
...Di kamar Hara...
Sejak percakapannya dengan papanya, Hara masih terus menangis. Ia menyesali dirinya yang tak mampu berbuat apa-apa untuk mempertahankan hubungannya dengan Mario. Merasa dirinya terlalu lemah, hingga ia harus melepaskan pria yang begitu ia cintai. Melepaskan secara paksa, dan memberikannya kepada seorang wanita, yang tak lain adalah kakaknya sendiri.
Matanya masih terus tertuju kepada sebuah foto yang terpajang dalam sebuah figura yang diletakkan di atas bufet. Memandang dengan lekat wajah tampan kekasihnya, yang beberapa minggu lagi akan menapaki kehidupan baru bersama kakaknya sendiri.
Dalam foto itu, terlihat jelas Hara dan Mario yang tertawa bahagia, seolah tak akan pernah mengalami kejadian yang begitu menyakitkan ini. Udara dingin dari luar seolah merasuk ke dalam hati Hara, membuatnya beku hingga ia tak mampu merasakan kehangatan yang dulu selalu ia rasakan.
Malam itu, pesan dari Mario terus berdatangan. Seolah merasakan kepedihan yang dirasakan oleh kekasihnya, Mario terus mencoba menghubungi Hara.
...Di sisi lain, di rumah Mario...
...21.15...
Mario masih duduk di taman rumahnya sembari terus mencoba menghubungi kekasihnya itu. Namun sayang, semenjak masalah ini terjadi, hubungannya dengan Hara pun entah masih bisa dikatakan sepasang kekasih atau tidak.
Udara dingin malam itu seolah dengan setia menemani Mario yang tengah duduk seorang diri. Dari arah ruang tengah, Marissa masih terus memandangi anaknya yang sudah beberapa waktu bersikap dingin, seolah tak memiliki harapan untuk melanjutkan hidupnya. Rasa perih bukan hanya dirasakan oleh Hara dan Mario, demikian pula yang dirasakan oleh orang tua mereka yang terus melihat anak mereka menunjukkan perubahan sikapnya.
"Arnold, tolong kamu bawakan kopi panas ini untuk kakakmu. Mama nggak tega bila harus terus-terusan melihat kakakmu yang frustasi begitu," ucap sang mama sembari memberikan secangkir kopi panas kepada Arnold, anak keduanya. Dengan patuh, Arnold membawakan segelas kopi untuk kakaknya, coklat panas untuk dirinya, dan beberapa cemilan dengan sebuah nampan, berjalan menghampiri sang kakak yang tengah termenung sendirian.
"Broth," ucapnya kepada sang kakak sembari memberikan cangkir kopi panas itu, yang disambut oleh Mario. Setelah menerima kopi pun, pandangan Mario masih terus tertuju ke layar ponselnya, mengirim pesan secara berturut-turut, mencoba menelpon, berharap akan ada jawaban dari wanita yang sangat ia cintai.
"Masih nunggu balasan dari Hara?" tanya Arnold berusaha membuka percakapan di antara mereka.
"Gue bingung, No. Menurut lo, kalau lo jadidi situasi begini apa yang harus gue lakuin?" ucap Mario dengan tatapan kosongnya sembari menyeruput kopi panas itu.
...Bbbbbrrrrrpppphhhh!!!!...
Seketika semburan kopi panas pun keluar dari mulut Mario, menjulurkan lidahnya dan memandang penuh kekesalan ke arah adiknya. Melihat reaksi Mario, Arnold justru terkekeh tanpa henti.
__ADS_1
"Puas lo liat lidah gue meleleh?" ucap Mario dengan ketus kepada adiknya yang masih berusaha mengendalikan tawanya sembari memegang perutnya.
"Makanya, Broth, kalau mau minum itu dicek dulu, masih panas atau nggak. Lagian kan gue memang kasih itu kopi panas, Broth aja yang nggak sabaran orangnya," ucapnya menanggapi tingkah laku Mario yang kocak. Nyatanya, tawa itu tak berlangsung lama, karna Mario terus teringat akan keadaan yang sedang dialami. Melihat reaksi sang kakak, Arnold hanya bisa duduk, menemani dan mendengarkan kalau-kalau sang kakak ingin bercerita.
