
Sejak hari itu, Mario dan Hara pun sudah benar-benar tak saling berkabar. Walau sangat berat melepas orang tercinta, namun Mario tau bahwa Hara melakukan ini juga demi kedua keluarga. Hari-hari Hara lewati seperti biasa, walau terasa ada tempat kosong dalam hatinya, namun ia mencoba untuk membiasakan diri tanpa Mario.
Tak terasa, pernikahan Mario dan Nia semakin mendekat. 3 minggu sebelum pernikahan dilaksanakan, karna banyaknya perdebatan dan pertentangan mengenai perjodohan mereka, persiapan pernikahan pun masih terbengkalai.
Seperti biasa, pagi ini Hara tengah bersiap untuk berangkat ke kampus. Hara tengah menikmati nasi goreng buatan mamanya di meja makan, sedangkan sang papa sedang menikmati kopinya sembari membaca koran. Tak lama kemudian pun terlihat dari arah tangga, Nia sudah siap untuk pergi ke kantor dengan beberapa file yang ia bawa. Nia menghampiri meja makan dan mengambil kotak bekal yang telah disediakan mamanya.
“Nia berangkat, pa, ma. Kakak duluan, ya,” ucapnya berpamitan sembari membelai rambut sang adik, yang disambut dengan anggukan dari Hara. Dalam perjalanan ke kantor, terlihat dengan jelas raut wajah yang memaksa seolah semua baik-baik saja. Merasa dirinya tak baik-baik saja, Nia meminggirkan mobilnya dan mengirim pesan kepada teman kantornya bahwa ia tak bisa datang untuk hari ini.
Kepalanya tertunduk dan air matanya mulai membasahi pipinya. Secara pribadi, ia tak mau bila harus dipaksa menikah, terlebih laki-laki yang akan ia nikahi adalah lelaki yang sangat dicintai adiknya. Ia merasa menjadi wanita yang sangat jahat untuk adiknya. Namun di sisi lain, ia tak bisa terus menentang pernikahan itu setelah pengorbanan Hara untuknya.
“Setidaknya, kulakukan ini untuk adikku. Untuk pengorbanan yang telah dia kasih, dan semua air matanya. Aku juga harus kuat seperti Hara. Aku nggak boleh menyia-nyiakan pengorbanan yang udah Hara dan Mario lakukan,” ucapnya meyakinkan dirinya sendiri. Tak lama kemudian mobil itu kembali melaju ke suatu tempat yang mampu menenangkan pikirannya hari ini.
...Di sisi lain, di rumah Hara...
Setelah memastikan kepergian Nia, papanya membuka percakapan mereka.
“Ra,” ucap Herdian. Hara yang sedari tadi sibuk menyantap sarapannya sembari bermain hp pun mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
“Ya, pa?” ucap Hara.
“Apa kamu yakin melepaskan Mario?” tanya papanya. Hara terkejut dan merasa tak percaya bahwa papanya menanyakan hal ini lagi.
“Kalaupun Hara nggak mau melepaskan, Hara rasa Hara tetap dipaksa untuk melepaskan Mario karena perjodohan itu,” ucapnya dengan berat hati.
“Maafkan papa yang egois ini,” ucap papanya.
“Ia, pa. Toh semua ini Hara lakukan juga buat kehidupan kakak, karna Hara juga mau kakak bahagia,” ucapnya menyakinkan papanya bahwa ia sudah lebih baik.
“Kalau begitu, apa papa boleh minta tolong sedikit sama kamu?” tanya papanya.
“Apa itu, pa?”
“Pernikahan kakakmu dan Mario kan sebentar lagi. Tapi karna masalah kemarin, kita belum sempat siapkan segala kebutuhannya. Apa kamu bisa tolong papa carikan WO yang bagus?”
__ADS_1
“Akan Hara usahakan, pa,” ucapnya. Walau ada rasa berat, namun Hara tetap melakukan permintaan papanya. Ya, demi orang yang ia cintai.
...---...
Sore ini setelah menyelesaikan semua mata kuliahnya, Hara ditemani oleh ketiga sahabatnya berusaha mencari WO terbaik yang ada di kota tempat tinggalnya. Setelah sekian lama berkeliling mencari, namun mereka masih belum mendapatkan tempat yang menurut mereka cukup baik.
...17.45...
“Haaahhh, lelahnya,” ucap Regis membanting badannya di atas sofa di kafe tempat mereka istirahat.
“Dalam waktu kurang dari 3 minggu, kira-kira WO mana yang mau terima sewa ya, Ra?” ucap Syera yang juga merasa putus asa.
“Gue juga gak tau nih, Syer. Kalau gue tau, gue juga langsung ke sana, kali,” ucapnya dengan nada yang lemas.
