Perjalanan Cinta Hara

Perjalanan Cinta Hara
Hubungan yang Retak


__ADS_3

Setelah menceritakan masalahnya kepada kedua sahabatnya, Hara merasa sedikit lega, walau masih belum tau apakah benar perjodohan antara kekasihnya dan kakaknya bisa dibatalhan, atau bahkan perjodohan itu tetap berlanjut, sebagai gantinya Hara yang dijodohkan dengan Mario.


Semenjak malam itu, Hara sama sekali tak pernah menghubungi Mario, yang sekarang entah statusnya masih sebagai kekasih atau sudah berganti menjadi calon kakak iparnya.


Bukan Mario tidak menghubungi Hara, melainkan Hara yang berusaha untuk lari dari kenyataan, andaikan ia memang bisa untuk lari dari kenyataan,dan semenjak kejadian itu pula, Hara lebih sering mengurung diri di kamar atau bahkan pulang hingga larut malam.


Sore ini, Hara sedang duduk termenung di sebuah kafe, membuka laptop sembari menunggu pesanan kopi kesukaannya dan beberapa camilan manis. Tak seperti biasanya di mana ia selalu ditemani, baik oleh sahabatnya ataupun oleh Mario, namun untuk kali ini ia benar-benar sendiri.


Kafe itu tak seperti biasanya. Hari ini, kafe itu terlihat sedikit sepi. Alasan Hara selalu datang ke kafe yang sama karena Hara menemukan suasana yang sangat nyaman di kafe itu, dan lagi, kafe itu selalu memutar lagu-lagu yang sesuai dengan selera Hara, baik dari lagu lama, hingga lagu terbaru, baik lagu Indonesia, maupun lagu Kpop.


...Dddrrreeettt!!!.......


...(suara geratan hp Hara)...


Hara mengalihkan pandangannya ke arah hp yang berada tepat di depannya. Terlihat di layar ada pesan masuk dari Mario


...-Kakaotlk: 129 Pesan belum dibaca…...


...-Mario : …- ...


Tak henti-hentinya Mario berusaha menghubungi wanita yang ia anggap masih kekasih hatinya, namun Hara hanya memandang layar hp itu dengan tatapan kosong. Antara membalas dan tidak, ia bingung dengan keadaan yang belum ditemukan jalan keluarnya itu.


Terdengar dari suara sound kafe yang memutar kumpulan lagu kesukaan Hara. Seorang barista yang sedang menyiapkan pesanan Hara yang diam-diam memperhatikan Hara. Terlihat senyuman Hara, walau hanya senyum tipis, setidaknya dengan lagu yang diputar dapat membuat suasana Hati Hara sedikit lebih baik.


“Kopinya, mbak,” ucap seorang barista yang mengantar langsung pesanan Hara.


“Makasih, mas,” ucapnya sembari terus memandang ke arah laptopnya.


“Kok tumben sendirian?”

__ADS_1


“Oh, iya, teman saya lagi pada sibuk. Eh…” ucap Hara sembari berpaling memandang sang barita dan berusaha tersenyum, rupanya barista itu adalah laki-laki misterius yang ia temui di atap gedung kampusnya.


“Halo. Ketemu lagi,” ucap barista itu dengan senyumnya yang manis.


“Ah, halo," tiba-tiba Hara teringat barang yang sempat dipinjamkan kepadanya beberapa hari lalu, yang masih tersimpan dalam tasnya. "Oh iya, ini saya mau balikin kacamata dan sapu tangannya, mas. Makasih,” ucap Hara sembari memberikan kedua barang yang dipinjamkan kepadanya.


“Oh, iya. Sama-sama, mbak nya. Saya tinggal dulu ya, mbak. Semoga lagu yang kami putar bisa membuat suasana hati mbak nya membaik,” ucapnya dengan ramah dan meninggalkan Hara dengan aktivitasnya lagi. Benar saja, setelah meninggalkan Hara, lagu-lagu yang diputas merupakan lagu milik idol Kpop kesukaan Hara, BTS. Mendengar lagu dari sang idola, Hara merasa sangat terhibur, hingga tak segan baginya untuk mengembangkan senyumnya yang beberapa hari ini terpendam. Jarinya kembali sibuk dengan tugas-tugas yang harus ia serahkan minggu depan, sembari sesekali menikmati kopi dan cemilannya.


Ketika Hara sedang sibuk menyelesaikan tugasnya sembari menikmati lagu-lagu di kafe itu, datang seorang laki-laki yang tak asing bagi Hara maupun bagi si mas barista itu. Hawa dingin seketika memasuki ruangan itu. Dengan langkah yang tegap dan penuh keyakinan, laki-laki itu menghampiri Hara yang tak sadr dengan kehadiran laki-laki tersebut.


“Ra, kita harus bicara,” ucap Mario yang langsung duduk didepan Hara sembari menutup laptop Hara agar ia mau memandang Mario. Merasa kesal, untuk pertama kalinya Hara memberikan tatapan penuh amarah kepada Mario.


