
Pagi pun tiba, dan Hara masih meringkuk di atas kasurnya yang empuk dan nyaman itu. Perlahan, membuka matanya yang terasa berat itu. Bagian matanya terasa perih terkena sinar matahari yang dengan leluasa memasuki kamarnya.
Ia duduk bersila di atas kasurnya, melamun, memikirkan tentang kejadian semalam. Antara kenyataan dan mimpi, manakah yang benar?
‘Sebenarnya kejadian semalam itu nyata atau hanya mimpi? Kalau nyata, kenapa rasanya seperti mimpi? Kalau mimpi (menoleh ke arah cermin) kenapa mataku sebengap ini?’
Tanpa ia sadari, air matanya kembali mengalir di pipinya, tatapannya menjadi kosong.
‘Entahlah, apakah aku harus mempercayai mimpi itu sebagai kenyataan yang pahit, atau kejadian itu memang kenyataan yang aku sendiri berharap bahwa itu hanya mimpi’
Hara meraih Hp nya yang berada di bufet samping kasurnya. Tak seperti biasanya, melihat tak ada satu pesan pun yang muncul, entah mengapa Hara menjadi semakin yakin bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi belaka.
Hara pun beranjak dari kasurnya, berjalan menuju balkon rumahnya, menatap lekat rumah Regis, dan lagi, air matanya keluar.
“Ra…” suara lembut Virginia membangunkannya dari lamunannya, menghapus air matanya dan membalikkan badannya sembari tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kakak. Udah bangun?” mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir mungil sang adik, seolah ada sesuatu yang perlahan menyayat hati Virginia. Virginia hanya membalas dengan senyuman.
“Udah dong. Kamu ngapain? Tumben jam segini udah di sini?”
Mendengar pertanyaan sang kakak, Hara hanya bisa menghembuskan nafasnya yang semakin terasa berat. Mata tak lagi mampu menahan butiran bening yang seolah meronta, meminta keluar dari kelopak matanya. Dan, Hara pun akhirnya menangis lagi, meluapkan sesaknya dalam pelukan sang kakak.
Tanpa di sadari, sembari memeluk adiknya, air mata Virginia pun perlahan mulai keluar, namun ia sendiri berusaha menyembunyikan hal itu dari sang adik.
‘Maafkan kakak, yang hanya bisa diam tanpa membantumu semalam, Ra. Maafkan kakak. Bagaimana pun caranya, kakak akan mencari cara supaya perjodohan itu dibatalkan’ ucapnya dalam hati.
“Kak…” panggil Hara dengan suara yang sendu.
“Ya, Ra?”
“Hara minta maaf untuk kejadian semalam.” Serasa ada petir yang menyambar di siang bolong, permintaan maaf dari sang adik lebih membuat hati Virginia semakin tersayat.
“Buat apa, Ra? Kamu nggak salah, jadi jangan minta maaf ke kakak, atau kepada siapa pun itu. Mengerti?”
“Tapi karena Hara, acara makan malam yang seharusnya bahagia jadi hancur, kak”
“Nggak. Bukan karna kamu. Tapi karna perjodohan yang nggak masuk akal itu, Ra. Kakak mohon, jangan minta maaf ke kakak, atau ke siapapun itu. Karna kamu nggak salah” ucap sang kakak yang berusaha menenangkan hati sang adik.
__ADS_1
“Itu nggak mungkin, kak. Kakak tau kan, kalau papa udah bilang ‘A’, seterusnya juga akan tetap ‘A’” ucap Hara yang tak mau terlalu banyak berharap dengan ucapan penenang dari sang kakak.
“Nggak, Ra. Bisa nggak bisa, kakak harus tetap coba. Jadi kakak mohon, kamu jangan terlalu terpuruk dulu, ya. Kita cari jalan keluar sama-sama” setidaknya, ucapan sang kakak mampu menenangkan hatinya untuk sata ini.
Entah kepada siapa Hara dapat menceritakan masalah ini. Bahkan Regis sekali pun, Hara tak yakin bahwa Regis mampu menolongnya keluar dari masalah ini.
Akhir pekan yang ia pikir akan menjadi akhir pekan yang menyenangkan, nyatanya, akhir pekan di usianya yang ke-21 tahun, menjadi akhir pekan yang menyakitkan sepanjang hidupnya.
...---...
Pagi ini, seperti biasa, Hara telah siap pergi ke kampusnya. Terlihat di ruang makan, sudah ada mama, papa, dan kakaknya menunggunya untuk sarapan.
“Ra, ayo makan dulu” ucap sang mama.
“Ngga usah, ma. Rara nggak lapar. Rara berangkat dulu, ma, pa, kakak” ucapnya sembari melangkah perlahan meningalkan ruangan yang penuh dengan kenangan pahit itu.
“Sudah 2 hari Rara jadi pendiam” ucap sang mama yang berusaha menahan air matanya melihat putri bungsunya terlihat sangat berubah. Virginia hanya bisa diam tanpa kata.
