
Halo para readers!
Author mau rekomendasiin nih cerita yang bagus banget. Sambil nunggu Author update bab selanjutnya.
"Selama kemana, Al?" tanya Arsen yang duduk didepan meja kerja Aliza.
Dia menatap istrinya serius. Dia ingin tau perempuan itu jujur atau tidak.
Aliza menatap sebentar suaminya itu. Dia meletakkan tasnya. "Gua tidur di apartemen Niko semalem."
Aliza mengajak Arsen untuk membicarakan hal ini di ruang kerjanya saja.
Penjelasan yang begitu singkat dan padat membuat Arsen belum puas. "Ngapain?"
Aliza kembali menatap Arsen dengan kerutan didahi. "Lo mikir apa?"
Arsen menggeleng. "Gue cuma pengen tau lo ngapain nginep di apartemen Niko. Kenapa nggak pulang ke rumah?"
"Mobilnya mogok semalem. Terus gue ketemu Niko. Dia nawarin buat gue nginep di apartemennya," jelas Aliza.
"Kenapa nggak suruh anterin Niko pulang?" tanya Arsen. Dia ingin mendengar pengakuan Aliza ketika istrinya itu melihatnya dengan Risa semalam.
"Udah malam, Kak." Aliza kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia mengirim chat pada Melia. Hari ini dia ingin banyak bercerita dengan sahabat baiknya itu.
"Kenapa nggak nelepon gue?" tanya Arsen. Dia terus memancing Aliza agar jujur.
"Takut ganggu."
"Ganggu kenapa?"
"Ganggu lo sama Ris—" Aliza menutup mulutnya mengunakan tangan.
"Lo cemburu sampai harus nginep di apartemen Niko?"
__ADS_1
Aliza memalingkan wajahnya. "Nggak."
Arsen menghembuskan napas lelah. "Lo pasti inget kan perjanjian kita sebelum nikah. Hubungan gue sama Risa akan tetap berjalan dan lo nggak keberatan dengan hal itu."
"Iya gue inget kok. Udah gue bilang gue nggak cemburu," sangkal Aliza.
"Mulut sama hati lo nggak sama. Mulut bisa bohong. Sedangkan hati itu tidak pernah bisa dibohongi."
"Gue nggak bohong, Kak. Ngapain juga bohong, nggak ada guna. Gue udah jelasin ya kenapa gue nggak pulang semalem. Gue emang liat lo sama Risa, tapi gue nggak cemburu sama sekali. Dan gue akan selalu inget perjanjian kita," ucap Aliza mantap menatap Arsen begitu serius.
Entahlah, Arsen belum bisa percaya sepenuhnya jika Aliza tidak cemburu padanya. "Oke bagus kalo gitu. Gue harap lo nggak mengulangi hal yang sama seperti semalam. Kalo lo lupa lo udah jadi istri. Dan istri nggak bisa keluar seenaknya tanpa izin suami. Karena setelah menikah istri adalah tanggung jawab suami."
"Kalo ada apa-apa hubungi gue." Arsen berdiri. "Gue berangkat kerja dulu. Gue udah telat 15 menit."
Aliza kemudian mengantar Arsen sampai didepan pintu toko.
"Kenapa Arsen seperti ini? Kenapa dia sering mengakatakan kata suami istri?" batin Aliza.
Jika dia bisa berkata "Iya, cemburu." Maka dia akan mengatakannya. Namun, dia harus menutupi rasa cemburu itu. Dia tidak ingin Arsen tau karena menurutnya akan menambah masalah.
Aliza menatap langit yang begitu cerah pagi ini. "Mengapa Tuhan persatukan jika memang kita tidak berjodoh?" lirihnya.
***
"Ya ampun, Al. Kok lo bisa sih malah tidur di apartemen Niko?" tanya Melia tak percaya setelah mendengar cerita Aliza.
"Ya, gimana lagi? Gue nggak bisa buat pulang terus ketemu Arsen," jawab Aliza singkat.
"Iya sih. Cuma ya nggak harus tidur di apartemen Niko juga."
"Gue nggak ada pilihan lain, Mel. Malam itu gue capek banget. Badan gue sakit, karena abis pulang kerja. Dan mata gue udah sembab banget. Gue nggak bisa apa-apa selain nerima saran Niko," jelas Aliza lalu menyeruput es stroberi kesukaannya.
Melia meminta Aliza untuk bertemu di kafe dekat rumahnya saja.
Melia menghembuskan napas. "Tapi lo nggak bisa kaya gini terus setiap lo liat mereka pacaran."
Melia adalah satu-satunya orang yang dia beri tahu tentang perjanjian konyol itu.
__ADS_1
"Iya gue tau. Lo tenang aja. Ini pertama dan terakhir kalinya. Gue harus siap ketika hal itu kembali gue liat. Walaupun gue harus nangis dulu baru setelahnya gue berusaha baik-baik saja. Padahal bohong kalo gue baik aja." Tawa hambar dari Aliza itu membuat Melia menatap sahabatnya sedih.
Melia tidak bisa membayangkan menjadi Aliza yang harus menikah dengan laki-laki yang dia sukai tapi laki-laki itu menyukai perempuan lain dan status mereka masih berpacaran.
"Sabar ya, Al." Melia memberi usapan lembut dipinggung tangan Aliza. "Kamu hebat."
Aliza tersenyum lalu mengangguk. "Nggak papa gue kuat. Kan cuma nunggu setahun."
"Setahun?" tanya Melia bingung.
Aliza mengangguk. "Iya, gue denger percakapan mereka. Setelah setahun Arsen bekalan ceraiin gue. Jadi, gue bebas setelah itu."
Perempuan itu menahan sesak didadanya setelah mengatakan kalimat barusan.
"Kok gitu?"
"Gue juga nggak tau. Tapi menurut gue itu akan jauh lebih baik. Kerena gue nggak perlu terus berharap sama Arsen."
"Gue nggak bisa maksain dia suka sama gue 'kan?"
"Bisa," sangkal Melia.
"Ngaco kalo ngomong. Orang cinta kok maksa." Aliza tertawa setelahnya.
"Bukan maksa, Al. Tapi lo usaha. Lo punya waktu setahun buat luluhin hati Arsen," jelas Melia.
"Gimana gue bisa luluhin kalo hati nya aja udah ada perempuan lain?" tanya Aliza.
Menurutnya tidak mungkin akan berhasil.
"Lo manfaatin waktu pas Arsen lagi sama lo. Buat dia nyaman selama bareng lo."
"Ter—"
Ucapan Melia terhenti ketika Aliza mengkodennya menggunakan tangan.
Aliza mengambil ponselnya yang berada di tas. Ternyata ada pesan masuk dari Arsen.
__ADS_1