
Siang ini semua berjalan seperti biasa. Kuliah yang berjalan dengan lancar dan pekerjaan yang cukup ribet karna siang ini lumayan banyak pengunjung yang datang ke kafe tempat kerja El.
...Di kampus Hara...
“Ra, lo mau makan siang di mana?” tanya Syera setelah dosen mereka keluar dari kelas.
“Di mana ajalah, aku juga nggak terlalu lapar, kok,” ucapnya sembari mengemas laptop dan beberapa peralatan kuliahnya. Syera dan Regis terkejut mendengar kalimat ‘aku’ dari mulut sahabatnya.
“Lo ngomong apa barusan, Ra?” ucap Regis berusaha meyakinkan dirinya.
“Apaan?” Hara pun tak sadar menggunakan kalimat ‘aku’.
“Lo bilang 'aku' ?” ulang Syera. Mendengar pertanyaan sahabatnya, seketika matanya terbelalak karna keceplosan. Ya, Hara adalah salah satu orang yang jarang menggunakan kalimat 'aku', kecuali dengan orang spesial dan beberapa orang yang memungkinkannya menggunakan kat 'aku'.
“Ah, tiba-tiba gue jadi makin lapar, nih. Makan, yuk,” ajaknya berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Tanpa pikir panjang pun, Syera dan Regis pun mengiakan perkataan Hara dan segera menyusulnya.
Melihat reaksi Hara yang sedikit membaik setelah kejadian itu, Regis dan Syera merasa sedikit bersyukur, dan tanpa henti, Syera dan Regis selalu berusaha membuat percakapan yang menimbulkan tawa.
...Di sisi lain, di kafe tempat El bekerja...
...Saat jam makan siang tiba...
"Karina, bisa tolong gantiin gue dulu? Mau makan soalnya," ucap El pada Karina, teman kerjanya.
"Oh, kebetulan. Nanti gantian sama gue juga deh, gue juga belum makan," balas teman kerjanya. El pun segera pergi ke ruang istirahat karyawan dan mengambil kotak makannya. Ia membuka perlahan tutup kotak itu, dan cukup terkejut, karna makanan yang ada di depannya tidak seperti makanan yang biasa disiapkan oleh si mbok.
"Heh? Kok tumben si mbok siapin makanan begini?" Sedikit ragu dengan rasanya, El kemudian mencoba makanan itu. Ia mengambil telur gulung dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kok rasanya beda sama masakan si mbok?" Seketika matanya terbelalak ingat suatu hal.
"Jangan-jangan, makanan ini disiapin sama Hara?" Terlihat ujung bibirnya sedikit terangkat, dan ia tersenyum sembari menikmati makan siangnya.
Tiba-tiba, ada salah satu teman kerjanya yang masuk. Tanpa sengaja, ia melihat El yang terkenal dingin dan cuek sedang tersenyum sembari menikmati makanannya.
"Woi!! Lo kenapa? Kesambet lo, senyum-senyum sendiri?" tanya Indra teman kerjanya sekaligus sahabatnya El.
"Paan, si? Lo kan liat gue lagi makan," ucapnya ketus.
"Wihh, kimbab sama telur gulung?" ucapnya sembari tangannya mulai bergerak hendak menggapai makanan itu. Seketika, tangan El memukul pelan tangan Indra yang akan mengambil makanannya.
"Berani ambil, awas aja," ancamnya sembari menunjuk Indra dengan sumpit yang ia pegang.
__ADS_1
"Ck!! Pelit amat sih lo, El? Siapa sih yang masak? Pacar lo?" ucap Indra sembari berdecak. Bukannya menjawab, El malah terus tersenyum.
"Ha? Siapa yang buatin ini buat lo? Pacar?"
"Kalau gue bilang ia, apa lo bakal percaya?"
"Hahahaha. Sejak kapan lo punya pacar? Gue tau kali, sejak dia ninggalin lo, lo masih..," mendadak Indra menghentikan ucapannya dan memilih mengalihkan pembicaraan mereka. Mengerti apa maksud Indra, raut wajah El pun sedikit berubah menjadi lebih dingin, sadis dan murung.
"Ah, gue lupa. Kayaknya gue harus bantu Linda deh. Gue kedepan, ya, " ucap Indra sembari berjalan dengan terburu-buru meninggalkan El seorang diri. Wajahnya semakin terlihat murung, makanan yang telah disiapkan dengan sepenuh hati oleh Hara pun tak mampu ia habiskan. Ia merasa perutnya sudah terisi penuh, dan menutup kotak bekal itu. El pun meraih jaketnya dan bergegas ke luar kafe.
"Gue ijin keluar. Jangan tanya gue kemana. Jangan telpon gue cuma buat nanya gue lagi di mana!" ucapnya kepada Indra, Linda dan Karina sembari berjalan meninggalkan kafe. Mereka bertiga hanya bisa terbengong karna kembali melihat sisi dingin El, setelah beberapa waktu sifat dinginnya sedikit hilang.
Ketika sedang berjalan dengan sedikit terburu-buru, El menabrak seseorang.
...Bbrruukk!!! ...
"Aduh!" pekik Hara ketika bertabrakan dengan laki-laki yang memiliki tinggi badan 178cm itu. Untung saja Hara ditopang oleh Syera dan Regis, sehingga ia tidak sampai jatuh.
"Aduh, Ra. Maaf!" ucap El dengan raut wajah yang terlihat merasa bersalah.
"Kamu kenapa si, El. Ngebut banget jalannya kayak lagi mau balapan aja?" ucap Hara ketus.
"Kalian mau kemana?" tanya El.
"Kami mau makan siang," ucap Syera.
