
...Pagi ini, 06.30...
Ketika Hara membuka matanya di pagi ini, ia merasa sangat bahagia. Di hari ulang tahunnya, untuk pertama kalinya, Mario dan sahabat-sahabatnya merayakan acara khusus yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bibir itu tak berhenti tersenyum mengingat kejadian dini hari. Hara kemudian beranjak dari ranjangnya, melihat ke samping kanannya, masih ada dua wanita yang tertidur dengan pulas akibat lelah yang masih terasa.
Merasa udara pagi ini berbeda dengan udara yang biasa dihirupnya di tengah perkotaan, Hara meraih Hoodie purple kesayangannya, mengenakannya, dan melangkahkan kaki ke luar villa untuk menikmati udara yang segar dan sejuk ini. Ia berhenti di sebuah kolam ikan berukuran sedang, dan berdiri di atas jembatan kolam tersebut. Ia emandangi ikan yang dengan bebasnya berenang dalam air yang sedingin es itu, sembari memperhatikan bayangannya dari atas jembatan.
Terdengar suara langkah kaki yang kian lama kian mendekat dengan langkah yang pasti. Hara membalikkan badannya, dan mendapati lelaki yang bertubuh tinggi dan kekar itu tersenyum hangat di tengah udara yang kian lama kian dingin, dengan membawa dua cangkir kopi panas.
“Tumben udah bangun?” Tanya Mario sembari memberikan secangkir kopi yang tadi ia bawa, yang disambut dengan senyuman hangat dari kekasihnya itu.
“Karna terlalu bahagia, aku sampai nggak nyenyak tidur,” ucapnya jujur tanpa bermalu-malu. Mario tersenyum sembari membelai lembut kepala kekasihnya.
“Kita udah genap 4tahun pacaran, kan?” Tanya Mario meyakinkan.
“Iya. Kenapa memangnya?” Tanya Hara penasaran.
“Aku udah kenal sama kamu sejak kamu masih usia 16 tahun. Tapi rasanya ada yang aneh?” ucapnya sembari mengeryitkan dahinya.
“Aneh?” Mario meraih Hara ke dalam pelukannya, mendekap hangat tubuh mungil wanita itu sembari berkata
“Kenapa tinggimu segini aja sih, saying? Kapan kamu mau tambah tinggi?” kesal mendengar penuturan Mario, seketika ia mendingakkan kepalanya dan sedikit mendorong Mario menjauh dari tubuhnya.
“Jadi kamu peluk aku cuma karna mau bilang aku pendek?” ucapnya dengan wajah cemberut nan manja. Melihat reaksi kekasihnya, Mario hanya tertawa dan kembali memeluknya dalam pelukannya yang hangat. Telapak tangan yang mampu menutup wajah kekasihnya hanya dengan satu tangan, kembali membelai lembuh kepala kekasihnya itu.
“Tapi aku bersyukur karna kamu hanya setara dengan bahuku. Aku jadi lebih mudah memelukmu, dan merasa punya adik kecil yang selalu manja,” ucapnya dengan penuh kasih sayang. Hara pun tersenyum mendengar pengakuan kekasihnya itu, dan melingkarkan lengannya pada pinggang Mario. Momen inilah yang sangat ia rindukan. Semenjak Mario menjabat sebagai menejer di perusahan keluarganya sejak 1 tahun lalu, momen-momen kebersamaan mereka seringkali tertunda, bahkan sangat sedikit waktu mereka untuk berdua.
“Mau sampai kapan kalian nempel kaya perangko begitu?” Tanya Regis sembari menggelengkan kepalanya yang rupanya mengagetkan Hara dan Mario.
“Sejak kapan lo di sini? Ganggu aja tu nggak?” ucap Hara menggoda sahabatnya itu.
“Sejak Mario bilang ‘aku jadi lebih mudah memelukmu’. Iyuh. Kok gue jadi ilfeel sendiri, ya?”
“Makanya cepetan punya pacar, biar bisa mesra-mesraan kaya gue sama Mario. Jangan betah-betah aja sama julukan lo jomblo dari lahir,” ledek Hara. Melihat adu mulut mereka berdua, Mario hanya tertawa sembari memegangi perutnya.
Ketika mereka tengah asik bercanda dan saling menggoda, ada sosok perempuan cantik yang berjalan menghampiri mereka dengan muka khas bangun tidurnya.
“Ih, lo jorok amat si. Cewek itu kalau baru bangun tidur jangan keluar kamar dulu. Cuci muka dulu. Harus berapa kali si dikasih tau?” ucap Regis tak berhenti mengomeli adiknya sembari kemdorong badan Regina kembali ke dalam villa.
“Ih, kan gue mau cari odol. Lo taruh di mana odol gue?”ucap Regina dengan keadaan setengah sadarnya. Mario dan Hara hanya tertawa melihat pertunjukkan adik kakak yang tak biasa ini. Sekuat tenaga, Regina masih berusaha berjalan melawan Regis, yang akhirnya membuat Regis terpaksa menggendong adiknya itu dan membawanya ke dalam vila.
Tiba-tiba, hp Mario bergetar. Matanya pun melihat ke arah layar hp. Terlihat di layar panggilan masuk dari mamanya.
__ADS_1
...Panggilan Masuk...
...-Mama-...
“Sayang, aku angkat telpon dari mama dulu, ya,” pintanya kepada Hara.