“Apa lagi yang mau diomongin? Toh mau dibahas seperti apapun, nggak akan ada jalan keluar buat kita, Mario,” ucap Hara dengan nada sedikit berbisik karena takut mengganggu kenyamanan pengunjung yang lain, sedangkan sang barista masih terus memandang ke arah Hara dan Mario.


“Ra, please. Aku bakal berusaha sekuat tenaga untuk membatalkan perjodohan aku dan Nia. Jadi aku mohon, sekali ini aja kamu percaya sama aku, ya?” ucap Mario penuh harap.


“Mario, dengan sifat papaku yang seperti itu, nggak mungkin rasanya perjodohan itu bisa dibatalkan. Aku nggak mau terlalu banyak berharap dengan apa yang dijanjikan kak Nia dan kamu, Mario.” Mendengar pernyataan Hara, Mario hanya bisa terdiam. Momen ini, untuk pertama kalinya setelah malam itu Mario dan Hara kembali bicara dari hati ke hati.


Hara segera raih laptopnya dan hendak meninggalkan kafe tersebut, tapi tangan kekar Mario mencengkeram erat pergelangan tangan Hara, hingga Hara merasakan kesakitan pada pergelangan tangannya itu.


“Mario, apa yang kamu lakukan? Lepas, Mario!” ucap Hara yang sedang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Mario.


“Ra, kita harus bicara lagi. Aku nggak mau kita pisah kayak gini,” ucap Mario tak mau kalah.


“Mario, jangan begini. Nggak enak dilihat orang, Mario.” Dengan kasar, Mario menarik paksa Hara untuk keluar dari kafe itu hingga ke halaman depan kafe itu. Tanpa sadar, seseorang melepaskan genggaman tangan Mario dari pergelangan tangan Hara.


“Sory, bro. bukan gitu caranya bicara sama cewek,” ucap barista itu yang menarik Hara ke belakangnya yang bermaksud untu melindungi Hara. Senyuman sinis mengembang di bibir Mario.


“Sory, tapi ini kasalah gue sama pacar gue,” ucap Mario kepada barista itu.

__ADS_1


“Tapi lo tau, kan, kalau pacar lo nggak mau?” ucap barista itu tak mau kalah.


“Tau apa lo tentang masalah gue sama pacar gue?”


“Berhenti!!” teriak Hara yang seketika menghentikan perdebatan sengit antara Mario dan barista itu.


“Makasih mas karna sudah menolong saya, dan saya nggak apa-apa. Tapi maaf, ini masalah antara saya dan pacar saya. Jadi saya mohon, biarkan kami selesaikan masalah kami,” ucap Hara kepada barista itu, yang kemudian sang barista mundur selangkah, memberikan ruang kepada Mario dan Hara, dan masih tetap menunggu Hara, takut terjadi sesuatu yang buruk pada Hara.


“Mario, aku udah bilang sejak kita masih di dalam, kalau aku udah pasrah sama perjodohan kalian. Aku nggak mungkin bisa nentang kemauan papa. Dan lagi, kamu bakal jadi kakak iparku. Jadi aku mohon,”


“Nggak, Ra. Nggak bisa. Semua itu belum pasti, dan kita masih bisa berusaha untuk mencari jalan keluarnya.”


“Segitu yakin kamu bakal bisa bereskan masalah ini?” tanya Hara dengan nada penuh keraguan.


“Aku yakin, kita pasti bisa lalui ini, Ra. Aku mohon, kasih aku 1 kali kesempatan, ya?”


“1 minggu. Kalau dalam waktu 1 minggu kamu masih belum bisa menyelesaikan masalah ini, kamu akan tetap jadi kakak iparku.”


“Apa segitu menyerahnya kamu sama hubungan kita, Ra?”


“Aku nggak menyerah, Mario. Aku nggak menyerah. Tapi karna sampai sekarang aku masih nggak bisa menyerahkan kamu untuk dijodohkan sama kakakku sendiri, semua keadaan yang dulunya normal, menjadi berubah 180°,” teriak Hara yang sudah tak mampu menahan emosinya sejak tadi. Air mata itu perlahan mulai keluar membasahi pipinya, membuat Mario dan barista itu tak tega melihat wanita itu menangis.


“Dan lagi, aku nggak tau apakah aku pantas untuk memperjuangkan hubungan kita, Mario. Aku merasa nggak pantas, dan aku…” kalimat itu tak mampu diselesaikan oleh Hara.


Sesak yang sedak tadi menumpuk dalam dadanya membuatnya tak mampu berkata-kata.


Banyak perubahan yang terjadi sejak kejadian malam itu, terlebih antara hubungan Hara dengan Mario.


...‘Entahlah. Haruskah aku memperjuangkan perasaanku, atau melepaskan orang yang sangat beratri dalam hidupku, untuk hidup bersama kakakku sendiri?’...

__ADS_1


...***...


__ADS_2