
Selamat malam readers.
Sambil nunggu author update bab selanjutnya . Aku mau rekomendasiin Cerita yang bagus banget.
"Gue anter pulang ya!" Niko berusaha membujuk kakak iparnya itu. Jujur saja dirinya tidak tega melihat Aliza seperti ini.
Dengan mata merah dan sembab itu terlihat begitu jelas.
Aliza menggeleng. "Nggak."
Perempuan itu ingin sekali pulang ke rumah orang tuanya. Namun, itu tidak mungkin. Akan membawa masalah baru nantinya. Bagaimana bisa seorang pengantin baru pulang ke rumah orang tuanya sendirian tanpa pasangannya.
Niko menghembuskan napas lelah. Dia bingung harus bagaimana. "Gue teleponin Kak Arsen ya?" ucapnya lalu merogoj saku celananya.
"Nggak usah." Aliza menoleh menatap Niko yang juga menoleh menatapnya.
"Gue mau istirahat di apartemen aja. Lo ada apartemen kosong?" tanya Aliza.
"Gue anter sekarang." Niko segera berdiri.
Kebetulan memang apartemen Niko sudah lama tidak dirinya tinggali selama kuliah. Namun, tetep Ayahnya lah yang mengatur semuanya. Jadi, apartemen itu masih bagus dan layak ditinggali.
Aliza berdiri tapi tiba-tiba pandangannya kabur lalu dia merasakan tubuhnya jatuh dan dia tak sadarkan diri.
Niko yang terkejut reflek menopang tubuh mungil Aliza.
***
"Lo ngapain disini, Kak?" tanya Niko setelah keluar dari ruang rawat inap Aliza dan bertemu Arsen yang baru saja keluar dari ruang dimana Risa dirawat.
"Siapa yang sakit?" tanya Niko seraya melirik pintu kamar yang tertutup.
__ADS_1
"Risa sakit. Lo ngapain disini?"
Niko mulai paham sekarang. Jadi, ini alasan Aliza manangis. "Oh. Jadi gara-gara ini istri lo sampek di rawat di rumah sakit."
"Maksud lo?" tanya Arsen bingung.
"Masuk aja ke kamar itu. Nanti juga lo tau." Niko menunjuk kamar paling ujung.
Arsen mengikuti arah tunjuk Niko. "Maksud lo apa sih?"
"Udah mending lo kesana aja. Biar lo tau. Gue nggak habis pikir sih sama lo, Kak. Baru juga jadi pengantin sehari aja udah bikin istri lo kaya gini." Niko melenggang begitu saja tanpa memperdulikan pertanyaan Arsen yang masih saja bingung.
Setelah kepergian Niko. Arsen segera masuk ke kamar yang ditunjukan oleh adiknya tadi.
Ternyata disana ada Aliza yang sedang terbaring lemas. Wajahnya pucat sekali.
Arsen berjalan mendekat. Wajahnya yang begitu teduh membuat dia mengusap pelan pipi mulus istrinya itu.
"Maafin gue, Al. Lo jadi kaya gini setelah nikah sama gue." Arsen mencium tangan Aliza berulang kali.
"Lo harus cepet sembuh. Gue tau lo bukan cewek lemah. Walaupun lo sering nangis."
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan empat orang yang beriringan masuk.
Kedua orang tuanya dan kedua orangtua Aliza. Mereka dikabari oleh Niko masalah ini.
Nita segera berhambur memeluk putrinya.
"Kamu kenapa, Sayang?"
Ema ikut mendekat kearah besannya itu. Mengelus pelan punggung sebagai penenang.
"Kenapa bisa seperti ini, Ar?" tanya Ravli sebagai orang tua dari Arsen.
__ADS_1
"Arsen nggak tau, Yah. Tadi Arsen lagi di luar terus ketemu Niko. Dan dia ngasih tau kalo Aliza masuk rumah sakit," jelas Arsen.
"Kamu itu sekarang sudah menjadi suami. Aliza itu tanggung jawab kamu. Kenapa malah bisa Niko yang tau? Sedangkan kamu kemana?" tanya Ravli berapi-api.
Sebagai seorang ayah dia sangat kecewa dengan putranya yang tak bisa menjaga istrinya, Aliza.
"Maafin Arsen, Yah. Ini salah Arsen."
"Bagus. Kamu ngerasa bersalah. Biar kamu bisa belajar. Jadiin ini pengalaman. Kamu sudah menjadi Suami. Kamu bertanggung jawab penuh atas Aliza sekarang."
Reno mendekat kearah Ravli. "Udah. Dia udah ngerasa mengakui kesalahannya," bisiknya.
Ravli sebenarnya juga bingung kenapa bisa putrinya seperti ini?
Dia ingin marah rasanya. Karena dia sudah menitipkan putrinya pada Arsen.
Dia sudah memberikan tanggung jawab yang besar pada Arsen.
Namun, kembali lagi. Dia harus bisa mengontrol diri agar suasana tidak semakin rumit.
***
"Sakit apa sih lo?" tanya Niko yang baru saja datang menemui Risa.
Risa tersenyum miring diatas brangkar. "Gue sehat. Gue nggak sakit. Cuma kakak lo itu yang terlalu sayang sama gue makanya dia percaya-percaya aja."
"Bangsat. Wanita nggak tau diri. Rugi banget kakak gue sayang sama lo."
Risa lalu bangun lalu berjalan kearah Niko. "Kakak lo itu udah cinta mati sama gue."
"Gue heran aja sih ada perempuan pede gila kaya lo. Dan lebih anehnya lagi kakak gue suka. Padahal lo nggak ada apa-apanya dari pada Aliza."
"Diam ya lo!" Risa menunjuk Niko dengan telunjuknya. Matanya kian menajam. "Gue bakal lakuin apa aja asal gue bisa dapetin Arsen, kakak lo itu."
__ADS_1
"Gue bakalan ngasih tau kalo lo cuman pura-pura." Niko menatap Risa begitu tajam seakan mengibarkan bendera perang.
"Coba aja. Lo nggak bakalan bisa. Mau lo ngomong apa. Dia nggak bakalan percaya. Dia bakalan lebih percaya sama gue." Niko mengepalkan tangan kuat setelah mendengar perkataan wanita licik didepannya ini.