__ADS_1
Terlihat sedikit senyuman yang kendur dari bibir Mario, namun ia segera mengkondisikan dirinya dan kembali bersikap seolah semua baik-baik saja. Pesanan pun datang. Hara dan Mario sangat menikmati waktu makan siang mereka sembari bercanda, bercerita apapu itu selama mereka tak bertemu.
“Ra, mau nonton nggak? Katanya ada film baru adaptasi dari novel kesukaanmu, Silent Heart,” ucap Mario sembari menunjukkan tiket yang sudah ia beli. Melihat tingkah kekasihnya, Hara pun tersenyum.
“Wah, bahkan kamu udah beli tiketnya. Kalau aku nggak mau, gimana?” ucap Hara menggoda Mario.
“Tingkat keyakinanku berada pada titik 100%, Ra. Aku tau kamu sangat menyukai novel itu,” jelasnya. Ya, Mario memang sangat mengenal kekasihnya, apa yang dilakukan, disukai dan tidak. Ya, sangat mengenal, sebelum masalah yang membuat mereka berdua saling menghindar datang. Tanpa menunggu lama, Hara dan Mario menuju bioskop yang berada tepat diseberang kafe.
Matahari sudah berubah menjadi bulan. Selama 2 jam 30 menit Hara menikmati film itu. Hara sangat hafal dengan alur cerita novel itu, bahkan ia tak segan untuk menangis ketika membacanya. Ketika menonton filmnya pun, air matanya kembali menetes, rasa sesak yang dirasakan oleh Quini seolah ia juga merasakan. Mereka pun berjalan ke luar bioskop, namun rasa sesak dalam dadanya masih sangat terasa. Kini mereka tengah duduk di taman, menikmati gemerlap bintang dan bisingnya suara kendaraan yang berlalu lalang.
“Mar,” ucap Hara.
“Stop, Ra. Jangan dilanjutkan. Biarkan aku menikmati hari terakhir kita sebagai sepasang kekasih dengan indah. Aku tau kenapa kamu tiba-tiba mau kita ketemu, bahkan menikmati kencan terakhir kita,” ucap Mario. Rasa sesak dalam dadanya semakin kuat. Hara terkejut karena rupanya sejak awal Mario mengerti akan maksudnya. Butiran bening itu kembali mengalir di pipi Hara secara perlahan.
“Maafkan aku, Mario. Aku nggak bisa mempertahankan hubungan kita,” ucapnya sembari menangis. Mendengar ucapan Hara, Mario memandang dengan lekat kekasihnya, menghapus air matanya dan berusaha tegar dengan keputusan Hara.
“Aku harap, kamu bisa mencintai kakakku setelah kalian menikah,” lanjut Hara yang seketika membuat Mario membelalakkan matanya.
“Ra?”
“Aku harap kalian bisa bahagia.” Mendengar kalimat itu, Mario terus menggelengkan kepalanya.
“Nggak, Ra. Kalau keputusan kamu untuk putus karna perjodohanku, aku mungkin bisa mengerti keadaan kita sekarang. Tapi kalau kamu minta aku buat mencintai wanita lain selain kamu, aku nggak bisa, Ra,” ucap Mario.
“Kenapa, Mario?”
“Karna Cuma kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Dan sampai kapan pun nggak akan ada wanita lain yang bisa gantiin kamu, Ra,” ucapnya dengan tegas.
“Kalau itu alasan kamu, aku bisa terima. Tapi satu hal yang kamu nggak boleh tawar lagi, aku mohon kamu jaga kakakku, jangan sekali-kali kamu sakiti dia. Karna kalau kamu sakiti dia, itu sama artinya kamu sakiti aku,” ucap Hara.
“Makasih Ra, karna kamu udah mau bertahan hingga detik ini. I love you, my sweety,” ucapnya sembari memeluk kekasihnya. ‘Maafkan aku, Ra, karna aku nggak bisa pertahankan hubungan kita’ ucap Mario dalam hati.
...Terkadang melepaskan adalah keputusan yang lebih baik daripada mempertahankan. Sesakit dan seberat apapun hati kedua insan yang berpisah ketika melepaskan, setidaknya hal itu tidak menyakiti hati orang-orang tercinta...
...***...
__ADS_1