Perjodohan Paksa Dengan Crush

Perjodohan Paksa Dengan Crush
Bab 17 Malam Pertama


__ADS_3

Hai para readers!


Sebelumnya aku mau kasih rekomendasi novel yang bagus banget.


Aku yakin kalian pasti suka dan penasaran sama cerita alurnya.


Judulnya aja udah bikin penasaran tuh kan



Risa segera melepaskan cekalannya dari Niko. Ya, laki-laki itu adalah adik Arsen.


Wajahnya nampak geram, dengan kepalan kedua tangannya memperlihatkan urat nadi.


"Ngapain lo kesini?" tanya Niko dengan sorot mata yang begitu tajam.


"Lo ngapain ngajak gue kesini?" Risa ingin segera pergi dari tempat ini. Niko mengajaknya turun ke lantai satu. Namun, sebelum beranjak tangan Risa sudah dicekal kembali oleh Niko.


"Mau kemana lo?" Niko menatap Risa tajam.


"Lo nggak punya sopan banget sama yang lebih tua. Lepasin gue!" Risa berkali-kali mencoba melepaskan cekalan dipergelangan tangannya. Namun, hasil ya tetap sama.


"Gue peringatin sama lo. Jangan ganggu hubungan Kak Arsen. Kalo sampai gue tau lo berbuat nekat. Lo bakal tau akibatnya," ucap Niko dengan penuh penekanan disetiap katanya seraya menunjuk Risa menggunakan telunjuknya. 


Risa menyingkirkan telunjuk Niko yang sangat tidak sopan mengganggu pandangannya.


"Gue juga mau ngingetin. Kalo gue sama Arsen itu masih ada hubungan dan gue akan nikah sama Kakak lo itu." Risa langsung pergi begitu saja.


Kalo ini Niko hanya diam. Dia mencerna baik-baik perkataan Risa.


Bagiamana Kakaknya itu bisa melakukan hal ini?


Niko tak habis pikir dengan kelakuan Arsen jika itu benar adanya.


***


Setelah seharian menjalani setiap tahap resepsi termasuk berdiri untuk menyambut para tamu itu sangat melelahkan untuk mereka tentunya.


Aliza yang masih mengunakan busana pengantin itu hanya duduk didepan meja make up di apartemen Arsen.

__ADS_1


Memang laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu yang meminta agar mereka tinggal di apartemen untuk sementara sampai rumah mereka siap huni nantinya.


Aliza menghamburkan napas lelah lalu meletakkan kepalanya diatas meja. "Capek banget."


"Mau gue bantu?" tanya Arsen yang baru saja masuk.


Aliza yang terkejut langsung mendongak menatap Arsen. "Ha? Bantu apa?"


Arsen hanya menunjuk kelapa Aliza yang masih menggunakan mahkota lengkap dengan model rambutnya. Perempuan itu memang belum membersihkan diri.


Entahalah, lelah sekali rasanya.


"Gue bisa sendiri, Kak." Aliza menolak seraya menatap cermin yang ada didepannya.


Dia begitu cantik malam ini. Aliza baru sadar sekarang. Senyuman manis itu mulai terbit dari bibir kecilnya membuat Arsen ikut tersenyum. 


"Lo udah bersih-bersih, Kak?" tanya Aliza menatap Arsen lewat cermin. 


Pasalnya Arsen masih menggunakan busana pengantin pria.


Arsen menggeleng. "Belum. Mau lo dulu yang bersih-bersih dulu apa gue?"


Arsen berjalan menuju kamar mandi.


Tiba-tiba saja pikiran Aliza berkelana memikirkan tentang malam pertama. Jujur saja dirinya takut jika hal itu terjadi malam ini. Dia belum siap. Takut.


Ketika lamunannya semakin membawanya berpikir yang tidak-tidak, tiba-tiba suara Arsen terdengar.


"Al. Tolong ambilin handuk gue!" Arsen membuka sedikit pintu kamar mandi memberi celah kecil untuk dirinya menyembulkan kepalanya saja.


Aliza segera berjalan mengambilkan handuk suaminya lalu memberikannya pada pemiliknya. "Oke. Makasih ya."


Perempuan itu mematung. Bau segar khas orang mandi itu menguar dalam indra penciumannya.


10 menit berlalu, Arsen keluar dengan handuk yang menutupi bagian pusar sampai bagian atas lutut. 


Aliza yang masih sibuk membersihkan make up akhirnya menoleh mendengar pintu kamar mandi dibuka. Disana Arsen berdiri dengan rambut basahnya. Hingga pandanganya Aliza turun dan menemukan roti sobek, dia segera memalingkan wajahnya.


Mata Aliza sudah ternoda sekarang.

__ADS_1


Dia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Kenapa?" Arsen berjalan mendekat kearah Aliza.


Aliza menggeleng. "Nggak. Capek pake baju, Kak!"


Arsen tertawa lepas. "Nggak papa kali. Udah sah juga. Nggak dosa."


Aliza tetap menutup wajahnya. "Ya udah gue pakai baju dulu. Awas lo ngntip."


"Gue bukan tukang ngintip ya." Aliza menyangkal perkataan Arsen. Dia bukan orang yang seperti itu. Mana terima kan dibilangnya begitu.


"Ya udah tutup mata sampai gue bilang buka." Arsen mulai berjalan kearah lemari.


Dia tidak malu sebenarnya. Karena menang mereka sudah sah. Namun, tingkah Aliza membuat Arsen tersenyum. 


"Lucu juga ternyata," batinnya.


Setelah Arsen memberi tau jika dia sudah bisa membuka matanya, Aliza disuguhi pemandangan yang sangat mengejutkan.


Arsen sudah rapi dengan baju kemeja armynya. Aliza memberanikan diri untuk bertanya. "Mau kemana, Kak?" 


Arsen hanya diam lalu duduk disofa pojok ruangan itu. "Buruan mandi. Udah malem."


Aliza yang merasa diabaikan dan tak didengar kerena pertanyaan tidak dijawab akhirnya dengan berat hati dia berjalan menuju kamar mandi.


"Udah bawa handuk belum?" tanya Arsen sebelum Aliza masuk ke kamar mandi.


"Eh, iya lupa." Aliza berbalik berniat untuk mengambil handuknya yang masih ada dikoper besar miliknya.


"Untung gue ingetin kalo nggak gue bisa ikut masuk terus mandi lagi." Arsen menaik turunkan alisnya menggoda istrinya.


Aliza buru-buru masuk ke kemar mandi.


Arsen begitu sangat mengerikan malam ini. Bayangan malam pertama seperti yang ada di drama atau film itu terlintas dalam pikiran Aliza.


"Al. Gue keluar ya. Nggak usah nunggu gue pulang. Lo tidur duluan aja." Arsen kemudian pergi tanpa menunggu jawaban dari Aliza.


Dia segera membuka sedikit pintunya, tapi Arsen sudah tidak ada.

__ADS_1


__ADS_2