Perjodohan Paksa Dengan Crush

Perjodohan Paksa Dengan Crush
Bab 13 Putus?


__ADS_3

Arsen berjalan tergesa-gesa memasuki rumahnya setelah selesai memarkirkan kendaraan miliknya.


"Aliza mana, Bun?" tanya Arsen yang mendapati Ema yang duduk disofa dengan kue ulang tahun dimeja ruang tamu.


Setelah kepergian Aliza, wanita paruh baya itu segera menghubungi putra sulungnya untuk segera pulang dan memberitahu tentang kedatangan Aliza.


"Udah pulang," jawab Ema singkat.


Ada rasa kesal dalam dirinya. Jika posisinya seperti Aliza mungkin dia akan membawa pulang saja kuenya.


"Kenapa nggak ditahan dulu, Bun?" Arsen mendekat kearah Ema lalu duduk disampingnya.


"Aliza ada urusan mendadak katanya. Makanya nggak Bunda tahan," ucap Ema.


Arsen mengacak rambutnya frustasi.


"Kenapa?" Ema memegang lengan Arsen agar putranya itu menurunkan tangannya.


"Arsen liat Aliza di restoran, Bun." Arsen mengatur napasnya yang mulai tidak stabil.


"Waktu kamu sama Risa? Aliza liat kamu sama Risa?" tanya Ema begitu serius.


Dengan berat Arsen mengangguk. "Arsen nggak bisa pastiin dia liat Risa atau nggak. Tapi yang jelas dia tau Arsen sama cewek, Bun."


"Ya ampun Arsen!" Ema memandang putranya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Pantesan tadi langsung buru-buru pamit," ucap Ema tak habis pikir.


"Kalo Aliza ngomong sama orang tuanya gimana?" Raut wajah Ema begitu khawatir.


Arsen diam dengan pikiran yang terus berputar. Mengulang kembali kejadian di restoran.


"Bunda mau kamu putusin Risa sekarang juga!" perintah Ema pada anaknya tak bisa diganggu gugat. Arsen harus menurut apa kata bundanya.


"Bun. Jangan sekarang," ucap Arsen dengan wajah yang memelas.


"Bunda mau kamu putusin Risa sekarang. Atau bunda yang akan nemuin Risa?"


"Bun. Jangan gitu. Nanti Arsen akan putusin Risa," putus Arsen dengan berat.


Arsen mengucapkan maaf berkali-kali dalam hati karena dia tidak bisa menepati perkataannya nanti.


Dia tidak bisa jika harus memutuskan perempuan yang sangat dia cintai sampai detik ini.

__ADS_1


"Bagus. Ibu tunggu kabar putusnya," ucap Ema lalu beranjak dari tempat duduknya.


Sebenarnya Ema bukan ibu yang begitu tega dengan anaknya sendiri. Namun, menurut dirinya ini adalah yang terbaik.


Kenapa bisa Arsen sepanik ini? Bukankah Aliza juga sudah menyetujui jika nanti mereka menikah gadis itu tidak keberatan dengan hubungannya.


***


Paperbag kecil pemberian Aliza itu masih utuh tak tersentuh belum dibuka.


Arsen segera meraihnya dan membuka peperbag berwarna hitam itu.


Jam tangan berwarna hitam dan elegan itu sangat apik dipandang. Apalagi digunakan dipergelangn tanga.


Arsen tak menyangka jika Aliza akan memberinya hadiah seperti ini.


Ternyata gadis itu diam-diam mencari tau tentang dirinya.


Mulai sekarang jam tangan ini akan selalu dirinya gunakan. Lalu pandangan Arsen tertuju pada kotak sepatu disamping lemari.


Sepatu itu adalah hadiah dari Risa pacarnya. Yang jelas itu juga akan berguna bagi dirinya. Bagiamana bisa seperti ini? Diberi hadiah oleh dua perempuan berbeda.


Arsen meraih ponselnya diatas nakas. Dia berniat menelepon Aliza.


"Halo?"


"Halo."


"Belum tidur?" tanya Arsen yang sadar akan suara Aliza sedikit serak seakan sehabis menangis.


"Belum."


Jawaban Aliza membuat Arsen berpikir matang jika gadis itu sehabis menangis.


Lihat saja tebakannya pasti benar.


"Lo habis nangis?" tanya Arsen hati-hati.


"Nggak kok," jawab Aliza cepat.


"Oke. Btw makasih ya buat kadonya sama kuenya. Enak banget ternyata. Itu pasti buatan kamu, kan?" tanya Arsen asal menebak dengan pedenya.


"Bukan. Itu pegawai aku yang buat," jelas Aliza.

__ADS_1


"Oh. Gue kira lo sendiri yang buat," ucap Arsen sedikit meringis menertawai kesalahannya.


"Oh ya makasih juga buat kadonya. Gue suka banget. Kebetulan jam tangan gua juga udah perlu ganti."


"Syukur deh kalo gitu, Kak. Gue ikut seneng kalo kado dari gue berguna buat lo."


"Tentang tadi—" Arsen menggantungkan kalimatnya.


"Nggak papa. Gue nggak marah," jawab Aliza cepat.


"Eh, maksud gue. Nggak ada masalah lo mau sama Risa ngapain. Itu kan hubungan kalian berdua," ucap Aliza meralat kalimat pertamanya.


Sebenarnya jika boleh Aliza mengatakan cemburu sekarang juga. Bahkan cemburupun sepertinya dirinya tidak berhak. Arsen jelas-jelas menyukai perempuan lain, bukan menyukai dirinya.


Aliza harus sadar diri akan hal itu.


Hubungannya nanti hanya sebuah takdir yang berpihak beberapa waktu kedepannya dan bersifat sementara.


Bolehkah Aliza cemburu jika nanti dia menikah dengan Arsen? Bisakah dia merasakan dicintai dengan hebat oleh seorang suaminya nanti?


Menjalin hubungan yang sungguh-sungguh layaknya sepasang suami istri. Bukan perjodohan yang mengantarnya kedalam pernikahan dengan rasa cinta yang sepihak?


"Seriusan?" tanya Arsen memastikan.


"Iya. Gue nggak ada masalah," jawab Aliza mantap.


Padahal hatinya seakan teriris. Gadis itu mengigit bibirnya agar suara isakan itu tidak terdengar oleh Arsen.


Entahalah, air mata itu turun kembali dengan derasnya. Sesakit ini ternyata.


"Ya udah. Setelah selesai nangisnya. Langsung tidur, biar nggak ngantuk besok. Good night."


Sambungan terputus setelah Aliza menjawab dan menutup teleponnya.


Tangis Aliza semakin menjadi. Suara isakan itu semakin jelas.


Kenapa takdir menyatukan jika salah satu dari mereka pun sebenarnya menolak?


Di tempat lain, Arsen mendapat pesan dari adiknya yang kuliah di Amerika.


Nikoo Tengil


Gue besok pulang.

__ADS_1


__ADS_2