
Tok. Tok. Tok.
"Aliza buka pintunya!"
Suara itu tidak asing ditelinga Aliza.
Dia langsung menyingkap selimut yang menutupi badannya lalu duduk.
"Aliza buka pintunya! Jangan buat kita khawatir."
Ya, benar dugaan Aliza. Suara itu adalah suara yang sering dirinya rindukan.
Itu adalah suara Arsen.
"Ngapain Kak Arsen kesini?" monolog Aliza seraya turun dari kasur dan berjalan kearah pintu.
Gadis itu mendekatkan telinganya ke pintu. "Gimana ini? Aliza nggak buka pintunya. Tante takut terjadi apa-apa pada Aliza," ucap Nita yang begitu khawatir terdengar dari suaranya yang sedikit bergetar.
"Tante tenang aja. Jangan panik. Aliza pasti baik-baik aja," ucap Arsen menenangkan.
Arsen membuka kembali kenop pintu yang masih terkunci dari dalam. "Tante. Kayanya pintunya harus didobrak," ucapnya.
"Ya udah nggak papa dobrak aja. Pintu bisa diganti," ucap Nita dengan wajah yang begitu cemas.
Arsen tau naluri seorang ibu pasti akan khawatir. Sebenarnya Arsen bingung dengan Aliza yang sepertinya terlalu tertutup terhadap keluarganya.
Padahal yang dia tau Nita begitu sayang terlihat dari kekhawatirannya barusan.
Aliza yang mendengar pintu akan didobrak segera menekan kenop pintu lalu dibukanya sedikit.
Dia menyembulkan kepalanya. "Kenapa, Mah?" tanya Aliza seraya mengucek matanya bak orang sehabis bangun tidur ditambah dengan rambutnya yang acak-acakan membuat kesan bangun tidur sangat terlihat.
Arsen sangat terkejut ketika melihat Aliza.
Gadis itu tiba-tiba muncul seperti hantu ketika dirinya akan mendobrak pintu.
"Aliza!" Nita berjalan mendekat kearah putrinya. Namun, Aliza segera menutup sedikit lagi pintunya agar Nita tidak bisa masuk.
"Kenapa, Mah?" tanya Aliza dibalik pintu.
__ADS_1
"Jang ditutup lagi. Mamah khawatir sama kamu. Kenapa nggak buka pintunya tadi?" tanya Nita.
Aliza membuka kembali sedikit pintunya. "Aliza tidur, Mah. Jadi, nggak dengar."
"Ya ampun. Kamu tuh bikin mamah takut aja. Ya udah kalo gitu nanti mamah minta Bi Sumi siapin air hangat buat kamu mandi. Kalo udah mandi langsung turun ke bawah ya kita makan malam bersama.
Mamah udah masakain ayam goreng kesukaan kamu," ucap Nita.
"Oh ya. Nak Arsen nanti ikut makan malam sekalian ya," ajak Nita.
Sungguh Arsen ingin menolak karena dirinya harus ke rumah sakit untuk menemani Risa. Namun, dia tidak enak hati harus menolak calon mertuanya itu.
Akhirnya Arsen mengangguk. "Iya, Tan."
Nita melangkah menjauh setelah mendapat jawaban dari Arsen.
Kini tinggal dua insan yang saling diam.
Arsen menatap Aliza lekat. "Kenapa mata lo sembab?"
Aliza yang tadinya menunduk kini memberanikan diri untuk mendongak menatap Arsen.
Aliza baru sadar ternyata jika matanya sembab akibat menangis terlalu lama. Ah, memalukan. Harus ditaruh dimana mukanya sekarang?
Arsen memicing seraya berpikir apa yang membuat gadis didepannya ini menangis?
"Kalo lo butuh temen cerita. Lo boleh hubungi gue. Jangan apa-apa disimpan sendiri. Nggak baik," ucap Arsen melangkah maju lalu membenarkan rambut Aliza yang berantakan.
Aliza yang terkejut dengan perlakuan Arsen hanya memandang wajah laki-laki itu dengan kagum.
Desiran hebat itu kembali lagi. Jantung yang berdetak lebih cepat dan seperti ada kupu-kupu terbang diperutnya. Sangat menggelitik.
"Awas naksir," ucap Arsen disela-sela .membenarkan rambut Aliza.
Aliza reflek langsung mengalihkan pandanganya. Malu sekali.
Malu untuk yang kedua kalinya.
Aliza kamu sangat payah.
__ADS_1
"Gue tau gue ganteng," ucap Arsen dengan percaya dirinya.
"Iya. Tau kalo lo ganteng, Kak. Makanya gue naksir," batin Aliza.
"Lain kali jangan buat keluarga Lo khawatir ya. Kasian mereka. Gue juga khawatir pas Tante Nita nelpon."
Aliza mendongak. "Ngapain mamah nelpon?"
"Ngasih tau lo yang nggak buka pintu kamar. Tante Nita khawatir banget pas nelpon gue," jelas Arsen.
Aliza hanya diam. Dia tau pasti Nita akan khawatir. Namun, kenapa harus menelepon Arsen?
"Setelah gue amati lo terlalu banyak nyimpan sendirian. Padahal keluarga juga berhak tau tentang lo," ungkap Arsen.
Dirinya sudah lama ingin mengatakan ini. Namun, belum berani karena takut menambah masalah.
"Mereka tau pun itu nggak akan merubah keadaan, Kak," ucap Aliza menatap Arsen dengan pasangan kosong.
"Mereka tau tapi diam. Mereka seakan tuli dengan keadaan gue. Menurut mereka gue sebagai anak harus menurut kepada orang tua. Walaupun itu bertentangan dengan kemauan anak." Aliza tersenyum miring lalu memalingkan wajah.
Gerakan Arsen terhenti ketika Aliza menoleh.
"Gue tau mereka peduli. Tapi mereka terlalu memaksakan kehendak mereka tanpa memikirkan anaknya bagaimana. Apakah setuju atau tidak? Yang mereka aku hanya kata setuju. Padahal hati ingin menolak dan memberontak."
"Gue udah terlalu banyak nurut sampai nggak berani buat ngungkapin keinginan gue sendiri kadang. Suara gue sering nggak didengar makanya gue sering diem.
Gue berani kadang buat ngomong keinginan gue apa walau berujung akan sama saja. Tapi seenggaknya gue lega udah ngomong apa yang gue mau," jelas Aliza dengan mata yang mulai berkaca.
"Lo udah nolak perjodohan ini?" tanya Arsen menatap Aliza serius.
Aliza mengangguk. "Gue udah nolak. Tapi tetep nggak ada hasilnya. Gue harus nurut apa kata orang tua gue, Kak. Hidup gue udah diatur sama mereka."
"Sorry ya. Tapi masa depan ada ditangan lo. Bukan di kedua orang tua lo. Menurut gue orang tua itu seharusnya mengajari, mengarahkan, menuntun, membenarkan jika salah,dan memberi ruang untuk anaknya memilih bukan mengekang."
"Kadang gue mikir kaya gue yang punya kendali tapi orang lain yang mengendalikan," ungkap Aliza dengan air mata yang sudah tak bisa terbendung lagi.
Aliza lelah. Lelah sekali. Kali ini pertahanannya runtuh.
"Lo harus punya hak penuh atas diri lo sendiri. Kalo ada apa-apa cerita ke gue!" Arsen menarik Aliza dalam dekapannya.
__ADS_1
"Hidup itu pilihan bukan tuntutan, Aliza."