
Makan malam sudah dimulai, karena merasa terlalu lama bila menunggu putra semata wayang pak Haris datang.
...Di sisi luar rumah keluarga Hara...
'Benar, kok. Di sini alamat rumah yang ditunjukkan mama' gumam Mario yang hanya didengar oleh dirinya sendiri. Dengan bingung, Mario melangkahkan kakinya memasuki rumah yang tak lagi asing baginya.
Ketika semua orang sedang sibuk berbincang, seorang pemuda, bertubuh tinggi dan kekar memasuki ruang makan keluarga Hara.
Melihat sosok itu, Hara sangat terkejut, karena tak ada pemberitahuan apapun dari sang kekasih bahwa ia akan datang ke rumahnya. Terlebih di saat rumahnya sedang ada tamu.
Matanya tak berhenti memberikan isyarat tanda tanya dari sang kekasih yang kini tengah berdiri di tengah 2 keluarga yang tengah melepas rindu antar sesama sahabat lama.
"Selamat malam, om, tante, semuanya" ucap Mario sopan kepada keluarga yang tak lagi asing baginya.
"Loh, Mario? Kok?" bukan hanya Hara, papa, mama, dan Virginia pun ikut bingung melihatnya. Mata mereka mengarak ke arah Hara dengan isyarat 'ada apa' dari papa, mama dan kakaknya. Namun, percuma saja mereka bertanya, karna Hara sendiri pun tak tau.
"Loh, kalian sudah kenal sama Mario?" tanya papa Mario, dan Mario pun dipersilakan duduk oleh papanya sendiri.
"Sudah, dong. Mario sering ke sini" jelas papa Hara kepada sahabatnya.
"Dia ini Rio, anakku satu-satunya" jelas pak Haris membanggakan sang anak.
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut melihat kenyataan itu.
"Oh, jadi dia. Bagus dong kalau begitu. Bukannya Virginia dan Mario selalu sekolah di sekolah yang sama?" tanya papa Hara meyakinkan.
"Benar, om. Kami sebenarnya juga sudah kenal sejak lama."
"Wah. Walaupun om tau kamu, tapi ini obrolan pertama kita." balas papa Hara.
"Jadi gimana, Her, tentang rencana kita?" tanya papa Mario melanjutkan percakapan mereka di telpon beberapa waktu lalu.
"Kalau gitu, nggak ada masalah dong, harusnya." Gelak tawa dari 2 orang lelaki paruh baya itu memenuhi isi ruang makan malam ini.
__ADS_1
Merasa ada hal yang tak beres, Hara memilih untuk tetap diam. Ya. Tidak seperti dirinya yang biasanya. Mengingat karakter Hara, biasanya ketika melihat hal yang tak beres, ia akan segera mengatakannya dengan terang-terangan. Namun, entah mengapa, malam ini seolah ada bisikan yang mengatakan padanya untuk tetap diam sampai akhir pertemuan ini.
"Kalau gitu, mending kamu aja deh yang jelaskan" ucap papa Hara kepada pak Haris.
"Nggak apa-apa, nih?" tanyanya kembali meyakinkan.
"Iya. Kan memang seharusnya begitu"
"Baiklah. Karna sudah mendapat persetujuan dari pemilik rumah, jadi om akan umumkan maksud kedatangan keluarga kami malam ini" jelas om Haris, dan Hara masih sibuk menghabiskan makan malamnya dan meneguk air untuk menghilangkan dahaganya.
"Jadi om punya pengumuman bahagia buat kita semua. Sebenarnya, khususnya saya dan Herdian sudah sejak lama punya rencana untuk menjodohkan Rio dengan Nia."
...Prraang!!!...
Gelas yang tengah Hara genggam terjatuh dari tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca sembari menatap kosong semua orang yang ada dalam ruangan itu.
"Maksudnya apa, om?" tanya Hara yang sedari tadi memilih untuk diam, meyakinkan kembali atas apa yang ia dengar. Rupanya, tak hanya Hara yang terkejut mendengar pernyataan dari om Haris, melainkan Rosita (mama Hara), Virginia, hingga Mario pun terkejut.
"Jadi begini, Ra...."
"Jadi sebenarnya sejak Mario dan Nia berusia 5th, om Haris dan papa kamu sudah membuat keputusan untuk menjodohkan Nia dan Mario ketika mereka dewasa" jelas om Haris, dan kali ini lebih jelas dari sebelumnya.
Ucapan yang awalnya ia harap hanya karna salah dengar, namun nyatanya ucapan itulah kenyataannya.
"Nggak masuk akal" secara spontan kalimat itu keluar dengab sendirinya dari bibir mungil Hara. Matanya berkaca-kaca menahan isak tangis semenjak mendengar kabar itu. Batasnya kian lama kian sesak.