“Biarkan saja. Nanti juga dia pulih sendiri seperti biasa. Selama ini kita terlalu memanjakan dia, sampai dia lupa jati dirinya yang sebenarnya” ucap sang papa yang mulai kesal dengan perubahan sikap Hara. Tak mengerti dengan respon sang papa, Virginia berusaha dengan keras mencerna ucapan papanya.
“Maksud papa apa? Lupa jati dirinya? Hara?” Virginia berusaha mendapatkan jawaban dari perkataan papanya itu.
“Ah.. Baiklah. Ma, Pa, Nia kerja dulu, ya” pamitnya.
“Iya. Hati-hati di jalan” ucap sang mama, namun papanya tetap terdiam tanpa kata.
“Papa bisa nggak si, nggak usah ungkit itu lagi?” ucap Rosita kepada suaminya. Merasa kesal, ia pun meninggalkan ruang makan, meninggalkan suaminya seorang diri.
...---...
...Di kampus Hara...
Hara tengah duduk sendiri di atap gedung kampus, tempat biasa ia menghabiskan waktu istirahatnya bersama Regis dan Syera. Dari atas gedung, terlihat dengan jelas orang yang sedang berlalu lalang, baik di halaman kampus, maupun di jalan depan kampusnya.
Menikmati hembusan angin yang terasa semakin lama semakin kencang, membuatnya tersenyum sendiri sembari mendengarkan lagu Kpop yang berjudul Hug Me.
Samar-samar terdengar suara petikan gitar yang merdu dari arah belakang. Sangat dekat suara itu, hingga semakin lama, suaranya semakin terdengar dengan jelas. Suara petikan dari lagu yang terasa sangat akrab di telinganya, mengikuti alunan nada lagu yang sedang ia dengarkan. Tanpa memalingkan badannya, Hara tertunduk lemas, mematikan lagu yang sedang ia putar dan memfokuskan pendengarannya pada petikan gitar yang diiringi dengan suara merdu seorang pria yang sedang memainkan lagu yang sedang ia dengarkan itu.
__ADS_1
Tanpa ia sadari, seiring dengan alunan petikan itu, air matanya pun kembali berjatuhan, membuat dadanya semakin sesak. Bibirnya pun ikut menyanyikan sebagian lirik dari lagu itu.
...‘geunyang nal anajweo nareul jom anajweo...
...amu mal malgoseo naege dallyeowajweo...
...werobgo bulanhagiman han mameuro...
...ireohke neol gidarigo issjanha...
...nan neoreul saranghae nan neoreul saranghae...
...gin chimmok sokeseo sori nae wechilge...
...eoriseokgo nayakhagiman han nae maeumeul’...
Menyadari ada orang lain yang menyanyikan lagu itu, lelaki yang sedari tadi sibuk memainkan gitarnya pun membalikkan badannya, menatap lekat wanita yang sedang bernyanyi sembari mengangis tersedu-sedu. Laki-laki itu hanya bisa menemani Hara tanpa mengatakan sepatah kata, sembari terus memetik gitarnya untuk mengiringi nyanyian Hara.
Entah siapapun pria itu, tanpa disadari ia membantu Hara melepaskan sesak dan kepenatannya atas masalah yang belum tau bagaimana cara penyelesaiannya.
...11.30...
Tanpa disadari, waktu cepat berlalu, hingga Hara pun melewatkan kelasnya pagi ini. Kini hanya terdengar nafas yang berat dengan isakan yang sudah tak mampu mengeluarkan air mata lagi. Samar-samar, terlihat tangan yang memberikan sapu tangan untuk menghapus air matanya.
“Akhirnya gue bisa lihat wajah lo, yang dari tadi sibuk nangis” ucap laki-laki itu sembari memberikan sapu tangan kepada Hara.
“Lo siapa?” tanyanya dengan sedikit bingung.
“Huft (menghela nafas). Gue orang yang sejak 2 jam lalu mainin gutar gue karna ada cewek yang nangis di atap sendirian” ucapnya menatap lekat Hara.
“Ah, ternyata lo yang… Apa? 2 jam?” tanyanya tak percaya yang hanya dibalas dengan anggukan kepala dari laki-laki itu.
“Gue nggak tau lo ada masalah apa, dan gue juga nggak mau jadi orang yang sok care sama orang yang baru ditemui. Tapi, gue cuma mau kasih tau ke lo. Seberat apapun masalah lo, jangan sampai lo korbankan diri lo sendiri, sampai lo nangis berkali-kali. Kali ini, mata lo yang bengap, nanti apa lagi? Dan kebetulan jari gue juga lumayan sakit karna mainin gitar. Jadi, mending lo berhenti nangis sekarang.” Laki-laki itu segera beranjak meninggalkan Hara, ia meninggalkan kacamata hitam untuk menutupi mata Hara yang bengap.
"Eh, tunggu. Makas... " belum sempat ia mengucapkan kata itu, laki-laki itu sudah menghilang dari pandangannya.
...‘Siapapun lo, makasih banget buat hiburannya’...
__ADS_1
...***...