
Setelah kejadian di kafe sore tadi, Mario mengantar Hara untuk pulang. Tanpa sepatah katapun dari Hara, ia segera keluar dari mobil itu.
“Hara pulang,” ucapnya sembari membuka pintu.
“Baru pulang, Ra? Pulang sama siapa?” ucap sang papa tanpa memalingkan pandangannya dari layar tv.
“Tadi di antar sama Mario, Pa. Hara ke atas dulu, pa,” pamit Hara yang hendak meninggalkan ruang tengah.
“Ra, kamu kan tau kalau Mario itu udah dijodohkan sama kakakmu? Mungkin sebaiknya kamu jangan ada hubungan lagi sama dia,” Hara sedikit terkejut mendengar pernyataan sang papa dan hanya bisa menyambut perkataan papanya dengan senyuman sembari berkata,
“Hara udah nggak ada hubungan sama Mario, pa. Lagian Hara tau kok, kalau papa nggak akan melepas sesuatu yang diberikan ke kakak,” ucapnya sembari sekuat tenaga menahan deraian air mata itu.
Melihat anak bungsunya pergi sembari menangis, hatinya sebagai orang tua sedikit merasa kasihan. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apapun dengan perjodohan yang sudah ditetapkan sejak Nia dan Mario kecil.
Bertepatan dengan Nia yang hendak ke lantai 1, ia melihat adiknya berlari menuju kamarnya sembari menangin, Nia mencari sumber yang membuat adiknya menangis lagi untuk kesekian kalinya.
“Papa, Nia mohon jangan terlalu keras pada Hara, Pa. Kasihan dia, pa,” ucap Nia yang masih saja berusaha membujuk papanya untuk membatalkan perjodohan itu dengan Mario.
“Nia, ini papa lakukan juga demi kebaikan kamu.”
“Kebaikan apanya, pa? Apa menurut papa, merebut orang yang dicintai orang lain, terlebih adik Nia sendiri itu hal yang baik?”
“Bukan begitu, Nia. Papa cuma…”
“Pa, Nia ada ide untuk mengatasi semua ini,” ucap Nia yang tiba-tiba saja terpikir sesuatu hal.
“Ide apa?” tanya papanya penasaran.
“Perjanjian papa dan om Haris adalah menjodohkan anak, kan? Itu artinya, bila perjodohan Nia dan Mario diganti jadi Mario dan Hara, itu artinya nggak ada masalah kan, pa?” ucap Nia dengan percaya diri bahwa papanya akan menggunakan ide itu. Di luar ekspetasi Nia, sang papa menggelengkan kepalanya ketika mendengarkan ide tersebut.
“Nggak bisa, Nia. Dari awal, papa dan om Haris memang berencana menjodohkan kamu dan Mario,” ucap sang papa tegas.
“Kenapa nggak bisa juga, pa? Hara kan juga anak papa dan mama?” Nia terus bersikeras supaya ayahnya tidak menjodohkannya dengan kekasih adiknya. Nia terdiam sejenak ketika terus menerus mendengar kata ‘tidak bisa’ dari sang papa.
"Nia, tolong dengarkan papa. Untuk saat ini, inilah yang bisa papa lakukan untuk kebaikan kita semua. Papa tau apa yang kamu dan Hara rasakan. Tapi papa mohon, untuk kali ini saja, demi kita semua," ucapan sang papa yang semakin lama semakin terdengar sendu.
“Apa papa pikir, dengan menjodohkan Nia dan Mario, Nia akan bisa menjalani kehidupan normal layaknya pasangan suami istri? Apa papa pikir, dengan menjodohkan Nia, Nia bisa hidup bahagia? Papa nggak tau, kan? Papa nggak bisa jamin kebahagiaan Nia, kan? Jadi Nia mohon, pa. Jangan Jodohkan Nia, baik sama Mario ataupun sama laki-laki lain,” ucapan Nia mengakhiri percakapan dengan papanya, dan meninggalkan laki-laki paruh baya itu sendirian di ruang tv.
‘Sebenarnya, aku harus bagaimana? Di satu sisi, aku mau melihat anak-anakku bahagia, tapi di sisi lain, aku nggak bisa dengan mudah mengganti Nia menjadi Hara. Karena banyak hal yang belum diketahui ada hubungan apa antara Hara dan Mario…’ ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Pak Herdian hanya bisa terdiam sembari berpikir bagaimana cara untuk mengembalikan keadaan seperti semula.
...---...
Keesokan harinya, Hara berusaha menjalani kehidupannya seolah tak terjadi apapun, dan bersiap untuk pergi ke kampus.
“Ma, pa, Hara berangkat dulu, ya,” ucap Hara sembari berpamitan dengan kedua orang tuanya.
