
Hai semuanya.
Sebelum kalian lanjut baca.
Aku mau rekomendasiin nih novel bagus dijamin kalian pasti penasaran sama alur ceritanya.
"Gue mau ngomong serius. Gue harap lo mau dengerin dengan baik. Setelah lo tau, gue harap kita masih bisa jadi teman." Niko membuka suara setelah beberapa menit yang lalu mereka selesai makan.
Aliza mengangguk. Jantungnya berdebar sangat cepat. Entah apa yang akan Niko katakan padanya. Yang jelas ini bukan hal yang main-main.
Niko menarik napas dalam untuk mempersiapkan diri mengatakan hal yang sudah dirinya pendam lama.
"Sebenarnya gue—"
"Niko!" Suara itu membuat Niko dan Aliza menoleh bersamaan menatap laki-laki dengan jas hitam yang melekat padanya.
Arsen menatap bergantian kedua orang yang sedang duduk berhadapan itu. "Kalian ngapain disini?"
"Kak Arsen!" Niko seperti orang gelagapan. Lebih tepatnya seperti orang ketakutan karena sudah terciduk oleh massa.
"Kak!" Aliza lalu berdiri menatap Arsen bingung.
"Lo nggak kerja, Kak? Kok malah kesini?" tanya Aliza sedikit mengedarkan pandangannya.
Siapa tau Arsen kesini bersama orang lain atau pacarnya mungkin.
"Gue ada meeting ditempat ini. Kalian ngapain disini?" tanya Arsen lagi menekan kalimat terakhirnya.
Arsen memang sudah ada janjian untuk bertemu dengan client nya ditempat ini.
"Gue sama Aliza dulu kan pernah satu sekolah. Ya udah gue ajak ketemuan aja. Nantinya jugakan dia bakalan jadi Kakak ipar gue. Jadi, gue perlu sedikit berbincang," jelas Niko sedikit cengengesan.
Arsen menaikan sebelah alisnya. "Berbincang apa?"
"Ya, bahas gimana acara pernikahan besok." Jawaban Niko sukses membuat Aliza menatap laki-laki itu tajam.
__ADS_1
Padahal dari tadi mereka tidak pembicaraan yang mengarah kesana.
Arsen mengangguk singkat. "Kalian belum mau pulang?"
"Eh, gue ini mau pulang." Aliza segera mengambil tasnya.
"Lo?" tanya Arsen pada adiknya.
"Ya, gue juga mau pulang sekarang."
"Lo kesini naik apa, Al?" tanya Arsen menatap Aliza serius.
"Gue tadi dianter Pak Mamat" jawab Aliza jujur. Karena memang mobilnya sedang ada di bengkel. Jadi mau tidak mau harus dianter supir pribadi keluarganya.
"Bareng Niko aja."
"Lo anterin Aliza pulang," perintah Arsen pada Niko.
"Siap Bos." Niko mengangkat tangan hormat pada Arsen.
Aliza hanya takut Arsen berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Karena dia sebagai calon istri malah bertemu dengan calon adik iparnya.
Seminggu berlalu dan hari ini adalah tepat hari dimana Arsen dan Aliza menikah.
Hari yang selalu dinantikan oleh kedua keluarga mempelai.
Aliza dengan balutan gaun putih dengan mahkota itu terlihat sangat cantik. Seakan dirinya menjadi ratu dalam sehari.
Dia begitu cantik dan mempesona.
Seperti saat mereka melakukan fitting busana.
Arsen yang sudah siap dengan busana pengantin pria. Dengan balutan jas berwarna hitam sangat cocok untuknya.
Dia memandang Aliza begitu lama tanpa berkedip. Kali ini perempuan itu sangat cantik dengan polesan make up khas pengantin. Berbeda ketika dia melihat kala mereka melakukan fitting busana.
Aliza yang ditatap begitu menjadi gugup dan menundukkan kepalanya. Malu sekali. Pipinya mungkin sudah seperti kepiting rebus sekarang.
__ADS_1
Setelah akad selesai mereka diarahkan untuk jalan diatas wedding carpet seraya bergandengan tangan.
Ada tangis haru dan bahagia itu bercampur menjadi satu dalam ruangan yang begitu luas dan megah itu.
Hingga mereka berjalan sampai diujung lalu mereka saling berhadapan. Mata mereka bertemu ada sorot bahagia yang Aliza pancarkan sedangkan Arsen, dia hanya menatap perempuan yang bergaun putih nan cantik itu dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
"Cium!"
"Cium!"
Beberapa orang bersorak gembira agar Arsen memberi ciuman setelah sah mereka menjadi suami istri.
Aliza mulai memejamkan mata ketika Arsen memajukan wajahnya. Sedetik kemudian Aliza merasakan benda kenyal itu mengecup dahinya singkat.
Perempuan itu segera membuka matanya. Dilihatnya Arsen menatapnya dalam.
"Lagi woy lagi!" Suara itu jelas milik Niko. Arsen paham betul suara jelek milik adiknya itu.
Niko yang berteriak tanpa bisa dikontrol itu membuat Ema mencubit lengan putra bungsunya.
Geram sekali Ema melihat putra bungsunya itu bertingkah seperti anak kecil.
Arsen dan Aliza masih saling pandang, hingga jarak mengikis keduanya. Namun, suara pembawa acara menggagalkannya.
Lali-laki dengan pakaian rapi yang menjadi pusat urutnya acara resepsi hari ini.
Acara lempar bunga akan dimulai yang dipandu oleh pembawa acara.
Aliza memegang buket bunga yang sudah disiapkan sebelumnya lalu Arsen ikut memegang buket tersebut. Pandangan mereka bertemu kembali hingga pembawa acara memberi aba-aba untuk melemparkan buket bunganya.
Setelah melakukan ancang-ancang lemparan akhirnya bunga itu ditangkap oleh perempuan dengan gaun berwarna hitam dengan gaya rambut simple bun.
Perempuan itu menatap Arsen tajam lalu tersenyum. Mitosnya siapapun yang mendapatkan lemparan bunga dari pengantin akan segera menyusul untuk menikah.
Perempuan itu adalah Risa. Sampai sekarang pun perempuan itu masih menjadi pacar Arsen.
Aliza menoleh menatap Arsen.
__ADS_1
Perempuan itu tau jika mereka berdua masih ada hubungan.
Tak lama ada tangan yang menarik Risa untuk keluar dari tempat itu.