Perjalanan Cinta Hara

Perjalanan Cinta Hara
Hancur 1


__ADS_3

Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu.


...16.45...


Sore ini, Hara baru saja keluar dari kelas sorenya.


‘Kalau gue pulang sekarang, mungkin bisa datang barengan sama mama, papa, dan kakak. Tapi, kalau gue pulang dalam keadaan hati begini, nanti bisa bikin hubungan gue sama keluarga gue makin hancur,’ ucap Hara dalam hati yang sedang sibuk memperhitungkan akan pulang atau tidak.


Ketika Hara sedang berpikir dengan serius, tiba-tiba ada seseorang yang merangkul pundaknya.


“Mikir apaan, sih? Serius amat dari tadi dipanggil sampai nggak denger gitu?” tanya Renata disusul oleh Regis dan Syera.


“Duh, Ta. Bisa nggak si, nggak ngagetin sehari aja?” ucap Hara yang sedikit kesal dengan Renata.


“Ya habis, lo mikir apaan sih sampai kami panggil tadi nggak dengerin, Ra?”


“Gue lagi mikir, mending pulang sekarang atau gue langsung ke restoran tempat makan malam keluarga gue, ya? Menurut kalian gimana?” tak percaya dengan ucapan Hara yang tampak serius, Regis, Syera, dan Renata hanya bisa menatap Hara dengan tatapan tak percaya.


“Ra, lo kenapa?” ucap Renata yang belum tau tentang masalah Hara.


“Panjang ceritanya, Ta,” balas Regis sembari menggandeng tangan Renata dan Hara dan mengajak mereka untuk mampir dulu di kafe biasa tempat mereka berkumpul.


Sesampainya di kafe, Regis segera memesankan makanan dan minuman yang biasa mereka pesan, sedangkan Renata dan Syera segera memilih tempat di mana mereka biasa duduk.


“Em, Gis, gue nggak pake makanan ya. Soalnya gue mau makan bareng keluarga gue,” ucap Hara kepada Regis.


“Eh, Hara. Mau kopi biasanya?” ucap El yang ternyata sedang menyiapkan pesanan orang lain di balik mesin kopi. Merasa asing dengan suasana itu, Regis mengerutkan dahinya mengisyaratkan ada apa di antara Hara dan sang Barista, El.


“Ah, dia kenalan gue. Karna beberapa hari lalu gue datang sendiri ke sini tanpa kalian,” jelas Hara yang mengetahui apa yang ada di benak sahabatnya itu.


“Ah.. Jadi baru sekali lo dateng sendiri langsung diajakn kenalan sama dia?” menunjuk ke arah El.

__ADS_1


“Nama El. El. Bukan dia. Udah deh nggak usah ribet, ayo duduk,” ucap Hara, “oh iya, kopinya seperti biasa. Makasih, El,” lanjutnya kepada El yang dibalas dengan senyuman manis dari wajah blasterannya itu.


Hara menarik Regis ke tempat yang telah dipilih oleh Syera dan Renata, sementara Regis masih terus cerewet dan mempertanyakan pertemuan Hara dengan El.


“Regis! bukan itu yang penting sekarang. Gue belum tau ada apa sebenarnya selama beberapa hari gue nggak di sini,” bentak adiknya yang langsung membuat mulut Regis menutup dan tak berkata sepatah kata pun.


Tanpa basa-basi Hara menceritakan kepada Renata tentang masalahnya dengan Mario, ditambah lagi semenjak masalah itu, hubungan Hara dengan keluarganya, dan hubungan Hara dengan Mario menjadi memburuk. Renata paham dengan situasi yang sedang dialami sahabatnya itu. Sejenak ia terdiam dan berpikir bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini tanpa ada yang merasa dirugikan.


“Ra, sebenarnya kalau kalian mau diskusikan masalah ini bisa aja,” Renata mulai memberikan pendapatnya.


“Di sini yang dijodohkan adalah kak Nia dan Mario, sedangkan lo pacaran sama Mario selama 4 tahun. Kenapa perjodohan kak Nia dan Mario nggak diganti aja, jadi lo dan Mario? Toh, yang dijodohkan masih tetap sama, yaitu anak orang tua lo. Mau itu kak Nia atau lo, bukankah sama?” sejenak Hara berdiam memikirkan perkataan Renata yang sempat tak terpikirkan oleh Hara karena kalut dengan masalahnya.


“Entahlah, Ta. Sebenarnya semenjak ada masalah ini, gue nggak benar-benar memikirkan jalan keluarnya, karna gue udah pasrah. Gue tau sifat papa gue. Nggak akan mudah membuat dia merubah pendapatnya. Tapi, makasih ya buat kalian yang selalu ada buat gue. Nanti gue coba buat omongin ini sama orang tua gue,” ucap Hara sedikit melega karena mendapatkan sedikit pencerahan.


Tak lama kemudian, pesanan mereka sampai. Regis, Renata, dan Syera berusaha menghibur Hara dengan candaan receh mereka.


Hara mengangkat gelas kopinya dan mendapati secarik kertas yang bertuliskan ‘semangat mbak kopi’ dengan emote senyum. Ya, dari siapa lagi kalau bukan dari sang barista tampan dan memiliki muka blasteran yang membuat daya tariknya semakin besar. Membaca tulisan itu, bibir Hara menyunggingkan senyuman kecil.