"Oh, kebetulan. Ayo makan siang bareng. Gue traktir deh. Hitung-hitung ucapan maaf gue," ucap El. Seketika mata Hara melirik tajam ke arah El, dan hanya disambut dengan tatapan takut dari El.
'Bukannya tadi pagi dia gue buatin makan siang, ya? Kenapa ngajak makan lagi?" ucapnya dalam hati. Mereka berempat pun pergi mencari tempat untuk makan siang, sekalian juga El memperkenalkan dirinya kepada Syera dan Regis. Bahkan Hara pun juga didesak untuk menceritakan kejadian yang terjadi di restoran tempo hari.
"What? Jadi beberapa hari ini lo samlai nggak kuliah karna lo kabur dari rumah san nginap di rumah El?" ucap Syera terkejut.
"Dan lo, El. Lo terima aja cewek asing masuk ke rumah lo? Padahal dia bisa aja berbuat sesuatu ke lo?" ucap Regis yang juga sama terkejutnya dengan Syera. Tanpa bisa menjawab, El hanya bisa menganggukkan pertanyaan Regis dan Syera.
...14.30...
Setelah selesai menikmati traktiran dari El, mereka pun berpisah.
"Gue mau langsung pulang aja. Ada hal yang harus gue selesaikan sama orang tua gue," ucap Hara kepada teman-temannya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Ra," ucap Syera.
__ADS_1
"Ku antar, ya?" Mendengar ucapan El, mata Syera dan Regis kembali melihat tajam ke arah mereka berdua, menyiratkan pertanyaan hubungan apa yang mereka miliki. Tanpa ambil pusing, El segera mengantar Hara ke rumahnya.
"Makasih, El. Udah antar aku lagi," ucapnya ketika sampai di halaman depan rumahnya.
"Ra, kalau ada apa-apa, kamu boleh bilang aku," ucap El yang kembali memastikan keadaan Hara. Hara pun segera keluar dari mobil El dan masuk ke rumahnya.
'Ayo, Ra. Lo pasti bisa lalui ini' ucapnya pada diri sendiri. Walau dengan langkah yang ragu, Hara melangkahkan kakinya memasuki rumahnya, membuka pintu dan berjalan menuju kamarnya.
Hara duduk di tepi ranjangnya, mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan keluarganya.
...19.00...
Waktu makan malam, papa, mama dan kakaknya sudah berada di meja makan. Dengan ragu, Hara ikut turun untuk menikmati makan malam. Dengan perasaan canggung, Hara duduk di antara mereka dan mulai menyantap makan malam. Keheningan pun menyelimuti mereka berempat.
"Ma, pa, kakak. Hara mau bicara sesuatu," ucapnya pada keluarganya yang hendak meninggalkan ruang makan. Walau masih dengan keraguan. Hara menggenggam tangannya dan memberanikan dirinya.
"Hara minta maaf untuk beberapa waktu terakhir ini, Hara jadi kayak anak kecil. Hara nggak bisa terima kenyataan tentang perjodohan itu, dan Hara juga memilih kabur dari rumah. Maafkan Hara. Karna Hara, mama nggak bisa melakukan kegiatan mama dengan benar. Maaf," ucapnya sembari menundukkan kepalanya. Matanya terasa mulai memanas, ia merasakan butiran bening yang hendak terjun bebas ke pipinya, namun sekuat tenaga, Hara menahan diri agar tidak menangis.
Tanpa disadari, kakak dan mamanya sudah terlebih dahulu menangis mendengar permintaan maaf dari si bungsu.
"Enggak sayang. Dengan kamu sudah bisa minta maaf karna kabur dari rumah, menandakan kamu sudah dewasa," ucap mamanya sembari menggenggam tangan Hara.
"Papa juga minta maaf, Ra. Papa cuma bisa menyulitkan kamu, dan tetap egois dengan pendirian papa. Tapi papa harap, perlahan kamu bisa melepaskan Mario," ucap papanya yang tetap teguh dengan pendiriannya.
"Papa! Sekali aja, pa. Jangan bahas dan sebut nama Mario di tengah-tengah kita. Apa masih nggak cukup papa melihat Hara jadi seperti ini?" ucap sang mama dengan nada yang sedikit meninggi. Mamanya terus menangis dan memeluk anak bungsunya yang duduk tepat di sebelah kirinya.
Papanya tak bisa merespon, dan hanya bisa diam.
"Hara, sayang. Bukan kamu yang harusnya minta maaf, tapi papa dan juga mama yang nggak bisa jadi orang tua yang baik buat kamu," ucap mamanya sembari membelai lembut rambut Hara. Pelukan yang selama ini ia rindukan, akhirnya bisa kembali dirasakan oleh Hara.
"Hara, maaf kan kakak. Kakak pernah berjanji bahwa perjodohan antara kakak dan Mario nggak akan terjadi. Tapi nyatanya, kakak cuma bisa mengingkari janji itu," ucap Nia dengan suara pelan karna menahan isakannya agar tidak pecah.
Melihat suasana keluarganya, Herdian pun juga merasa bersalah. Sangat merasa bersalah kepada anak bungsunya.
'Hara, maafkan papa menyakitimu. Walau saat ini kamu belum tau kebenarannya, tapi suatu saat kamu akan tau kenapa papa melakukan ini. Maafkan papa, sayang' ucapnya dalam hati yang tak mampu ia sampaikan langsung kepada Hara.
Malam itu, walau masalah belum terselesaikan, namun setidaknya antara orang tua dan anak sudah saling meminta maaf dan memaafkan.
Dalam hati Hara merasa sedikit lega karna ia sudah berani memimta maaf kepada orang tuanya, bahkan juga kakaknya. Namun di sisi lain, ia masih belum bisa menerima kenyataan yang terjadi di depan matanya, mengenai dirinya, Mario dan Nia, kakaknya.
...***...
__ADS_1