
Halo para readers.
Selamat malam.
Sambil nunggu aku update bab selanjutnya. Aku mau rekomendasiin novel bagus nih.
Kalian pasti penasaran gimana jalan ceritanya.
Arsen yang tiba mendapatkan pesan dari pacarnya segera pergi dan berpamitan pada Aliza.
Sangking terburu-burunya Arsen tidak menunggu jawaban dari istrinya dahulu sebelum pergi. Dia begitu panik ketika mendengar Risa masuk rumah sakit.
"Mah. Gimana keadaan Risa?" tanya Arsen sebelum masuk ke ruang rawat inap pacarnya.
"Eh, i-itu Risa didalem. Langsung aja ke dalem. Dokter bilang magh nya kambuh." jawab wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Risa.
Arsen langsung masuk tanpa berpikir panjang. Wajah Risa benar-benar pucat dengan mata yang tertutup berbaring diatas brangkar.
Arsen mendekat lalu mengusap halus pipi mulus milik Risa. Rasa sakit ketika melihat orang yang disayang itu sangat luar biasa. Terkadang ingin sekali menggantikan posisinya. Biar dia saja yang merasakan sakit itu.
Sebenarnya Arsen heran kenapa Risa bisa kambuh seperti ini? Padahal belum lama dirinya baru saja selesai melakukan operasi. Lalu sekarang penyakitnya kambuh?
Padahal tadi ketika Risa hadir di pernikahannya dengan Aliza, perempuan itu terlihat baik-baik saja.
"Sayang." Tangan Arsen mulai turun sampai pada tangan Risa. Diganggamnya tangan yang lebih kecil darinya lalu dikecupnya lama.
"Cepet sembuh ya." Air mata Arsen tak bisa terbendung. Sesakit itu.
Sebesar itu kah rasa cintanya pada Risa?
Sungguh beruntung sekali perempuan bernama Risa itu. Dia benar-benar dicintai dengan hebat oleh Arsen.
Tiba-tiba mata Risa mulai dibuka perlahan. Perempuan itu menatap Arsen yang menatapnya begitu sendu.
__ADS_1
"Sayang?" Arsen semakin menggenggam erat tangan Risa.
"Kamu kok disini?" tanya Risa bingung.
"Kamu tadi yang ngirim pesan ke aku kalo kamu masuk rumah sakit," jelas Arsen menatap Risa bingung.
"Hah? Aku aja dari tadi nggak megang handphone." Mereka berdua sama-sama dibuat bingung.
"Mamah yang kirim pesan buat Nak Arsen." Perempuan paruh baya itu masuk membawa sekantong plastik putih.
"Mamah bawain roti buat kamu. Biar seenggaknya ada yang masuk buat ganjal perut." Wanita itu mengeluarkan isi plastik yang dirinya bawa. Beraneka macam roti, dari yang roti basah hingga kering.
"Tapi Risa nggak mau, Mah." Gelangan Risa itu membuat Arsen mengambil salah satu roti basah itu.
"Aku suapin ya. Biar kamu cepet sembuh." Arsen mulai membuka bungkus plastik yang melindungi roti basah itu.
"Nggak mau." Risa menggeleng dengan menutup mulutnya mengunakan tangan kanan yang tidak diinfus.
"Dikit-dikit. Coba buka mulutnya!" Akhirnya Risa menurut. Perempuan itu mulai bangun lalu duduk dan membuka mulutnya.
"Kok bisa sampai maghnya kambuh?" tanya Arsen menatap Risa serius.
"Telat makan." Jawaban Risa membuat Arsen semakin berpikir keras.
Perempuan itu selalu berusaha mengatur pola makannya. Apa mungkin karena melihat pecaranya menikah dengan wanita lain? Apa itu begitu sakit untuk Risa sampai membuat perempuan itu masuk rumah sakit?
"Ya udah makannya sekarang yang teratur lagi ya. Biar nggak kambuh-kambuh lagi," ucap Arsen yang diangguki oleh Risa.
Disisi lain ada seorang perempuan yang menatap kemesraan mereka dari balik pintu kamar rawat inap. Aliza tadi berinisiatif untuk mengikuti Arsen.
Sampai ketika dirinya melihat Arsen masuk ke rumah sakit menuat Aliza bingung. Namun, tetap Aliza ikuti hingga masuk ke ruangan.
Aliza menutup mulutnya. Padahal mereka, Risa dan Mamahnya yang menyusun rencana agar Arsen tidak bisa bermalam pertama dengan dirinya.
Dia mendengar jelas ketika Mamah Risa berbicara dengan salah satu perawat.
__ADS_1
"Udah selesai pasang infusnya?" tanya wanita paruh baya yang membuat Aliza bingung.
"Udah, Bu." jawab perawat itu.
"Tapi nggak kamu infus beneran 'kan?" Perawat itu menggeleng lalu pergi setelah diberi arahan oleh wanita itu.
Aliza semakin berpikir ada yang aneh. Ada apa ini? Sampai Aliza tau jika memang mereka hanya berpura-pura mengatur semuanya.
Dia tak habis pikir ternyata seorang perempuan cantik yang banyak dikagumi dan dipuji oleh banyak orang karena kecantikan parasnya itu tak menjamin.
Jujur saja hati Aliza sangat sakit ketika melihat Arsen menangis karena Risa. Menggenggam tangan perempuan itu dengan kasih sayang. Sebegitu hebatnya cinta Arsen untuk Risa?
Lalu dirinya bagaimana sekarang?
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Dia ingin pergi dari sini. Mencari tempat dimana dia bisa melampiaskan rasa sakit ini.
***
"Ngapain disini, Al?" Suara itu membuat Aliza menoleh dan mendapati Niko berdiri menatapnya bingung.
Niko mengambil tempat disamping Aliza. "Kenapa? Lo abis nangis?"
Aliza menggeleng. "Gue nggak papa."
"Gue tadi ke apartemen mau nganterin baju-bajunya Kak Arsen yang belum dibawa semua." Niko menatap Aliza dengan mata sambabnya. "Ternyata gue malah nggak bisa masuk. Gue telepon Kak Arsen juga nggak diangkat."
"Terus ngapain lo kesini?" tanya Aliza masih menatap kosong lurus kedepan.
"Gue liat lo disini. Jadi, gue kesini."
"Lo lagi ada masalah sama Kak Arsen?" tebak Niko. Tidak mungkin perempuan itu keluar malam. Apalagi ini adalah malam pertama mereka. Seharusnya mereka bersama.
Aliza diam tanpa minat untuk menjawab. Perempuan itu menatap luas taman yang masih ramai dengan pengunjung.
__ADS_1
Begitu ramai tapi sangat kosong bagi Aliza.