“Em.. Ra,” panggil mamanya dengan ragu apakah ia harus mengatakan pada Hara atau tidak.
“Ya, ma? Ada apa?”
“Ah, ini, nanti kamu pulang jam berapa?”
“Mungkin makan malam Hara baru sampai di rumah, ma.”
“Jadi, papa dan mama punya rencana untuk makan diluar. Kamu bisa ikut kan, Ra?” tanya sang mama takut menyinggung hati putrinya yang sedang kacau sejak beberapa waktu lalu.
“Boleh. Nanti mama kirim aja alamatnya. Biar Hara langsung datang ke tempat itu.”
“Oke, deh. Yaudah, berangkat sana, nanti keburu telat,” ucap sang mama. Tak lama kemudian, Hara meninggalkan rumahnya, berjalan menyusuri jalanan kompleks sembari melamun. Tiba-tiba…
“Aduh,” Hara terjatuh karna tertabrak sepeda. Terlihat luka pada lengannya yang mulai dialiri oleh cairang berwarna merah yang terasa sedikit nyeri.
“A.. Maafkan saya,” ucap sang pengendara sepeda sembari melompat dari sepedanya dan menolong Hara.
“Iya, nggak apa-apa kok,” mereka saling menatap, dan betapa kagetnya mereka.
“Mas barista.”
“Mbak kopi.” ucap barista itu yang hampir bersamaan dengan Hara.
“Aduh, sekali lagi saya minta maaf. Saya benar-benar nggak sengaja,” ucapnya yang masih merasa bersalah.
“Nggak apa kok, mas. Lagi pula saya juga tadi melamun sampai nggak perhatikan jalan,” ucap Hara. Melihat tangan Hara yang berdarah,
“Mari saya obati dulu tangannya, mbak,” ucap barista itu sembari menarik tangan Hara.
“Nggak usah, mas. Nggak apa kok.”
__ADS_1
“Nggak apa, apanya? Nanti kalau luka ini infeksi, kan saya jadi ganti rugi lebih mahal, mbak,” protes sang barista yang tanpa sadar membuat Hara tertawa.
“Eh, akhirnya saya bisa lihat lagi mbak kopi senyum,” merasa malu, hara segera menyembunyikan senyumannya lagi. Akhirnya Hara menurut untuk diobati.
“Ah, sudah selesai. Ini saya kasih plaster gratis buat mbak kopi, mana tau nanti bakal diganti plasternya,” ucap sang barista sembari memberikan plaster anti air. Mendengar dirinya yang terus dipanggil ‘mbak kopi’, Hara sedikit tersenyum.
“Hara.”
“Ya?” ucap barista itu yang tak mengerti.
“Nama saya, Hara. Jadi, lain kali jangan panggil saya ‘mbak kopi’ lagi,” ucap Hara sembari tersenyum.
“El. Panggil saya, El, bukan ‘mas barista’” keduanya tersenyum. Hara melihat jam tangan yang ia kenakan, 8.30.
“Ah, maaf mas, eh maksudnya El. Saya harus pergi. Sebentar lagi kelas pertama dimulai 20 menit lagi,” ucap Hara yang mulai sedikit panik.
“Mari saya antar,” tawar El.
“Nggak usah, makasih. Saya bisa naik angkutan umum, kok.”
“Memang masih bakal kekejar?”
“Ya, nggak sih sebenarnya,” ucapnya sembari menggigit bibirnya karna panik.
“Ayo,” ucap El yang siap mengendarai sepedanya kembali. Merasa tak ada pilihan lain, akhirnya Hara menurut untuk diantar oleh El ke kampusnya.
“Oh iya, kayaknya usia kita nggak beda jauh. Jadi ngomongnya santai aja, Ra.” Ucap El yang masih terus menggoes sepedanya lebih cepat dari biasanya.
Hari ini, untuk pertama kalinya hara diantar oleh laki-laki lain selain Mario, terlebih laki-laki itu adalah laki-laki yang baru beberapa kali ia temui.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan kampus Hara. Menyadari ia hanya memiliki waktu 3 menit sampai di kelas, Hara segera berlari menuju kelasnya.
“Makasih, El,” ucap Hara sembari berlari meninggalkan El.
“Eh, awas. Jangan lari, nanti jatuh lagi,” teriak El sembari memandang Hara yang perlahan mulai menjauh. Melihat tingkah Hara, El hanya bisa tertawa dari kejauhan, dan El pun meninggalkan kampus itu, kembali ke aktivitasnya yang sebelumnya, yaitu bersepeda.
...‘Setidaknya, hari ini gue menjadi alasan dia untuk mengembangkan senyumnya yang cukup lama menghilang’...
...***...
__ADS_1