
Hai para readers!
Sambil nunggu Author update bab selanjutnya. Mau rekomendasiin nih cerita yang bagus buangett.
"Kok nggak di angkat sih?" Arsen berkali-kali menelepon Aliza.
Ketika dia pulang ke rumah, istrinya sudah tidak ada. Dia sudah berusaha mencari keseluruh sudut rumah tapi hasilnya nihil.
Arsen teringat dengan salah satu pegawai toko roti Aliza. Dia segera mencari nama pegawai itu dikontaknya. Karena Aliza tadi pamit untuk ke toko roti.
Setelah menekan tombol panggil, akhirnya panggilan terhubung dan tak lama diterima.
"Halo?" Suara perempuan yang membuka percakapan. Arsen masih ingat suaranya.
"Saya mau nanya. Istri saya sudah pulang atau belum?"
"Oh. Pak Arsen ya. Sudah sedari tadi sore, Pak." Balasan pegawai itu membuat Arsen menggeram pelan.
"Oh. Ya sudah terima kasih." Arsen segera menutup sambungan teleponnya.
"Aliza! Lo kemana?" Arsen kemudian mengantongi ponselnya lalu mengambil kunci mobilnya.
Sebelum Arsen masuk ke mobil, dia dikagetkan dengan kedatangan Niko.
Laki-laki dengan motor KLX merahnya itu turun kemudian berjalan kearah Arsen.
"Mau kemana?" tanya Niko bersender di mobil Arsen.
Arsen memicing. "Tumben lo kesini? Kenapa? Kalo mau ada yang dibicarain nanti aja. Gue lagi buru-buru."
Niko mencekal tangan Arsen. "Mau nyari Aliza?"
Arsen menoleh menatap adiknya. "Maksud lo?"
__ADS_1
"Lo nyari Aliza, kan?" tanya Niko sekali lagi. Pasti pertanyaannya ini benar.
Arsen membenarkan posisi tubuhnya menghadap tepat didepan Niko. "Apa yang lo tau tentang Aliza? Dimana dia?"
"Ngapain lo nyariin dia? Bukannya lo nggak peduli?" Niko bersedekap dada lalu berbalik badan. "Lo kan nggak pernah peduli gimana perasaan dia selama nikah sama lo."
"Maksud lo apa sih?" Arsen membalikan badan Niko.
"Santai dong, Kak." Niko mengangkat kedua tangannya.
"Gue tanya maksud lo apa?" tanya Arsen dengan kepalan dikedua tangannya semakin kuat hingga terlihat uratnya.
"Aliza tau lo makan malam sama Risa di restoran," jelas Niko.
Arsen menatap adiknya itu sangat tajam. "Sekarang dia dimana?"
"Mending besok aja kalo mau ketemu. Biarin dia istirahat sekarang," ucap Niko apa adanya.
"Gue butuhnya sekarang dia ada dimana, Niko?" ucap Arsen penuh tekanan di akhir kalimat. Dadanya naik turun tak beraturan. Napasnya sangat sesak.
Arsen menghembuskan napas lelah. "Aliza kenapa sih?"
Entahlah, Arsen bingung terkadang dengan sifat istrinya begitu. Padahal sebelum menikah mereka sudah melakukan perjanjian. Jika hubungannya dengan Risa masih berjalan setelah menikah. Bukan kah seharunya itu tidak membuat Aliza seperti ini?
"Lo ngomong apa sih? Ya, wajar lah dia kaya gitu. Dia istri lo, Kak. Haduhhh. Lagian lo juga udah nikah, masih aja pacaran sama Risa."
Arsen memebarikan tatapan sinis pada adiknya. "Lo mending diem kalo nggak tau apa-apa."
"Waduh. Apa nih yang nggak gue tau ya?" goda Niko. Padahal dia sudah tau semuanya. Dia tau tentang perjanjian konyol itu dari Risa.
Perempuan itu yang banyak memberi informasi padanya.
"Seharusnya kalo lo nggak siap dari awal buat nikah. Mending gue aja yang nikah." Ucapan asal dari mulut Niko itu membuat Arsen bingung.
"Lo udah siap nikah?" tanya Arsen menatap adiknya tak percaya. Bahkan terakhir laki-laki didepannya ini masih makan dengan disuapi oleh bundanya.
Bagaimana bisa dia sudah siap untuk menikah? Yang ada nanti istrinya yang akan kerepotan mengurus bayi besar seperti Niko ini.
__ADS_1
Niko mengangguk mantap dengan senyum mengembang. "Kalo istrinya Aliza."
"Kurang ajar!" Arsen memukul kepala adiknya dengan begitu keras.
"Sakit! Njir! Kepala gue." Niko mengusap kepalanya. "Gue bercanda kali, Kak. Bercyanda. Bercyanda."
"Bercanda lo kaya anak kecil. Ini bukan hal yang bisa dibercandain," bales Arsen begitu serius.
"Iya iya. Maaf." Niko menunduk. Jika Arsen sudah serius begitu dia tidak akan berani. Itu menandakan Arsen tidak main-main.
"Lo mau pulang apa gimana? Mau tidur disini?" tanya Arsen menawari adiknya.
Hari sudah larut malam. Mungkin Niko mau untuk menginap di rumah barunya dari pada dia harus pulang malam-malam begini.
"Gue mau pulang ke apartemen aja," jawab Niko spontan.
Niko yang sadar dengan apa yang sudah dia katakan membuatnya menatap Arsen yang menatapnya dengan sorot yang sulit untuk diartikan.
"Maksud gue mau tidur di apartemen satunya. Gue kan punya dua apartemen, kalo lo lupa." Niko segera meralat perkataan awalnya.
"Awas ya sampai Aliza kenapa-napa. Lo habis di tangan gue!" Arsen kemudia lnberjalan masuk tanpa menunggu adiknya pulang terlebih dahulu.
Niko menatap punggung tegap itu yang berjalan menjauh darinya. "Ngeri anjir!" ucapnya bergidik.
***
"Aliza udah dateng?" tanya Arsen pada pegawai yang dia telepon semalam.
"Oh. Belum, Pak. Mungkin sebentar lagi," jawab pegawai itu.
"Oke. Terima kasih."
Tak lama Aliza datang dengan pakaian yang begitu soft pagi ini. Kemeja berwarna krim dan celana model cutbray itu sangat cocok dibadan ya.
"Aliza!" panggil Arsen lalu berjalan mendekat pada istrinya itu.
Aliza yang terkejut hanya bisa diam dengan tubuh yang membeku.
__ADS_1