
Halo selamat malam para readers!
selamat datang di cerita aku kembali.
Author mau recomendasiin cerita yang bagus banget nih.
Aliza segera membuka pesan masuk dari Arsen. Disana tertulis jika suaminya itu akan liburan bersama Risa.
Perempuan dengan rambut digerai itu langsung menaruh ponselnya diatas meja.
"Kenapa, Al? Pesan dari siapa?" tanya Mela penasaran karena melihat Aliza yang berubah ekspresi dalam waktu yang singkat setelah menerima pesan.
Melia mengambil ponsel Aliza lalu membaca pesan masuknya.
"Arsen liburan sama Risa?" tanya Melia menatap Aliza yang ternyata sahabatnya itu pandangannya kosong.
"Al?" tanya Melia hati-hati seraya memegang lengan sahabatnya.
"Lo nggak papa, kan?" Melia berdiri lalu pindah tempat duduk disamping Aliza.
Aliza menggeleng setelah sadar dari lamunannya. "Ah. Iya. Gimana?"
"Tuh kan. Lo nggak dengerin gue ngomong." Melia berdecak kesal.
"Lo nggak papa?" tanya Melia lagi.
Aliza menyunggingkan senyum. "Gue nggak papa," jawabnya seraya menurunkan tangan Melia dari lengannya.
"Nggak papa gimana? Terus lo tadi ngelemunin apa?" Melia kesal sekali ketika Aliza tidak mau mengaku seperti sekarang.
Perempuan itu terlalu sering memendam apapun sendirian. Bahkan dia sudah lama menjadi sahabatnya pun terkadang masih susah untuk tau apa yang Aliza rasakan.
__ADS_1
Dia terlalu menutupi lukanya dan berusaha mengobatinya sendiri. Padahal belum tentu dirinya bisa.
"Gue cuma butuh istirahat aja kayanya. Lo tenang aja. Gue nggak papa." Aliza tersenyum di akhir kalimatnya.
"Ah. Lo kebiasaan. Gue males kalo kaya gini. Lo sering banget tau, Al. 'Ayo cerita gue dengerin' udah gue bilang berkali-kali kata-kata itu. Tapi lo milih buat mendem sendirian."
"Kadang gue mikir gue ini sahabat lo apa bukan sih sebenernya?" Melia segera duduk kembali ke tempat awalnya dengan wajah yang begitu kesal.
Aliza memajukan wajahnya menatap sahabatnya dengan senyum yang merekah. "Lo sehabat gue yang paling baik sedunia."
"Bukan gue nggak mau cerita. Tapi lo juga pasti punya masalah sendiri. Gue cuma nggak mau nambah beban pikiran buat lo," jelas Aliza agar tak menimbulkan salah paham lagi.
"Gue kan udah berkali-kali bilang gue dengerin kalo mau cerita. Berati gue udah siap nerima semua cerita lo. Mau lo cerita keluh kesah lo juga bakal gue dengerin sampai selesai," ucap Melia menatap Aliza dengan sorot mata yang begitu serius.
"Kadang gue tau kabar apa gitu tentang lo aja malah dari orang lain. Gue kadang bingung, Al. Lo tau banyak tentang gue, sedangkan gue tau sebagian dari hidup lo aja nggak kayanya." Melia memalingkan wajah.
Entahlah, rasa kecewa itu seketika menyusup kedalam dadanya. Seakan persahabatannya ini apa? Apakah seperti ini yang dinamakan persahabatan?
"Gue minta maaf ya. Selama ini udah buat lo kesel." Aliza segera duduk disamping Melia lalu memeluknya dengan begitu erat.
***
Gemerlapnya ibukota membuat Aliza tersenyum senang. Malam ini perempuan itu diajak oleh Niko untuk berkeliling kota menggunakan motor kesayangan adik iparnya itu.
Dari pada dia di rumah sendirian mending jalan-jalan menghilangkan penat.
"Lo mau beli apa, Al?" tanya Niko sedikit menoleh kebelakang.
"Apa?" Aliza memajukan wajahnya seraya memegang helmnya yang seakan ingin membawanya terbang ke awan sangking cepatnya laju motor Niko.
"Lo jangan ngebut-ngebut gue nggak denger!" Teriakan Aliza membuat Arsen sedikit memelankan laju motornya.
"Iya, Al. Ini udah nggak ngebut."
__ADS_1
"Lo manggil gue apa?" tanya Aliza.
"Al."
"Nggak papa, kan? Kita seumuran walaupun lo kakak ipar gue," ucap Niko dengan entengnya.
Aliza hanya berdehem menanggapi ucapan Niko.
"Lo mau beli apa, Al? Masa keliling Jakarta nggak beli apa-apa? Gue laper," ucap Niko begitu jujur.
"Lo belum makan?" tanya Aliza.
Niko hanya menggeleng. "Belum."
"Tadi gue tawarin makan dirumah gue nggak mau," cibir Aliza memukul pelan helm Niko.
"Malu gue. Nggak lo ambilin sih."
"Ini nih ibarat udah di kasih hati tapi malah nambah minta jantung. Kan nggak tau diri namanya," ucap Aliza menatap kesal laki-laki yang ada didepannya.
"Emang lo ngasih gue hati?"
"Udah ah. Lo makin nggak jelas," sungut Aliza lalu dia tak sengaja melihat pengamen yang menyanyikan lagi yang sedang viral di media sosial itu dengan sangat merdu.
Aliza suka sekali lagu itu. Lagu karya dari Afgan yang berjudul Bukan Cinta Biasa itu sangat merdu di telinganya.
Senyum manis itu semakin jelas walau hanya sebentar, kaca spion Niko kali ini benar-benar berguna.
Senyum yang begitu indah dimata Niko.
Laki-laki itu juga ikut senang ketika Aliza bisa tersenyum seperti tadi. Setidaknya dia tidak lagi sedih karena Arsen.
Niko tau hati Aliza sudah ada Arsen. Namun, ternyata Arsen juga yang melukai hatinya.
__ADS_1
"Gue harap akan banyak lagi senyum-senyum manis lagi kedepannya.
Senyumlah lebih lama, lupakan sedih mu walau hanya sebentar, Aliza," batin Arsen.