
...16.30...
Tak terasa, hari semakin sore. Hara dan sahabat-sahabatnya masih stay di kafe tersebut sembari membahas masalah perjodohan Mario dan Nia.
“Jadi, lo masih mau pikirin gimana jadinya nanti, Ra?” tanya Regis.
“Menurut gue sih, ada benarnya kalau lo pikirin dulu, Ra. Tapi ingat, semakin lama lo mengulur waktu, semakin berat juga lo buat terima kenyataan,” ucap Syera.
“Ya, apapun pilihan lo, Ra, kami tetep dukung lo. Dan kalau lo butuh bantuan, kapan pun itu kami siap bantu, Ra,” tambah Renata yang semakin membuat Hara ingin meneteskan air matanya.
“Gue udah punya tekad malam ini gue pikirkan, dan besok gue harus udah kasih keputusan bagaimana jadinya. Karna gue juga gak mau kecewain orang tua gue, dan gue rasa kakak gue akan ikut aja keputusan gue,” ucap Hara yang sembari berusaha membuat sahabat-sahabatnya merasa lebih lega.
Tak lama kemudian, mereka pun memutuskan untuk pulang dari kafe tersebut. Tak membutuhkan waktu lama, Hara dan Renata sedang asik menyusuri jalanan kompleks rumah mereka sembari bercerita. Sedangkan Regis sedang mengantar Syera pulang, karna rumah Syera lumayan jauh dari kafe tempat mereka berkumpul.
“Ra,” ucap Renata sembari menundukkan kepalanya.
“Ya, Ta? Gue nggak apa kok, jadi jangan ragu mau tanya apapun sama gue,” ucap Hara dengan senyuman getirnya.
“Ck! Ra, menurut gue mending lo nggak usah senyum, deh. Ngeri tau senyuman lo,” ucap Renata yang merasa sedikit takut dengan senyuman Hara. Mendengar perkataan sahabatnya itu, Hara sedikit kaget, karna ini merupakan kali pertama Renata mengomentari senyumannya.
“Emangnya senyuman gue kenapa?” ucapnya dengan raut wajah yang sedikit bingung.
“Kayak Joker, tau nggak?”
“Ya kali, lo samain gue sama Joker,” balas Hara dengan raut wajah yang sedikit kesal.
“Kalau Chucky?” tanya Renata dengan wajah serius.
__ADS_1
“Ta! Gue bukan psikopat, kali,” ucap Hara kesal.
“Maka dari itu, karna lo bukan psikopat, lo juga jangan memaksakan perasaan lo. Jangan sembunyikan kesedihan lo. Jangan sok kuat khususnya di depan sahabat lo, dan jangan tanggung semua sendiri saat lo punya sahabat, yang siap membantu kapan saja saat lo butuh,” ucap Renata sembari merangkul bahu Hara.
“Ih, paan sih lo, Ta? Gue masih normal, kali?” ucap Hara pura-pura marah, dan akhirnya canda tawa pun menghiasi perjalanan mereka dari kafe hingga rumah masing-masing.
Hara melangkahkan kakinya memasuki rumah, dan tampak kedua orang tuanya sedang menikmati makan malam bersama.
“Hara pulang,” ucapnya ketika memasuki rumah. Mendengar suara anak bungsunya, Rosita segera membalikkan badannya, memandang si anak bungsu yang sedang perlahan berjalan menghampirinya dan suaminya.
“Udah pulang, Ra? Ayo makan,” ajaknya. Walau masih terbesit sedikit kecanggungan dengan papanya, Hara melangkahkan kakinya menghampiri kedua orang tuanya dan menikmati makan malam bersama.
“Malam, pa, ma,” ucapnya sembari menarik kursi untuknya duduk.
“Malam, Ra. Kamu dari mana?” dalam hati Hara terkejut mendengar papanya bertanya dari mana ia.
“Hara tadi habis main sama Renata, Regis dan Syera, pa,” ucapnya dengan rasa canggung yang masih ada, dan tatapan yang tak berani menatap langsung mata sang papa.
“Oh iya, kak Nia kemana, Ma?” di tengah-tengah makan malam, Hara memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan kakaknya.
“Kayaknya sih belum pulang dari kantor, Ra. Ada apa?”
“Ah, nggak ada apa-apa, sih. Cuma hari ini Hara nggak lihat kak Nia di rumah,” ucapnya dan kembali menyantap makan malamnya.
Setelah mereka selesai menikmati makan malam,
“Ra, papa boleh bicara sama kamu setelah makan?” kaget mendengar perkataan papanya karna masih terbawa suasana canggung, Hara dan mamanya pun spontan menoleh ke arah papanya dan sedikit membelalakkan matanya.
__ADS_1
“Mau bicara apa, pa? Mama juga mau tau,” ucap Rosita yang tak membiarkan putri bungsunya untuk bicara langsung dengan suaminya.
