Perjalanan Cinta Hara

Perjalanan Cinta Hara
Arti Sahabat


__ADS_3

...11.40...


Koridor kampus tanpak ramai dengan mahasiswa yang baru saja keluar kelas masing-masing.


“Uuuhhh!!!! Akhirnya kelar juga kelas hari ini” ucap Regis sembari mereganggak badannya.


“Tapi, kok gue nggak liat Hara dari pagi ya, Gis? Apa dia sakit?” tanya Syera menyadari ketidakhadiran Hara.


“Oh, iya. Pantes dari tadi rasanya ada yang kurang. Coba gue telpon Mario, deh. Mana tau dia lagi bareng Hara” ucap Regis sembari mengambil hpnya dari sakunya.


“Jangan, Gis. Lebih baik kita langsung telpon Hara. Kita nggak tau, apa Mario sibuk atau enggak, kan? Yang ada kita malah buat dia repot” cegah Syera. Regis menuruti perkataan Syera dan langsung menelpon Hara.


...Panggilan Keluar...


...-Hara-...


...Berdering…...


Tiba-tiba, terdengar suara tak asing dari seberang telpon…


...‘Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan anda. Silakan coba beberapa saat lagi’...


“Kok nggak diangkat, ya? Padahal biasanya dia langsung angkat telpon dari siapapun itu, kecuali…” seketika Regis mengingat salah satu kebiasaan Hara. Menghilang…


Terlihat jelas kepanikan di wajah blasterannya itu.


“Syer, coba lo telpon Hara. Sekarang!” kaget mendengar permintaan Regis, Syera segera menurutinya. Namun hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban dari orang yang mereka cari.


Dengan perlahan, Syera menggelengkan kepalanya menandakan bahwa tidak ada jawaban dari Hara. Regis dan Syera terus menerus menelpon Hara, bahkan mereka juga menanyakan keberadaan Hara pada beberapa teman kampusnya.


“Sory, Ren. Gue mau tanya sesuatu boleh?” tanya Regis pada teman sekelasnya semasa SMA dulu, Renisha. Wanita itu tersenyum dengan bangga, karna salah satu pria tampan di kampusnya menghampirinya untuk menanyakan sesuatu.


“Boleh kok, Gis. Kita kan teman SMA, masa iya nggak boleh” ucapnya dengan nada malu nan manja yang membuat Regis menjadi geli dengan sikapnya. Melihat reaksi Regis, Syera hanya bisa menahan tawanya.

__ADS_1


“Lo liat Hara nggak hari ini?”


“Hara? Tadi waktu baru datang gue liat dia ke lantai atas. Gue nggak tau deh, dia ke mana.” Mendengar penjelasan Renisha, Regis dan Syera bertatapan, memikirkan 1 tempat yang belum mereka datangi di kampus ini. Regis segera melesat, berlari meninggalkan Syera dan Renisha tanpa mengucapkan terima kasih.


“Sory ya, Ren. Gue mewakili Regis bilang makasih” tanpa menunggu kalimat balasan dari Renisha, Syera segera berlari menuju tempat yang mereka maksud.


Ketika Regis dan Syera sampai di lamtai teratas gedung kuliah A,


Bbbrruukk!!!!...


“Aaakkhh!!!!” pekik Syera yang terjatuh karena menabrak laki-laki yang keluar dari arah pintu atap dengan membawa gitar dipunggungnya. Syera masih menahan sakit pada bagian lengan kanannya yang menabrak laki-laki misterius itu.


“A, joesonghaeyo” ucap laki-laki itu sembari mengulurkan tangannya untuk membantu Syera berdiri.


Syera masih terbengong mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut laki-laki itu. Setelah membantu Syera berdiri, laki-laki itu segera meninggaklan Syera dan Regis dan berjalan menuruni anak tangga.


“Lo nggak apa-apa?” tanya Regis sembari mengulurkan tangannya dan menarik Syera ke lantai atas.


Ketika sampai di lantai paling atas, mereka membuka pintu menuju atap dan mendapati Hara yang tengah duduk berdandar di bangku sembari memandang ke langit. Melihat Hara yang ada di tempat, Syera dan Regis merasa sangat lega, dan langsung menghampiri Hara.


Hara terkejut, karena tiba-tiba ada orang yang memeluknya dengan erat hingga membuatnya susah bernafas.


“Kalian apaan, si? Lepas. Sakit tau. Gue nggak bisa napas” ucap Hara pada kedua sahabatnya. Tanpa disadari, air mata Syera menitik perlahan.


“Lo kenapa, Syer?” tanya Hara sembari menghapus air mata sahabatnya.


