
Halo para readers!
Selamat malam.
Sembari menunggu author update bab selanjutnya. Mau rekomendasiin cerita horor. Bagi pecinta horor mari merapat.
Pagi ini matahari begitu cerah dengan langit biru yang sangat indah.
Aliza meminta untuk keluar dari kamar rawat inapnya dengan alasan dirinya ingin keluar dan berjemur.
"Aliza!" Arsen menghentikan laju kursi roda yang ditumpangi oleh istrinya lalu dia berjongkok menatap perempuan itu sendu.
"Gue minta maaf," ucap Arsen dengan mata yang berkaca-kaca. "Gara-gara gue lo sampai kaya gini. Sekali lagi gue minta maaf." Air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. Akhirnya Arsen menangis didepan Aliza.
"Kak? Lo kenapa?" Aliza mengusap pelan air mata suaminya. "Gue udah maafin lo."
Perempuan yang duduk dikursi roda itu menangkup wajah suaminya. "Gue nggak papa, Kak."
"Ini yang gue takutin. Setelah lo nikah sama gue lo jadi banyak sakitnya," jelas Arsen setelah tangisnya mulai mereda.
Entahlah, Arsen bisa sampai menangis begitu didepan Aliza. Ada perasaan bersalah yang amat dalam.
Jika dipikir kembali dia terlalu egois hanya memikirkan perasaan dirinya sendiri.
Menemui kekasihnya tanpa memperdulikan istrinya bagaimana.
"Ini udah jadi kesepatakan kita, Kak. Sebelum menikah kita udah biacarain ini," ucap Aliza mengingat kembali masa dimana dia menyetujui permintaan konyol Arsen yaitu setelah menikah dia dan Risa akan tetap menjalin hubungan.
"Gue udah setuju. Jadi, itu udah tanggung jawab gue, Kak. Gue harus nerima apapun nanti."
"Gue minta maaf." Arsen mengecup berkali-kali punggung tangan istrinya.
"Maaf setelah nikah sama gue jadi banyak sakitnya." Arsen lalu membawa Aliza kedalam dekapannya yang begitu nyaman.
Di balik dinding ruangan yang menjadi batas halaman luar seperti taman, ada seorang perempuan yang tengah mengamati mereka sejak tadi.
__ADS_1
Risa mengepalkan tangannya kuat lalu memukul dinding disampingnya.
"Gue nggak bisa biarin. Arsen harus jadi milik gue. Mau gimana pun caranya," lirihnya menatap tajam sepasang suami istri itu dengan senyum miringnya.
***
Langkah Aliza mulai tak seimbang, pandangnya mulai kabur. Perempuan itu ingin ke kamar mandi tapi tidak ada yang bisa membantunya. Di ruang rawat inap ya hanya ada Arsen yang menunggunya.
Namun, Arsen sangat pulas sekali tidurnya. Jadi, Aliza tidak tega jika harus membangunkannya.
Ternyata Aliza belum kuat berjalan dan dia merutuki dirinya sendiri kerena tak mau meminta bantuan.
"Arsen!" lirihnya lalu semua menjadi gelap.
Aliza yang memiliki riwayat darah rendah itu sering merasakan pusing dan pandangan bergoyang.
"Aliza!" Arsen langsung menopang tubuhnya tubuh istrinya lalu dibawanya ke brangkarnya.
Arsen segera memencet tombol yang ada di ruangan itu guna memanggil tenaga medis jika ada sesuatu yang terjadi.
"Istri saya pingsan, Dok." Arsen terlihat begitu panik.
"Silahkan bapak keluar dulu. Biar saya periksa." Dokter yang sudah memasuki usia 50 an itu mendekat kearah Aliza.
Arsen segera keluar dan menunggu didepan pintu rawat inap istrinya.
Dia berjalan mondar-mandir didepan pintu.
Wajahnya terlihat begitu panik.
"Arsen? Kamu kemana aja? Risa keadannya makin drop sekarang." Wanita paruh baya itu datang tiba-tiba.
Arsen yang terkejut hanya menatap wanita didepannya itu tanpa berkedip.
"Risa makin drop keadaanya," ucap wanita itu lagi.
Arsen menggelengkan kepala pelan. "Risa? Kok bisa drop, Bu?"
__ADS_1
"Ibu nggak tau." Wanita paruh baya itu mulai bercucuran air mata.
Arsen mengelus pelan punggung ibu dari pacarnya itu. "Ayo kita ke ruangan Risa, Bu!"
***
Nada dering panggilan yang berasal dari ponsel Arsen itu menampilkan nama "Bunda"
Laki-laki itu segera mengangkat teleponnya. "Kamu dimana? Bunda cari kamu nggak ketemu. Kenapa kamu tinggalin Aliza sendiri?"
Pertanyaan memberondong dari Ema itu membuat Arsen memijat pelipisnya. Dia sangat pusing sekarang. Kenapa dua perempuan yang sama-sama berperan penting dalam hidupnya harus sakit secara bersamaan?
"Iya, Bun. Nanti Arsen kesana. Tadi Arsen keluar sebentar ada yang mau dicari." Arsen terpaksa berbohong agar Ema tidak curiga.
Risa mulai membuka matanya lalu menatap Arsen. "Sayang?"
"Iya. Aku disini sayang. Cepet sembuh ya." Arsen menggenggam erat tangan Risa setelah meletakkan ponselnya diatas meja.
"Jangan tinggalin aku ya." Risa memohon dengan mata yang berkaca. "Aku takut. Aku pengen ditemenin kamu."
Tanpa ragu Arsen mengangguk. Lalu bagaimana dengan Aliza? Yang jelas posisinya sebagai istri?
***
"Kakak kamu kemana?" tanya Ema pada Niko yang baru saja datang.
"Dari tadi Kak Arsen belum kesini?" tanya Niko bingung. Seharusnya jika Arsen mempunyai pikiran yang waras dia sudah kesini.
"Udah. Tapi pergi lagi. Udah bunda telepon katanya mau kesini. Tapi sampai sekarang belum dateng-dateng," jelas Ema.
Niko bisa menebak jika Kakaknya itu sedang ada di ruanganan wanita licik itu.
Namun, untuk sekarang sepertinya waktu yang tidak tepat jika harus kesana lalu memukul Arsen.
Laki-laki itu sangat geram pada Arsen.
Dia tidak habus pikir dengan jalan otak Arsen. Mungkin memang isnya hanya Risa saja. Yang lain tidak dia pedulikan.
__ADS_1