“Kita ke sini mau isi tenaga, loh. Kalian nggak mau makan?” tanya Renata yang menyadari bahwa mereka belum memesan makanan. Mendengar perkataan Renata, mereka segera memesan makanan masing-masing.
Setelah selesai menikmati makanan yang dipesan, mereka pun segera melanjutkan misi hari ini, yaitu mencari WO yang bagus untuk pernikahan kakaknya nanti.
Namun, tanpa terasa waktu semakin malam. Syera mengalihkan pandangannya ke arah arloji yang ia pakai, waktu menunjukkan pukul 21.15 malam, sangat tak memungkinkan bagi mereka untuk melanjutkan pencarian hari ini.
“Lagian kalau mau dilanjut, di mana yang masih terima tamu jam segini?” ucap Renata.
“Yaudah, kita pulang aja dulu hari ini. Dan kalau kalian capek, besok nggak apa deh gue cari sendiri,” ucap Hara merasa tak enak hari kepada sahabat-sahabatnya.
“Yaelah, apaan sih, Ra. Capeknya kan hari ini bukan besok. Apa hubungannya sama hari besok, coba?” ucap Regis sembari berjalan.
“Ia, Ra. Lagi pula, gue juga udah sering bilang ke lo, kalau butuh apapun itu, lo bisa minta tolong ke kami,” tambah Syera.
“Bener banget. Jadi nggak usah sungkan, kayak baru kenal aja,” ucap Renata menanggapi. Hara merasa sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka, yang selalu ada, mengisi kekosongan ketika ia ditinggalkan oleh Mario.
“Ra, gue mau nginep di rumah lo,” ucap Syera yang mengejutkan Hara.
“Tiba-tiba? Lo kenapa? Ada masalah lagi sama orang tua lo?” tanya Hara mulai panik.
__ADS_1
“Memangnya harus ada masalah dulu, baru gue boleh nginep di rumah lo?” tanya Syera.
“Ya, nggak juga, sih. Lo boleh datang kapan aja, kok,” lanjut Hara.
“Sama, gue juga, Ra. Udah lama sejak gue tinggal di Belanda, gue nggak pernah nginep di rumah tetangga gue,” tambah Renata.
“Gue juga dong, Ra. Gue juga pengen ngin…” belum sempat menyelesaikan perkataannya, tangan Renata sudah mendarat di punggung Regis, yang membuat Regis mengerang kesakitan.
“Apaan sih lo, Ta? Kan gue juga sahabat Hara. Wajar dong kalau gue mau ikutan nginep,” protes Regis.
“Terus maksud lo, lo juga mau tidur bareng sama gue, Syera dan Hara, gitu?” tanya Renata.
“Ya nggak lah, emang gue cowok apaan?”
“Makanya Regis, kakak gue yang paling nggak peka. Lo kan cowok, apa kata orang kalau lo sampai nginep di rumah cewek, tetangga lo pula?” ucapan Renata kali ini sedikit menyadarkan Regis.
“Oh iya, ya. Hehe, yaudah gue nggaj jadi ikutan nginep, deh,” ucapnya malu. Melihat perdebatan Renata dan Regis, Hara dan Syera pun hanya bisa tertawa. Hari semakin malam, mereka pun segera pulang untuk beristirahat.
...---...
Setelah istirahat semalam, badan terasa sangat ringan dan lelah yang terasa hari kemarin pun menghilang. Hari ini, mereka berencana untuk melanjutkan mencari WO yang bisa disewa dalam waktu dekat ini. Tak membutuhkan waktu lama, 3 wanita itupun sudah siap untuk
pergi ke kampus.
“Kalian masih mau lanjut cari WO?” tanya mama Hara ketika mereka tengah berkumpul untuk menikmati sarapan buatan mamanya Hara.
“Rencananya sih begitu, tan. Karna pernikahan kak Nia juga tinggal menghitung hari, kan?” ucap Renata.
“Makasih ya, Syera dan Renata yang mau bantu Hara. Tante nggak bisa bayangkan kalau nggak ada kalian,” ucap Rosita dengan mata yang mulai berlinang karna terharu dengan persahabatan anak-anaknya.
“Sama-sama, tante. Kami juga sering kok dibantu sama Hara,” tambah Syera.
“Yaudah, ma. Kami berangkat dulu, ya. Maaf nanti kalau pulang telat lagi,” ucap Hara berpamitan dengan mamanya yang disusul juga oleh Renata dan Syera.
__ADS_1
Hari-hari yang semakin sibuk, membuat Hara hampir tidak memikirkan hubungannya dengan Mario yang benar-benar telah kandas. Kehadiran sahabat yang selalu mengisi kekosongan, seolah menutup celah kosong yang ditinggalkan oleh Mario.
...***...