“Lo yang kenapa, Ra!” ucap Regis dengan nada sedikit meninggi yang membuat Hara kaget. Regis mengambil kacamata yang Hara pakai untuk menutupi matanya yang bengkak. Melihat mata Hara yang bengkak, Regis hanya bisa menghela panjang nafasnya.


Perasaan itu tiba-tiba menghampirinya. Perasaan bahwa ia merasa tak berguna sebagai sahabat. Regis tertunduk lemas, yang membuat Hara semakin bingung dengan kedua sahabatnya itu.


“Ra, gue nggak tau masalah apa yang sedang lo hadapi. Tapi gue mohon, sebesar apapun masalah lo, ada kami, Ra. Ada gue, Syera, dan Renata. Ada kami yang siap 24 jam dengar cerita lo. Tapi please, lo jangan menghilang gini. Jujur gue nggak tau mau cari lo kemana lagi, kalau tadi nggak ada anak yang liat lo jalan ke atap, Ra” ucap Regis dengan nada suara yang sendu.


Bingung harus memberikan respon bagaimana, Hara hanya tertawa sinis mendengar ucapan Regis barusan.

__ADS_1


“Walaupun kalian sahabat gue, tapi kalian pasti ada masalah dalam keluarga kalian yang nggak gue tau” ucap Hara dengan tatapan kosong, kembali mengingat kejadian Sabtu malam yang membuat perasaannya hancur hingga saat ini.


“Maaf kalau gue terlalu egois sebagai sahabat, Ra. Tapi gue Cuma nggak mau sesuatu hal yang menyakitkan terjadi sama lo. Lo inget kan, Ra, saat gue ada masalah dan kabur dari rumah, lo ada buat gue, bahkan lo yang nampung gue di rumah lo selama sebulan” ucap Syera berusaha meyakinkan Hara untuk menceritakan masalahnya.


Hara menarik nafas panjang dengan senyuman hampa. Entah dari mana ia mau menceritakan kejadian menyakitkan itu.


“Mario dijodohkan sama kak Nia, kakak gue. Menurut kalian, gimana perasaan gue sekarang?” ucap Hara yang akhirnya mau membicarakan masalahnya dengan kedua sahabatnya itu.


Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, Syera dan Regis sangat terkejut hingga tak mampu mengucapkan sepatah kata pun untuk menguatkan sahabatnya itu.


Akhirnya dengan rasa ragu yang masih menumpuk dalam hatinya, Hara menceritakan hal itu pada Syera dan Regis. Bahkan di tengah-tengah ceritanya, Hara kembali menitikkan air matanya.


Regis dan Syera hanya bisa memberikan pelukan kepada sahabatnya itu, dan Hara bisa dengan leluasa menangis dalam pelukan mereka.


“Kita cari jalan keluarnya bareng-bareng ya, Ra. Jadi gue mohon, lo jangan pendam sendiri masalah ini. Kami siap bantu kapan pun lo butuh” ucapan Syera bagaikan hujan yang menyirami tanah yang kering segar, sejuk, dan melegakan.


“Nggak heran kalau banyak orang kasih julukan ‘malaikat’ ke lo, Syer. Makasih ya penguatannya, my angel” ucap Hara sembari membalas pelukan Syera.


“Ra, kok gue geli ya denger ucapan lo barusan” balas Syera. Ya. Dia memang paling tidak suka ada orang memanggilnya dengan julukan ‘my angel’ yang diberikan banyak orang padanya, dengan imange nya yang ‘kata orang’ seperti malaikat itu.


Melihat kondisi Hara yang sudah bisa membalas candaan yang diberikan Regis dan Syera, menandakan bahwa setidaknya keadaannya sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.


“Oh iya, Ra. Tadi pas gue sama Regis naik ke sini, gue ketemu sama cowok yang bawa gitar. Lo kenal dia?” ucap Syera mengganti topik pembicaraan mereka.


“Oh, cowok itu. Ini kacamata sama sapu tangan dia ada di gue” ucap Hara enteng.


“Kok bisa?” teriak Regis dan Syera yang shock mendengar ucapan Hara, dan lagi, tak ada pilihan lain bagi Hara selain menceritakan pertemuannya dengan cowok misterius tadi.


Dalam hati Hara bersyukur, karena di tengah persoalannya yang berat, Hara masih memiliki sahabat yang mau mendengar, mengerti, menghibur dan berusaha sekuat tenaga mencari jalan keluar bersamanya.


...‘Di saat seperti ini gue baru menyadari satu hal, bahwa sahabat yang sesungguhnya nggak akan lari meninggalkan sahabatnya yang sedang dalam keadaan yang sulit. Karena sahabat yang sesungguhnya akan selalu ada dalam keadaan dan situasi apapun dalam hidup lo’...


...***...

__ADS_1


__ADS_2