Tak banyak yang memperhatikan sikap Hara, ia berusaha untuk tetap menahan air matanya yang sebentar lagi mengalir ke pipi mulusnya.
Mata Mario tak berhenti menatap kekasihnya yang terlihat sangat hancur, demikian pula dengan Virginia dan mama Hara.
"Hah! Nggak masuk akal! Jadi ini yang disebut berita bahagia tadi, om? Berita perjodohan yang mau nggak mau harus dilakukan di antara 2 orang yang nggak punya perasaan?" Hara yang sedari tadi berusaha menahan diri, akhirnya emosinya tak tertahankan lagi. Ia pun mengungkapkan kalimat yang bisa dinilai sebagai kalimat yang kurang sopan kepada orang tua.
Mendengar peekataan itu, mamanya yang dusuk di samping Hara menggenggam erat kemari putri bungsunya, bwrharap agar emosi putrinya dapat mereda.
__ADS_1
"Hara! Jaga ucapan kamu!" bentak sang papa. Untuk pertama kalinya Hara dibentak oleh papanya, yang selama ini berperilaku hangat dan baik padanya. Ya. Dibentak di depan keluarga om Haris.
Mendengar itu, tangisannya pun terpecah. Hara tak lagi mampu menahan air matanya yang sedari tadi ingin keluar.
"Hara pikir, hari ini Hara akan bahagia. Tapi nyatanya, kado ulang tahun yang seharusnya orang tua Hara kasih ternyata begini" Hara terus terisak. "Bahkan demi menyiapkan acara nggak masuk akal ini, mama, papa, dan kakak lupa sama ulang tahunku? Makasih semuanya atas kejutannya malam ini. Hara permisi." ucapnya sembati meninggalkan euangan yang peruh dengan rasa sesak di dadanya.
Melihat kelakuan Hara, orang tua Mario sempat dibuat bingung, dan akhirnya Mario ikut pergi menyusul Hara.
"Mario! Kamu mau kemana? Kita belum selesai bicara" ucap papanya.
"Maaf, pa. Saat ini Mario harus mendahulukan Hara. Mario permisi" ucapnya sembari pergi meninggalkan ruangan itu dan menyusul kekasihnya yang tengah kalut.
Bukan tak tau hubungan yang dimiliki Hara dan Mario, namun papanya tetap ingin melanjutkan hal ini.
Hara berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya. Merasa tak tau akan pergi ke arah mana, Hara hanya bisa tertunduk lemas mengingay percakapan yang baru saja ia dengar.
Tangisannya kian lama kian mengeras, yang memudahkan Mario untuk menemukan keberadaan kekasihnya.
Seketika, hujan turun dengan lebatnya, membuat air mata Hara tak lagi nampak di pipinya karna bercampur dengan air hujan yang terus mengalir membasahi tubuhnya.
Melihat Hara yang tengah terduduk lemas di tengah derasnya hujan, Mario menghampiri Hara, memeluknya dengan perasaan yang juga hancur, dengan satu harapan, yaitu bahwa ia bisa kembali memberikan kehangatan bagi tubuh Hara yang tersiram hujan malam itu.
"Maafkan aku, sayang. Aku nggak tau kalau akhirnya akan begini. Sekarang, kita cari duku solusi yang tepat untuk masalah ini, ok?" ucapnya berusaha memenangkan kekasihnya itu.
"Bagaimana caranya? Cara apa yang tepat? Memang masih ada cara untuk membatalkan perjodohan kalian?"
"Ada. Pasti akan ada caranya, Ra. Tapi aku mohon, sekarang kita masuk dulu ke rumah. Di sini hujan, dan aku nggak mau kalau kamu sampai sakit cuna karna masalah ini."
"Cuma kamu bilang, Mar? Cuma?! Apa segitu keselnya masalah ini buat kamu, sampai dengan gampangnya kamu bilang gitu?"
"Enggak, Ra. Kamu salah. Aku juga sama terpukulnya dengan hal ini. Tapi aku mohon, sekali ini aja kamu dengerin aku. Kita masuk rumah dulu, biar kamu nggal sakit" jelas Mario. Setelah perdebatan itu, akhirnya Hara mengikuti perkataan kekasihnya dan kembali masuk ke rumah dengan keadaan baju basah, yang rupanya menyita perhatian orang-orang yang sempat dilahirkan dengan ucapan Hara terakhir kali tadi.
...---...
__ADS_1
...Malam ini, untuk pertama kalinya, kedua orang tuanya tak mengingat hari ulang tahunnya. Malam ini, untuk pertama kalinya Hara dibentak dengan keras di depan orang yang baru oertama kali ia temui, terlebih itu adalah orang tua Mario. Bahkan secara tidak sengaja, inilah kado ulang tahunnya yang ke-21....
...***...