Perjodohan Paksa Dengan Crush

Perjodohan Paksa Dengan Crush
Bab 12 Kue Ulang Tahun


__ADS_3

"Gue dengar," ucap Arsen lalu menoleh menatap Aliza


"Dengar?"


"Dengar lo ngomong nggak jelas."


Aliza melemparkan lirikan tajam pada Arsen yang bersikap biasa saja.


Padahal tadi. Suaranya seakan tercekat. Takut jika Arsen benar-benar mendengar perkataannya.


***


"Pesanan saya udah siap, Mba?" tanya Aliza pada pegawainya itu.


Dia meminta untuk dibuatkan kue ulang tahun khusus untuk Arsen. Ya, hari ini adalah hari dimana seorang laki-laki ramah itu lahir.


Aliza sangat tidak sabar untuk memberikan kue ini pada Arsen.


Kue sederhana dengan perpaduan warna yang tidak mencolok tapi terlihat bagus.


"Oh. Udah, Bu. Sebentar ya saya ambilkan, Bu." Pegawai itu berjalan masuk kedalam lalu kembali dengan kotak warna putih ditangannya.


"Mba Devi nggak berangkat hari ini?" tanya Aliza pada pegawainya yang baru sebulan bekerja di toko rotinya itu.


Pegawai itu menggeleng. "Belum, sakit katanya, Bu."


"Iya, tadi dia izin ke saya. Terus yang nganter kue siapa? Ada orderan delivery hari ini?"


Devi merupakan pegawainya yang sudah lama bekerja dengannnya. Biasanya Devi lah yang akan mengantarkan jika ada pesanan delivery.


Toko roti Aliza memang bisa menerima pesanan delivery.


"Ada, Bu." Pegawai itu menganguk seraya mengecek alamat pembeli.


"Alamatnya di restoran, Bu," jelasnya.


Aliza melihat alamatnya secara detail dan kebetulan dirinya juga akan melewati jalan yang sama.


"Yang delivery cuma ini aja?" tanya Aliza.

__ADS_1


Pegawai itu mengangguk. "Iya, tinggal ini aja, Bu."


"Ya udah saya yang anter aja. Saya ngelewati alamat ini."


Pegawai itu hanya mengangguk menuruti apa yang dikatakan Aliza.


Setelah sampai di parkiran Aliza berinisiatif untuk menelpon Arsen karena dirinya akan ke rumah laki-laki itu untuk memberikan kejutan.


Namun, telponya tidak diangkat dan Aliza memutuskan untuk langsung saja ke rumahnya.


Setelah Aliza menempatkan kue disampingnya dengan aman dan gadis itu meraih paperbag yang berisi jam tangan itu. Aliza ingin memberikan hadiah ini pada Arsen. Walau hanya sederhana, dia berharap benda kecil ini sangat berguna bagi Arsen.


***


Sesampainya Aliza di restoran yang sesuai dengan alamat pembeli. Ketika dirinya keluar dari mobil, ada satu mobil yang mencuri perhatiannya.


Mobil berwarna putih itu seperti milik Arsen. Apa benar Arsen ada disini?


Apa dirinya sedang ada meeting hingga tak sempat mengangkat telponnya.


Namun, Aliza menepis asumsinya.


Aliza melangkah masuk dan ternyata gadis berambut panjang diikat kebelakang setengah itu sedang menunggunya.


Aliza baru sadar jika namanya seperti nama pacar Arsen. Jujur saja Aliza hanya sekedar tau nama gadis itu.


"Iya, Mba. Kok lama banget sih? Saya dari tadi udah nungguin loh." Risa segera mengambil kotak berwarna putih itu dari tangan Aliza.


"Maaf atas ketidaknyamanannya. Tadi ada sedikit kendala jadi terlambat," jelas Aliza lalu tersenyum manis.


Padahal Aliza merasa tidak enak pada pelanggannya ini.


"Ya udah nggak papa. Uangnya udah saya transfer." Risa langsung masuk begitu saja tanpa menunggu jawaban Aliza.


Aliza menghembuskan napasnya lelah.


Sebenarnya dia hanya terlambat 5 menit saja. Namanya juga terlambat ya tetep terlambat.


Sebelum Aliza berniat beranjak dari tempat itu dia melihat Arsen yang sedang duduk menatap Risa yang membawakan kue ultah untuk Arsen.

__ADS_1


Wajah Arsen yang begitu bahagia membuat Aliza juga ikut bahagia.


Senyuman tipis itu mulai muncul.


Hatinya seakan teriris, begitu perih.


Napasnya mulai tidak teratur, dadanya naik turun, matanya sudah berkaca-kaca.


Hingga mata Arsen bertemu dengan Aliza. Mereka bertatapan selama 5 detik sampai akhirnya Aliza yang memalingkan wajah.


Dia sudah tidak tahan lagi melihat kebahagiaan mereka. Katakan saja ini lebay. Tapi begitu adanya. Dia sudah tidak kuat. Jika dirinya tetap disini sama saja memelihara rasa sakit. Makanya lebih baik Aliza segera pergi saja.


***


"Aliza." Ema berjalan kearah perempuan berambut panjang berwarna sedikit kecoklatan itu yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Kenapa, Al? Kok kesini nggak ngasih tau, Bunda?" tanya Ema lalu duduk setelah bersalaman dengan calon menantunya itu.


Aliza tersenyum. "Aliza mau ngasih kejutan buat Kak Arsen, Bun."


"Kejutan apa itu?" tanya Ema mengerutkan dahi.


"Bunda lupa hari ini hari apa?" Aliza menatap Ema tidak percaya.


Dalam benaknya apa mungkin seorang ibu lupa tanggal lahir anaknya sendiri?


"Hari minggu. Bunda nggak lupa kok. Hari ini hari ulang tahun Arsen," jelas Ema.


"Oh. Aliza kira Bunda lupa."


"Iya nggak papa. Bunda mana mungkin lupa tanggal lahir Arsen." Ema menampilkan senyum yang begitu manis.


"Tapi Arsen lagi nggak di rumah."


"Emang Kak Arsen kemana, Bun?"


"Katanya masih ada meeting di kantor," jelas Ema. Mau tidak mau wanita paruh baya itu harus mencari alasan.


Aliza melirik jam dinding yang menunjukan pukul 5 sore. Biasanya Arsen sudah pulang jam segini.

__ADS_1


Kenapa Arsen berbohong pada Bundanya?


Padahal dia sedang di restoran bersama pacarnya.


__ADS_2