
"Kak!" Niko berjalan kearah pintu bercat putih itu. Disana ada Arsen yang berdiri menatap adiknya tak percaya masih lengkap dengan pakaian dan tas kantor.
Arsen memang lembur hari ini. Beberapa hari belakangan dia sangat disibukkan dengan pekerjaan kantor yang menguras waktu dan tenaganya.
Niko langsung berhambur memeluk Kakak yang sangat dia sayangi itu. Menepuk keras punggung Arsen.
"Gue kangen banget sama lo." Niko terus menepuk punggung Arsen hingga laki-laki itu mendorong adiknya karena sudah kesal dibuatnya.
"Bodoh! Gue bisa mati," umpat Arsen berusaha mengatur napasnya.
"Hehe. Tapi nggak papa 'kan?" Niko sedikit khawatir karena tanpa sadar tadi dia sudah menepuk punggung Kakaknya begitu keras.
Bukannya menjawab Arsen malah menatap adiknya lekat ada rasa rindu yang mendalam. Ingin sekali dia peluk tubuh tinggi yang melebihi tinggi badannya itu
Ya, seperti tertukar jika dilihat dari segi pertumbuhan. Walaupun dari segi wajah memang tidak bisa dibohongi jika Arsen terlihat lebih tua.
"Kapan lo pulang? Gimana kabarnya? Lo betah disana?" Arsen menepuk lengan adiknya itu yang berubah menjadi lebih berisi.
"Sejam yang lalu. Lo nggak jemput. Gue pulang sendiri lah," ucap Niko menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Ayah nggak jemput?" tanya Arsen bingung.
Pasalnya Ravli sudah mengatakan padanya jika dirinya yang akan menjout putra bungsunya itu.
"Ayah jemput. Gue becanda doang tadi" Niko cengengesan setelah mengatakan itu.
Sepertinya memang Niko sangat senang hidup disana bisa dilihat dari bentuk badannya.
"Lo rutin nge-gym?" tanya Arsen setelah sadar lengan bagian atas Niko terlihat kekar.
"Iya dong. Emang cuma lo doang yang bisa." Niko membuka kaos putih polosnya menampilkan "Roti sobek".
Arsen tertawa renyah. "Segitu doang."
"Lah? Lo ngejek gue, Kak?" tanya Niko seraya menurunkan kaosnya.
Arsen berdehem menetralkan mimik wajahnya. "Nggak. Kalo lo ngerasa ya syukur." Laki-laki itu kemudian meninggalkan adiknya.
"Dasar Kakak laknatt!" Umpatan Niko masih bisa terdengar oleh Arsen.
__ADS_1
Tapi bukannya marah laki-laki itu menyunggingkan senyum manis.
***
"Pernikahan akan dilaksanakan Minggu depan." Reno menatap putrinya yang juga menatapnya begitu serius.
"Kamu nggak usah pusing, nanti biar Papah yang urus. Kamu tinggal siap-siap aja buat pernikahan," jelas Reno pada putrinya itu seraya mengusap pelan kepala gadis dengan piyama warna maroon.
Reno yang baru saja datang membuat Aliza terkejut. Dia yang sedang asyik menonton tv itu berganti fokus menatap ayahnya.
Aliza hanya diam mematung, sedangkan Reno berjalan meninggalkan putrinya.
Pandangannya kosong seakan shock atas kabar yang baru dia dengar.
Padahal sudah jauh-jauh hari dirinya diberitahu. Tapi tetap saja rasanya waktu berjalan lebih cepat.
Aliza menghembuskan napas lelah lalu mematikan televisinya.
Beberapa detik kemudian ponsel Aliza berdering diatas meja didepannya.
Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon malam-malam begini.
"Halo?" Suara berat itu mirip dengan ….
"Iya? Siapa ya?" tanya Aliza yang sudah penasaran.
Suara tawa dari ponselnya itu terdengar sangat renyah. "Lupa ya. Padahal kita pernah satu sekolah," ungkapnya.
"Siapa?" Aliza mengerutkan dahi bingung.
Apakah benar tebakannya? Tapi untuk apa laki-laki itu menghubunginya?
"Coba tebak!" Laki-laki itu menantang Aliza.
"Gue nggak suka tebak-tebakan. Udah kalo Lo nggak jelas gini gue matiin teleponnya." Aliza sedikit mengancam agar laki-laki itu mau mengaku.
Dia tidak ingin masuk dalam permainan laki-laki itu.
"Oke oke. Gue Niko. Lo dari dulu nggak berubah ya." Terdengar kekehan kecil dari laki-laki itu.
__ADS_1
"Niko siapa ya?" Benar tebakan Aliza karena dia masih hapal suara laki-laki itu.
"Ya ampun, Al. Lo lupa sama gue."
Gantian Aliza kini yang tertawa puas.
"Niko. Niko. Gue masih inget sama lo.
Dulu kan lo sering banget gangguin gue."
"Syukur deh kalo lo masih inget. Gue kira lo lupa lagi. Haha."
"Nggak lah. Tumben lo nelepon gue? Ada apa?" tanya Aliza keheranan karena sudah lama mereka tidak pernah berkomunikasi sejak lulus SMA.
"Nggak papa. Gue pengen ngajak lo keluar besok," jelas Niko.
"Tiba-tiba banget lo ngajak gue ketemu," ucap Aliza kembali dibuat heran.
"Ya nggak papa. Gue pengen ketemu sama lo. Ada yang mau gue bicarain."
Akhirnya Aliza mengiyakan ajakan Niko.
Kebetulan juga tidak ada acara yang begitu penting. Mungkin hanya ke toko untuk mengecek keadaan toko.
***
"Gimana kabar lo?" tanya Niko setelah 10 menit menunggu Aliza datang.
"Baik. Lo sendiri gimana? Kayanya lo disana betah ya. Gue sedikit bingung tadi nyari tempat duduknya. Soalnya lo beda banget," ungkap Aliza menatap Arsen serius.
Niko tersenyum. "Ya gitu. Dijalanin aja. Orang kan cuma bisa liat enaknya aja kadang."
Setelah memesan makanan dan minuman Niko kembali membuka suara. "Gue mau ngomongin sesuatu. Tapi setelah kita selesai makan."
Aliza mengangguk disela-sela kunyahannya.
Pikirannya tertuju pada Arsen. Niko pasti sudah tau tentang perjodohan mereka.
Namun, entah apa yang akan dilakukan Niko nantinya.
__ADS_1
Aliza harap bukan sebuah kabar buruk yang harus dirinya terima dengan lapang dada.