"No, balik lagi ke pertanyaan gue tadi. Menurut lo di situasi ini, apa yang harus gue lakuin?" tanya Mario yang dengan nada seriusnya kepada sang adik.
"Jujur aja sih, saat kejadian itu gue nggak lihat langsung, dan nggak denger langsung apa kata papa dan om Herdian. Tapi kalau di posisi Broth, gue bakal bingung," ucapnya dengan nada yang serius pula kepada Mario. Merasa frustasi mendengar jawaban Arnold, Mario mengacak-acak rambutnya.
"Gue juga tau kalau lo juga bakal bingung, No. Maksud gue, aoa li nggak ada ide buat atasi ini?" lanjut Mario.
"Gue rasa nggak ada, Broth. Mau bagaimanapun itu, gue rasa nggak ada jalan lain, selain mengikuti perjodohan ini, paling kemungkinan kecil kalau kita bisa mengganti mempelai wanitanya, dari Kak Virginia menjadi Hara. Tapi gue rasa hal itu gak akan terjadi. Karena itu Broth, lo tetap dijodohkan sama kak Virginia," ucap Arnold panjang lebar, berusaha memberikan pemahaman kepada sang kakak. Keheningan pun kembali hadir di antara Mario dan Arnold.
...23.05...
...Ttrriinngg!!!...
Bunyi hp Mario menandakan ada pesan. Mario melihat pesan siapa yang datang selarut ini. Sebuah nama yang sangat ia rindukan, nama yang selalu ia cari, dan nama yang selalu ia tunggu untuk membalas pesannya, Hara. Seketika Mario berdiri dari kursi yang sedang ia duduki dan membuat Arnold terkejut.
...Roomchat:...
...💜Sweetheart💜...
23.05
"Mario, maaf. Setelah kejadian itu aku jadi menjauh dari kamu. Kalau ada wakru luang, besok jam makan siang apa kita bisa ketemu di kafe biasa? Ada hal yang harus kita bicarakan secara langsung."
^^^23.06^^^
^^^"Bisa. Bisa, sayang. Kapanpun kamu minta aku datang, aku bakal datang. Makasih, Ra kamu masih mau kasih kesempatan untuk kita."^^^
__ADS_1
23.07
"Maaf karna aku begitu terlambat menyadari ini, Mario. Sampai bertemu besok siang. Selamat malam, sweety. Love you 💜"
^^^23.07^^^
^^^"Good night to, my love 🤗"^^^
Mario segera membawa cangkir kopinya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Melihat reaksi kakaknya yang begitu girang, tanpa bertanya pun Arnold sudah tau siapa orangnya yang mampu mengembalikan senyuman Mario.
...Di sisi lain, di kamar Hara...
Setelah mengirim pesannya kepada Mario, air matanya kembali terjun bebas membasahi pipinya. Sesak di dadanya semakin membuat dadanya terasa sakit. Alunan lagu malam ini seolah sangat mengerti keadaannya, terdengar lagu milik salah satu musisi Indonesia
...Kini aku harus pergi...
...Walau ini pedih, aku harus pergi...
...Ku rela kau hidup bahagia dengannya...
...Kubahagia untukmu...
...Doaku slalu bersamamu...
Lagu itu menemani Hara dengan tangisannya yang terus mendera, tanpa bisa ia cegah kembali. Sakit, sesak, kecewa, semua perasaan itu teraduk menjadi satu.
Hara meringkukkan tubuhnya di atas ranjangnya sembari memeluk erat foto dalam figura yang ia pajang di bufet. Memeluk erat, seolah tak mau melepaskan dan tak siap bila sewaktu-waktu ia harus melepaskan dan memberikan foto itu kepada pemilik yang sebenarnya.
...Nyatanya, setelah sekian banyak waktu yang ia buang untuk berdiam diri dan melarikan diri dari masalah ini tak mampu membuatnya untuk dengan mudah melepaskan sosok laki-laki-laki yang sangat ia cintai. Sosok laki-laki yang direbut dengan paksa dari genggamannya....
__ADS_1
...'Seandainya waktu dapat terulang kembali, mungkin lebih baik aku memilih untuk menghabiskan banyak waktu yang tersisa untukku bersamamu, Mario'...
...***...