“Kalau gitu aku ke dalam dulu, ya,” pamit Hara yang dibalas dengan anggukan dari Mario.
Tanpa keraguan, Mario menjawab panggilan dari sang mama.
“Halo, ma? Selamat pagi.”
“Selamat pagi, sayang. Kamu di mana sekarang?”
“Mario masih liburan weekend sama teman-teman Mario. Kenapa, ma?”
“Nanti jam 1 siang, mama dan papa berangkat ke Indonesia. Kamu bisa jemput mama di bandara?”
“Aduh, keburu nggak ya, ma? Soalnya weekend kan puncak macet banget, ma.”
“Aduh, gimana ya? Mang Asep nggak bisa jemput soalnya. Masih mama suruh siapkan sesuatu.”
“Kalau gitu, sampai ketemu di bandara ya, sayang,” ucap mamanya mengakhiri panggilan pagi ini.
...Di sisi lain di kamar tidur yang ditempati Hara dan para wanita...
“Ra, baru aja gue mau kasih hp lo. Soalnya dari tadi tante telpon mulu,” ucap Syera sembari memberikan hp Hara. Tanpa rasa curiga sedikitpun, Hara menelpon kembali mamanya.
...Panggilan Keluar...
...-💜엄마💜-...
“Halo, sayang?” ucap mamanya dengan suara hangat.
“Kata Syera, mama dari tadi telpon Hara. Ada apa, ma?”
“Itu, mama mau Tanya kalian kapan pulang dari puncak?”
“Emm, mungkin Minggu, ma. Sayang soalnya udah sampai di sini kalau nggak sekalian jalan.”
“Gitu, ya.” Merasa ada yang tak beres dengan mamanya,
__ADS_1
“Ada apa, ma? Bilang aja ma,” ucap Hara meyakinkan mamanya yang terlihat tidak ingin mengganggu waktu liburan anak tersayangnya.
“Sebenarnya malam ini ada acara di rumah, sayang. Mama piker kamu bisa pulang.” Tanpa ada sedikit rasa curiga, senyuman polos itu mengembang dengan percaya diri di bibir Hara.
“Memangnya acara apa, ma?” tanyanya pura-pura tidak tahu.
“Ada pokoknya acara penting. Tapi kalau kamu nggak bisa pulang juga nggak apa-apa sayang. Nikmati saja dulu waktu liburan kalian. Jarang-jarang loh, kamu sama Mario diganggu liburannya sama teman-teman kalian,” goda sang mama membuat pipi mulus putrinya bersemu merah.
“Ah, mama. Kan Hara jadi gr,” dari seberang telpon, sang mama hanya tersenyum.
“Tapi, nggak apa-apa deh. Hara dan teman-teman pulang aja, ma. Kan kapan-kapan Hara bisa datang berdua sama Mario ke sini.”
“Yaudah, sayang. Mama mau siap-siap untuk acara nanti malam, ya. Kamu hati-hati kalau pulang nanti.”
...Panggilan selesai...
Seolah mendapat pesan terakhir dari sang mama, ada sedikit perasaan aneh dalam hati Hara yang ia sendiri tak tahu dari mana dan karena apa perasaan itu muncul. Hara segera menghilangkan perasaan anehnya itu, dan berusaha untuk tidak terlalu memikirkan perkataan mamanya.
Dengan hati yang berat, Hara memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya bahwa acara hari ini terpaksa tidak bisa berlangsung sebagaimana mestinya, dan menjelaskan bahwa ia harus segera pulang ke rumahnya.
“Memangnya, ada apa si, kok lo sama Mario mendadak disuruh pulang?” Tanya Regis yang juga membuat Hara bingung.
Seketika, hatinya mulai gelisa. Entah apa yang akan terjadi padanya. Entah perasaan gembira, atau memang perasaan gelisah dan takut kehilangan sesuatu. Sejenak, Hara terlarut dalam lamunannya yang tak biasa. Tatapannya kosong dan berkaca-kaca.
“Ra!! Hara!!” teriak Regis di telinganya yang seketika membuatnya tersadar. Ia seperti orang yang kehilangan arah tersesat, dan tak tau arah jalan pulang.
“Ha? Kenapa, Ris?” tanyanya dengan polos.
“Lo kenapa? Dari tadi ditanya kenapa malah nggak dengar,” ucap Regis sedikit merasa aneh dengan sahabatnya itu. Tanpa menjawab, Hara hanya menggelengkan kepalanya.
‘Lo kenapa, Ra? Seketika gue tersadar bahwa lo punya sisi lemah yang sebenernya gue sendiri nggak tahu sebagai sahabat lo,’ ucap Regis dalam hatinya yang melihat ada keanehan dalam diri Hara.
...Di sisi lain, di kamar villa...
Hara duduk, termenung dan merasa lemas.
‘Sebenarnya gue kenapa begini? Ini kan hari ulang tahun gue. Harusnya gue bahagia, kan? Iya, Kan? Gue harusnya nggak boleh mikir yang enggak-enggak. Semoga perasaan nggak enak ini hanya perasaan biasa, dan bukan pertanda sesuatu yang buruk,’ ucapnya dalam hati nya sembari berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Hara, Mario, dan teman-temannya memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana mereka dan kembali menuju Jakarta.
...***...
__ADS_1