“Guys, gue pergi dulu, ya. Kayaknya orang tua gue udah sampai di restoran deh,” pamit Hara kepada teman-temannya.


“Ke restoran mana, Ra? Biar kami antar sekalian pulang?” ucap Regis, yang secara langsung menunjukkan sisi jantannya sebagai laki-laki.


“Lo bisa juga ya bersikap kayak laki-laki yang sebenarnya, Gis,” sindir Syera.


“Jadi maksud lo, selama ini gue bukan laki-laki sungguhan, gitu?” gelak tawa kembali terdengar dari mereka.


“Nggak perlu. Dekat kok, di restoran keluarga gue yang ada di dekat sini. Yaudah, gue jalan dulu, ya,” ucap Hara meninggalkan sahabat-sahabatnya. Tak lupa, ia menghampiri El yang masih berada di belakang mesin kopi dan memberikan secarik kertas balasan yang bertuliskan ‘makasih. Mas barista juga semangat kerjanya’. Membaca tulisan itu, El tersenyum lebar. Senyuman yng jarang ditemui oleh orang-orang, dan jarang diberikan kepada orang sembarangan. Ia masih menatap punggung wanita itu yang perlahan mulai menjauh.


Tak lama kemudian, Hara sampai di restoran yang dikelola oleh keluarganya dan segera menuru ruang VIP. Ketika Hara membuka pintu, betapa terkejutnya Hara karna mendapati suatu kenyataan bahwa makan malam yang ia pikir adalah makan malam antara Hara dan keluarganya, kenyataannya adalah makan malam antara dua keluarga yang sedang melanjutkan pembicaraan mengenai perjodohan.


Hara masih berdiri di depan pintu, ia bingung harus masuk atau tidak. Akan tetapi, Hara memilih untuk masuk, mengingat sopan santun yang telah diajarjan orang tuanya sejak Hara kecil. Hara kemudian duduk di satu-satunya kursi yang tersisa, yang berada di antara Mario dan Nia.

__ADS_1


“Em, Nia, lebih baik kamu bertukan tempat duduk dengan adikmu. Karna nggak baik kan, kalau adikmu ada di antara kamu dan Mario,” ucap mama Mario yang disambut dengan wajah tak nyaman dari Hara dan senyuman dinginnya yang diberikan kepada semua orang yang ada di ruangan itu.


Untuk sejenak, Hara masih menerka-nerka apakah keputusan yang akan diberikan mengenai perjodohan itu. Namun entah mengapa, keyakinannya akan berlangsungnya perjodohan itu sangat besar daripada pembatalan perjodohan itu.


“Ya. Jadi, saya dan Herdian sudah memutuskan tentang perjodohan Mario dan Nia. Namanya juga perjodohan, mungkin sebagian besar kalian nggak punya perasaan satu sama lain, tapi nanti ketika kalian menikah, perasaan cinta itu juga akan hadir dengan sendirinya,” ucap om Haris menjelaskan.


“Maksud, Om?”


“Maksud om, apa?”


“Maksudnya apa, pa?” ucap Hara, Mario dan Nia yang hapir bersamaan.


“Wah, tumben kalian bisa kompak begini. Jadi, maksudnya adalah perjodohan antara Mario dan Nia sudah ditetapkan, bahkan tanggal pernikahan kalian juga sudah diputuskan. 1 bulan dari sekarang, pernikahan kalian akan dilangsungkan,” jelas om Haris yang membuat Hara semakin hancur.


“Nggak bisa dong, pa. Mario mencintai Hara, bukan Nia. Dan Mario Cuma mau sama Hara, bukan Nia,” protes Mario kepada papanya.


“Apa?” ucap papa dan mama Mario yang ternyata masih tidak tau masalah ini.


“Om tau, Mario. Tapi perjodohan ini adalah antara kamu dan Nia, dan om nggak bisa dengan mudah mengubah Nia menjadi Hara,” jelas Herdian.


“Jadi, Hara diajak makan malam Cuma disuruh dengar pengumuman pernikahan kak Nia dengan pacar Hara sendiri?” ucap Hara dengan nada dingin, mata yang berusaha menahan butiran bening itu kembali terlihat. Rasa sesak di dada Hara kembali hadir.


“Selamat, Kak Nia, Mario. Hara udah selesai makan. Hara mau pulang dulu, capek,” ucap Hara yang segera ingin meninggalkan tempat dengan suasana itu. Suasana yang untuk kesekian kalinya membuat perasaannya hancur berkeping-keping. Hara berlari meninggalkan restoran itu yang disambut dengan lebatnya hujan di luar gedung.


Hara menangis tersedu-sedu di tengah derasnya hujan yang mengguyur kota malam itu, meluapkan segala rasa sakit yang ia rasakan.


Tanpa sadar, tubuh yang sedari tadi merasakan derasnya tetesan hujan, perlahan hujan itu tak terasa jatuh di tubuhnya. Hara mendongakkan kepalanya, menatap dengan samar karna tertutup air mata, tampak sosok laki-laki yang sedang berdiri sembari memegang sebuah payung berwarna bening untuk melindungi Hara dari hujan.


...‘Seperti penolong baginya, pria itu tanpa sadar selalu hadir ketika Hara membutuhkan seseorang. Ya. Seseorang itu adalah sang barista, El’...


...***...

__ADS_1


__ADS_2