
Setelah selesai makan malam bersama, Arsen segera kembali ke rumah sakit.
Dia sudah sangat khawatir.
Sesampainya disana, Arsen melihat Risa yang sudah siuman sedang disuapi oleh Nesa, ibunya. Risa makan dengan berbaring. Wajahnya tampak begitu pucat.
"Gimana keadaannya, Sayang?" Arsen berjalan mendekat kearah brangkar Risa.
"Dari mana aja?" Bukannya menjawab Risa malah bertanya seraya berusaha bangun tapi gagal.
Arsen langsung menopang punggung Risa agar tak jatuh menghantam bed.
"Tiduran dulu aja. Jangan dipaksain!" ucap Arsen seraya menurunkan punggung gadis itu perlahan.
"Dari mana?" tanya Risa menatap Arsen serius.
"Tadi ada meeting mendadak di kantor," ucap Arsen berbohong.
"Beneran?" Nita mengangkat sebelah alisnya.
"Iya, Sayang." Arsen menatap lembut kearah Risa. Namun, pacarnya itu seakan memandangnya tak percaya.
"Gimana keadanya?" tanya Arsen mengalihkan pembicaraan.
"Risa udah mau makan, Bu?" tanya Arsen memandang Nesa yang masih memegang mangkuk berisi bubur.
Setelah operasi dokter menyarankan untuk makan makanan yang lembut seperti bubur.
"Sedikit. Baru dua suapan terus kamu dateng," jawab Nesa.
"Makan lagi ya, Sayang," ucap Arsen seraya menyingkirkan anak rambut yang menggangu pandangan Risa.
Risa menggeleng. "Nggak mau."
"Aku suapin ya." Arsen mengambil alih mangkok bubur dari Nesa.
"Ayo makan! Buka mulutnya!" Arsen menyodorkan sesendok bubur kearah mulut Risa. Namun, gadis itu malah menutup mulut menggunakan tangannya seraya menggeleng.
"Aku nggak mau."
"Ayolah, Sayang. Biar cepet sembuh." Arsen mencoba membujuk Risa.
"Ayo buka mulutnya!"
__ADS_1
"Aku nggak mau," ucap Risa kekeh.
Dia benar-benar tidak mau membuka mulutnya.
Arsen akhirnya menyerah. Meletakkan bubur itu diatas meja. "Ya udah buat istirahat aja ya."
"Kamu mau kemana? Disini aja ya!" Risa memegang tangan Arsen begitu erat.
Pacarnya itu begitu manja. Yang jelas disaat seperti ini Risa pasti membutuhkan sosok Arsen.
"Aku nggak kemana-mana. Aku disini. Jadi, nggak usah khawatir." Arsen mengusap pelan kepala Risa lalu mengecupnya singkat.
Risa memejamkan mata menikmati belaian lembut dari Arsen.
"Maafin aku, Ris. Aku belum bisa jujur sama kamu sekarang," batin Arsen.
***
Hari ini adalah jadwal Arsen dan Aliza untuk foto prewedding. Namun, Aliza mulai khawatir jika Arsen tidak akan datang seperti kemarin karena menunggu pacarnya di rumah sakit.
"Kak Arsen udah dateng, Mba?" tanya Aliza setelah bertemu dengan Arvi.
Perempuan berkaca mata itu menggeleng. "Belum tuh."
Aliza menghembuskan napas perlahan.
Gadis dengan kemeja berwarna maroon itu menatap Arvi dengan mata sendunya. "Nggak kok."
"Bohong nih. Ya udah kita tunggu ada didalem sekalian liat-liat bajunya," ajak Arvi berjalan mendahului dan diikuti oleh Aliza.
"Mau coba pake dulu?" tanya Arvi menunjukan baju adat Jawa Spesial yang kemarin.
Aliza mengangguk. "Boleh."
"Butuh bantuan nggak?" tanya Arvi seraya memberikan baju itu pada Aliza.
"Nggak usah deh, Kak. Kalo aku butuh bantuan nanti aku panggil," ucap Aliza lau masuk ke fitting room.
Setelah selesai Aliza segera keluar menunjukan pada Arvi. Memang Aliza tidak meminta bantuan, karena memang dirinya bisa melakukan sendiri.
"Gimana, Kak?" tanya Aliza seraya memandang busana yang dia pakai.
"Wah. Cantik banget, Mba. Tinggal atur rambutnya aja," ucap Arvi menatap Aliza kagum. Busana itu sangat cocok dibadan Aliza. Mempesona adalah kata yang pas untuk Aliza sekarang.
__ADS_1
"Maaf gue terlambat!" Arsen tiba-tiba datang dengan masih memakai baju kantor dan sedikit basah dibagian baju kemeja putihnya. Jas berwarna hitam itu dia sampirkan dilengan kanannya.
Didepan Arsen sekarang sudah ada Aliza yang sama terkejutnya dengan laki-laki itu.
Dia segera menunduk.
"Cantik banget," batin Arsen.
"Oh ya. Mas Arsen. Mari Mas saya antar liat baju yang mau dipake buat prewedding," ajak Arvi berjalan lebih dulu lalu diikuti Arsen dibelakangnya.
Aliza memegang dadanya dengan detak jantung yang begitu cepat seakan dirinya habis lari maraton.
Untung saja Arvi segera mengajak Arsen pergi kalau tidak Aliza bisa pingsan mungkin sangking gugupnya.
Dari pada berlama-lama diluar fitting room. Aliza memilih masuk kembali ke ruang itu sampai nanti dirinya dipanggil.
Dia malu jika nanti bertemu Arsen. Padahal Aliza foto bersama Arsen.
Tangannya mulai dingin, detak jantungnya masih sangat cepat. Dia sangat gugup.
Akhirnya Aliza mulai menarik napas perlahan lalu dihembuskan dan itu dilakukan berulang kali sampai dia merasa sudah lebih tenang.
***
Setelah selesai menyanggul rambut Aliza.
Arvi mengajak gadis cantik itu untuk keluar bertemu dengan Arsen.
Arsen yang sudah siap dengan busana adat Jawa lengkap dengan blangkon itu membuat kadar ketampanan Arsen bertambah berkali-kali lipat.
Seperti benar-benar orang Jawa asli. Ya, memang Arsen orang Jawa asli kan.
Arsen menatap lekat Aliza dengan biasanya yang begitu mempesona.
Aliza yang awalnya hanya menunduk karena malu akhirnya mendongak menatap Arsen yang tengah menatapnya juga. Ada senyum tipis yang Arsen tampilkan.
Sesi foto dimulai dengan suasana yang begitu canggung. "Santai aja. Fokus aja," ucap Arsen yang sudah disampingnya.
Setelah melakukan pose foto beberapa kali dari mulai Arsen yang duduk dikursi dan Aliza berdiri di sampingnya dan akhirnya fotografer mengarahkan untuk berdiri dengan Aliza yang memegang lengan Arsen kemudian mereka saling berpandangan.
"1 2 3," ucap fotografer dengan lampu yang menyala tanda bahwa sudah berhasil mengambil foto.
Itu adalah pose terakhir bagi mereka.
__ADS_1
"Selesai," ucap fotografer itu lalu memandang kedua insan yang masih saling tatap hanyut dalam dunia mereka sendiri.
Pria dengan rambut cepak itu menepuk dahinya. "Nasib. Nasib. Jadi tukang fotografer."