
Selamat malam semuanya.
selamat datang di cerita author.
author ada rekomendasi novel yang bagus banget.
"Arsen itu suka banget sama bakso. Mau di goreng atau dikasih kuah pun dia tetep suka. Dia pokoknya penggemar berat bakso," jelas Ema seraya menata makanan diatas meja.
Aliza diajari bagaimana membuat bakso yang enak versi Bunda mertua.
Siang tadi Ema meneleponnya dan mengajak menantunya itu membuat makanan kesukaan putranya.
Perempuan dengan rambut dicepol dan apron yang melekat pada tubuhnya. Terlihat jelas jika dia ikut memasak untuk acara makan sore ini.
Aliza berjalan menuju meja makan menyusul sang mertua dengan membawa semangkuk bakso kuah yang sangat menggugah selera siapapun yang menghirup aromanya.
"Arsen udah sampek mana katanya?"
"Nggak tau, Bun. Cuma katanya sebelum magrib udah sampai," jelas Aliza setelah selesai menata semuanya diatas meja dengan dibantu Bunda mertuanya.
Kali ini benar-benar Aliza yang memasak. Dari mulai masakan berkuah hingga gorengan. Kecuali bakso, karena dia baru belajar.
Ema mengangguk mengerti. "Ya udah kita tunggu aja."
"BUNDAAA!" teriakan Niko yang baru saja datang itu membuat Aliza menutup telinganya.
Laki-laki itu segera memeluk Ema dari belakang. "Masak apa, Bun?" tanyanya setelah melihat begitu banyak makanan diatas meja. Seperti akan ada sebuah acara tapi kenapa dirinya tidak diberi tau?
"Mau ada apaan nih?" tanya Niko lalu memyomot satu ayam goreng tapi dengan cepat tangan nya dipukul oleh Ema.
"Hus! Jangan kebiasaan kaya gitu. Mandi dulu baru makan!" peringat Ema.
Niko menyengir tak berdosa. "Satu aja, Bun."
"Nggak! Nggak ada satu-satu. Yang ada nanti kamu bisa abis nih satu piring, yang lain nggak kebagian."
"Niko nggak bakalan abis Bun segitu mah. Emang Niko penggiling makanan?"
Ema tertawa begitu keras. "Ya udah buruan ah. Cepet manid!"
"Al. Mau ikut gue nggak?" tanya Niko pada Aliza.
"Kemana?" Aliza menaikan sebelah alisnya bingung.
"Mandi," jawab Niko dengan entengnya lalu tertawa.
"Niko! Nggak usah ganggu kakak ipar kamu!" ucap Ema seraya memberi cubitan kecil dibagian perut putra bungsunya itu.
Jika Niko bisa memilih antara dicubit besar atau kecil. Maka dia akan memilih dicubit besar. Karena diberi cubitan kecil itu lebih sakit lagi.
__ADS_1
"Aww. Sakit, Bun. Iya-iya Niko mau mandi dulu!" ucap Niko seraya mengangkat tangannya tanda menyerah.
"Tungguin gue mandi ya, Al!" goda Niko lalu memberi kedipan mata genitnya.
"Niko!" Ema mengambil serbet yang disampirkan di pundaknya lalu menghar putra bungsunya karena sudah geregetan.
Aliza hanya menggeleng pelan dengan senyum manisnya. Tak habis pikir terkadang dengan sikap Niko yang seperti itu.
***
"Gimana baksonya enak nggak?" tanya Ema setelah selesai acara makannya tapi masih duduk santai di tempatnya.
Arsen mengangguk. "Enak banget. Buatan Bunda selalu enak."
Laki-laki itu datang pukul 5 sore. Jadi, mereka masih bisa makan bersama.
Arsen diberitahu Aliza jika suaminya itu harus pulang ke rumah orang tuanya sendiri.
"Iya dong. Istri siapa dulu." ucap Ravli menatap istrinya dengan senyum penuh cinta.
"Bukan buatan Bunda. Tapi Aliza yang buat," ucap Ema yang mengejutkan Aliza yang hampir saja tersedak.
Aliza tersenyum kaku menatap Arsen yang menatapnya heran. "Cuma bantu-bantu aja kok."
"Sama aja Aliza yang masak. Bunda jadi jurinya." Gelak tawa dari Ema itu membuat Aliza meringis. Malu rasanya.
"Enak kok." Pujian Arsen itu berhasil membuat Aliza tersenyum sekaligus membuat hatinya menghangat.
"Tadi pamit keluar. Mau main katanya," jelas Ema.
"Tau kalo gue pulang malah pergi," gerutu Arsen yang masih bisa didengar oleh Aliza.
