
"Ngeliatin apa?" tanya Arsen menoleh pada Aliza sebentar lalu kembali fokus mengemudi.
Aliza yang hanya berangkat dengan gojek karena mobilnya sedang ada di bengkel.
Arsen mengajak Aliza untuk pulang bersamanya. Karena hari juga sudah larut malam.
Aliza yang tengah memandang betapa gemerlapnya malam karena sinar lampu yang begitu terang ditengah tanah lapang.
Arsen kemudian menepikan mobilnya.
"Mau ke pasar malam?"
Aliza menoleh menatap Arsen lalu gadis itu menggeleng.
"Nggak kok. Cuma seneng aja liatnya."
Gadis itu menatap begitu ramainya suasana pasar malam. Ingin sekali dirinya mengulang masa kecilnya dengan naik biang lala dan kora-kora. Walau jantungnya seperti akan copot ketika menaiki wahana tersebut.
"Kalo mau. Kita kesana sekarang," ucap Arsen kembali menyalakan mobilnya.
"Nggak usah, Kak. Kemalaman kalo kita kesana," tolak Aliza dengan wajah yang begitu khawatir.
"Gue telepon orang tua lo sekarang. Gue yang minta izin. Kalo boleh kita kesana," ucap Arsen seraya mengambil ponselnya disaku kemeja putihnya.
"Halo, Ar." Suara Reno terdengar membuat jantung Aliza berdetak sangat cepat. Selama ini dirinya tidak pernah jika pulang larut malam. Kecuali urusan yang sangat penting. Dirinya tidak boleh keluar diatas jam 9 malam.
"Halo, Om. Saya sama Aliza masih dijalan arah pulang. Sebenarnya saya ingin meminta izin buat ngajak Aliza ke pasar malam," jelas Arsen.
"Oh. Nggak papa. Saya izinin. Yang penting jaga anak saya baik-baik. Biar kalian juga bisa lebih deket dan kenal satu sama lain." Jawaban Reno membuat Arsen lega.
Sedangkan Aliza diam tak percaya.
Bagaimana seorang Reno bisa segampang itu memberi izin pada laki-lakinya yang ada disampingnya ini?
Atau Arsen memakai jampi-jampi?
__ADS_1
Ah, Aliza kamu sedang berpikir apa?
Konyol sekali.
Baru kali ini ada orang yang seberani itu meminta izin pada orang tuanya.
Yang lebih membuat Aliza senang adalah orang tersebut ada laki-laki yang dia suka sejak lama.
"Ya sudah. Terima kasih banyak, Om."
Setelah mendapat jawaban dari Reno Arsen segera memutuskan sambungan telepon mereka.
"Ayah lo udah ngizinin," ucap Arsen kembali menatap Aliza. Namun, ternyata gadis itu sudah menatap Arsen lebih dulu.
Dengan pandangan yang tak percaya sekaligus kagum pada sosok laki-laki ini.
"Lo ngeliatin apa?" tanya Arsen seraya melambaikan tangan didepan Aliza.
Aliza langsung tersadar. Dia sudah hanyut dalam pikirannya sendiri. Wajah setampan itu terlalu sayang jika tidak dipandang lama.
"Eh, nggak papa, Kak," ucap Aliza sedikit malu dengan memalingkan wajahnya.
"Jangan terlalu dalam natapnya nanti suka."
***
"Lo mau naik apa? tanya Arsen sedikit berteriak karena posisi mereka sekarang ada ditengah keramaian.
Aliza menggeleng. "Nggak pengen naik apa-apa. Gue takut."
"Bareng gue naiknya. Mau naik yang mana?" tanya Arsen sekali lagi. Dirinya sudah terlanjur masuk. Kenapa tidak mencoba wahananya.
Dia juga ingin Aliza melawan ketakutannya.
"Tapi gue takut, Kak."
__ADS_1
"Lo nggak perlu takut kan ada gue," ucap Arsen meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja.
Akhirnya Aliza mengangguk sedikit ragu.
Arsen tersenyum simpul. Setidaknya Aliza sudah mau berusaha untuk melawan ketakutannya walaupun masih ada keraguan dalam dirinya.
"Mau naik yang mana dulu? Kora-kora? Bianglala? Komidi putar?" tanya Arsen menunjuk satu persatu wahananya.
Aliza masih diam seraya berpikir wahana mana yang tidak bahaya bagi dirinya. Bagi jantungnya terutama.
"Gue mau naik komidi putar, tapi kok anak-anak ya yang naik," ungkap Aliza melihat banyaknya orang yang manaiki wahana itu yang lebih didominasi oleh anak-anak.
"Nggak cuma anak-anak aja. Coba liat lagi itu ada remaja yang naik juga, ada bapak-bapak yang ikut naik bawa anaknya. Nggak papa kalo mau naik," ucap Arsen menunjuk beberapa orang yang dimaksud menggunakan dagunya.
"Nggak ah malu," tolak Aliza seraya menggeleng.
"Ngapain malu? Lo pake baju," ucap Arsen menatap Aliza gemas. Gadis itu terlalu banyak alasan.
"Ih. Bukan masalah nggak pake baju. Tapi gue malu naik bareng mereka. Udah gede gini masih naik begituan," jelas Aliza mengeluarkan isi hatinya.
"Emang ada peraturannya kalo seumuran lo nggak boleh naik wahana itu?" tanya Arsen menaikan sebelah alisnya
Aliza nyengir memperlihatkan gigi putih Nana rapi seraya menggeleng.
"Naik wahana yang lain aja, Kak."
"Oke. Mau naik kora-kora?" tanya Arsen yang melihat betapa serunya menaiki wahana itu walau membuat jantungnya pasti berpacu sangat cepat.
Mendengar teriakan orang yang menaiki wahana itu membuat Arsen tidak sabar untuk mencobanya. Banding terbalik dengan Aliza yang sudah keringat dingin. Padahal hanya melihat saja belum mencoba wahananya.
Sebenarnya Arsen itu suka ha-hal yang seru, yang menantang dan itu sangat berbanding terbalik dengan Aliza yang begitu penakut.
"Ayo!" ajak Arsen menggandeng tangan Aliza untuk mengikutinya.
Rasa takutnya seakan sirna ketika mendapatkan perlakuan seperti ini.
__ADS_1
Kali pertamanya Arsen menggandeng Aliza. Sekarang jantung Aliza seakan ingin lompat dari tempatnya.
Rasa bahagia itu menjalar ke seluruh tubuhnya.