“Ma, ada saatnya kita harus bicara bersama, dan ada saatnya kita harus bicara secara pribadi,” ucap Herdian berusaha meminta pengertian dari istrinya.
“Tapi, mama juga berhak tau dong, pa,” Rosita masih tetap bersikeras dengan pendapatnya, ia tidak mengizinkan Hara untuk berhadapan dengan suaminya, karna dalam benaknya ia takut bahwa Hara akan kabur dari rumah lagi.
Dengan lembut, Hara menggenggam jemari sang mama sembari menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia tidak apa-apa.
“Hara bisa kok, pa,” ucapnya. Dalam hati, Hara masih mengumpulkan keberanian untuk menghadapi pembicaraan yang sebenarnya sudah terpikirkan oleh Hara, yaitu mengenai perjodohan Mario dengan Virginia, kakaknya.
Dalam hati kecilnya, masih ada sedikit harapan bahwa perjodohan itu bisa dibatalkan, atau minimal mengganti mempelai wanitanya, menjadi dirinya. Namun di sisi lain, harapan itu terasa sangat kecil ketika melihat kenyataan hingga saat ini, yaitu sang papa dan om Haris yang masih bersikeras akan perjodohan itu.
Melihat papanya berjalan menuju balkon lantai 2, Hara berjalan mengikuti papanya dari belakang. Papanya berdiri di balkon sembari memandang pemandangan malam kota, yang disusul oleh Hara. Keduanya sama-sama diam untuk beberapa saat, mencari waktu yang sekiranya tepat untuk membicarakan masalah itu.
“Ra, maafkan papa kalau semenjak pembicaraan makan malam tentang perjodohan kakakmu dan Mario, bahkan sampai sekarang papa juga masih terus menyakiti kamu,” ucapannya seketika terhenti, seolah tak mampu melanjutkan kalimat selanjutnya. Herdian memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celananya, menarik nafas dalam-dalam, berusaha membuang sesak yang mulai menghampiri dadanya. Keduanya, baik sang papa maupun sang anak sama-sama tak saling berhadapan, membuang perasaan sesak mereka dengan tatapan kosong yang tertuju pada gemerlap bintang dan lampu yang menghiasi malam.
“Papa tau ini berat buat kamu, demikian juga papa. Papa melakukan ini bukan berarti papa nggak menyayangi kamu. Justru karna papa sayang sama Hara, papa harus melakukan ini. Maafkan papa, Ra. Perjodohan antara kakakmu Nia dengan Mario harus kita laksanakan.”
Mendengar pernyataan papanya, tanpa sadar butiran bening mengalir deras di pipinya. Sesak yang sedari tadi ia tahan, kini membuncah dalam isakan yang mulai pecah.
“Maafkan papa, Hara,” Herdian tampak begitu terpukul dengan keputusan yang ia ambil sendiri. Keputusan yang menghancurkan kedua putri kesayangannya sekaligus. Keputusan yang entah akan bisa membuat keluarga mereka kembali seperti semula atau tidak. Dan keputusan yang bisa jadi menghancurkan kehidupan kedua putrinya, khususnya Nia, dalam pernikahan yang harus ia lakukan karna perjodohan itu.
“Hara pikir, papa bakal kasih Hara kesempatan untuk memilih. Hara pikir perjodohan ini bisa dibatalkan. Tapi kenapa, pa? Kenapa baru sekarang? Papa tau selama apa hubungan Hara dengan Mario, dan papa juga tau bagaimana perasaan Hara untuk Mario, bahkan hingga saat ini,” ucapnya sembari menangis. Seolah terhipnotis, Hara pun secara langsung mengungkapkan isi hatinya.
Tanpa mampu berkata, Herdian memeluk erat putri bungsunya yang masih terus menangis, meluapkan segala kekecewaannya dan kesesakan yang selama ini ia tahan. Bahkan kata maaf pun tak lagi mampu terucap darinya.
...Mendengar suara putri bungsunya yang serak karna menangis, semakin membuat akal Herdian menjadi buntu. Menyesal? Entahlah, apakah ini bisa dikatakan ungkapan penyesalan atau ini adalah awal kebaikan bagi keluarganya....
__ADS_1
...Gemerlap bintang, ramainya kendaraan yang berlalu lalang, dan beragamnya warna lampu di malam itu seolah menjadi saksi pembicaraan Hara dan papanya. Saksi bisu akan berakhirnya hubungan Hara dengan Mario yang telah dibangun selama 4 tahun. Saksi bisu akan permulaan kehancuran kehidupannya dan hubungannya dengan keluarganya. Dan, saksi bisu yang belum pasti akan mendatangkan kebahagiaan, atau malah kehancuran dalam hidup Hara dan Virginia....
...***...