Dirinya juga tidak tau kenapa Niko tiba-tiba pamit keluar. Niko hanya pamit pada Ema pergi main.
***
"Kopinya, Kak." Aliza menaruh kopi panas itu diatas meja didepan Arsen duduk.
Arsen yang terkejut dengan kedatangan Aliza itu hanya mengelus dada. "Ngagetin aja."
Arsen pikir tadi Ema yang mengantarkan kopi itu. Karena dia tadi minta tolong pada Bundanya. Ternyata Aliza yang mengantarkannya.
"Lagian ngapain lo ngelamun di balkon. Mending tidur, udah malem, Kak," peringat Aliza.
"Belum ngantuk, Al."
"Ya udah gue tidur duluan. Cepet di minum kopinya keburu dingin nanti. Malam-malam kok minum kopi." Aliza yang baru saja ingin melangkah pergi tapi terhenti.
Menurut Aliza, suaminya itu terkadang memang agak aneh. Malam-malam waktunya orang tidur, berbeda dengan Arsen yang malah minum kopi.
Padahal dia bukan begadang mengerjakan pekerjaan kantornya.
__ADS_1
Hanya sekedar ingin minum kopi saja.
"Duduk sini! Ada yang mau gue omongin." Arsen menepuk kursi disampingnya yang kosong.
Aliza mau tak mau harus menurut. Entah apa yang akan Arsen katakan padanya.
"Lo semalem sama Niko ya?" tanya Arsen membuka percakapan serius.
Aliza mengangguk ragu. Dia takut jika Arsen marah padanya.
"Nggak usah takut gitu. Gue nggak marah. Gue juga nggak masalah kalo lo mau main atau pergi sama Niko lagi, pas gue lagi sibuk atau emang lo pengen main aja sama dia biar nggak sepi. Asal ngomong dulu sama gue," tutur Arsen menatap Aliza serius.
Aliza mengangguk tanda mengerti.
Dia bingung sebenarnya yang menjadi suaminya itu Arsen atau Niko?
Bahkan dia tidak cemburu sama sekali ketika dirinya jalan bersama laki-laki lain walaupun itu adalah adiknya sendiri.
"Gue tau gue sering sibuk dan nggak ada waktu buat dirumah. Gue harap lo bisa memahami ini. Lo bakalan banyak waktu sendiri di rumah."
"Gue tau lo kerja. Tapi setelah pulang lo pasti sendiri. Kalo bosen lo bisa kesini."
"Iya gue tau. Gue nggak masalah sih kalo cuma di rumah sendirian. Paling kalo nggak pengen keluar karena capek atau jenuh aja," ucap Aliza membuat Arsen tersenyum.
"Gue harap lo bisa bahagia walau nikah sama gue yang banyak ngasih rasa sakit buat lo," ucap Arsen manatap istrinya dalam.
Aliza tersenyum. "Gue nggak papa, Kak."
"Maafin gue—" Arsen menunduk tak berani menatap Aliza.
"Maafin gue yang belum bisa menjadi suami yang baik buat lo," sambungnya.
"Gue nggak papa, Kak. Lo nggak perlu minta maaf. Gue baik-baik aja." Aliza menangkup pipi suaminya dibawanya untuk menatap dirinya.
"Gue akan berusaha untuk menjadi istri yang baik buat lo. Gue bakal usahain itu."
Aliza tersenyum tulus.
Jika nanti memang takdir tak berpihak padanya. Tak apa. Usahanya untuk menjadi istri yang lebih baik untuk Arsen itu gagal karena rumah tangganya hancur itu bukan suatu hal yang bisa Aliza sesali.
Malah dia bersyukur sudah diberi kesempatan untuk menjadi orang yang bisa masuk kedalam kehidupan Arsen. Karena dulu Aliza hanya sekedar kenal tanpa bisa berbincang dan kenal lebih jauh.
Arsen menatap sendu perempuan didepannya. "Semoga setelah ini ada laki-laki yang bisa bikin lo bahagia. Jangan yang kaya gue."
Aliza mengangguk menahan air matanya yang akan jatuh membasahi pipinya.
Tapi gagal. Bulir bening itu turun tanpa izin.
Arsen langsung menarik Aliza kedalam pelukannya. Mengusap lembut kepala dan punggung istrinya.
Hati Aliza sakit sekali ketika mendengar kalimat terakhir Arsen. Bagaimana tidak sakit jika seorang suami mengatakan kalau suatu hari nanti pasti akan ada laki-laki yang akan membahagiakannya tapi bukan suaminya sendiri?
__ADS_1
Hati Aliza seperti ditusuk ribuan jarum. Sakit sekali. Dadanya mulai sesak.