
"Belum, Mba," jawab perempuan berambut sebahu itu apa adanya.
"Ya udah, Mba. Sambil nunggu saya mau liat busananya." Aliza berjalan dibelakang mengikuti Arvi.
"Ibu Ema milih yang ini, Mba. Model baju adat Jawa Spesial," ucap Arvi seraya menunjukan baju yang dipilihkan oleh calon mertuanya.
Aliza memandang model baju yang memang terbuka bagian dada. Menurutnya itu tidak masalah.
Aliza adalah tipe orang kalau memakai apapun itu cocok.
"Saya boleh coba bajunya, Kak?" tanya Aliza berjalan maju memegang bagian atasan yang bermotifkan batik Jawa.
"Iya boleh dong, Mba. Kan mau foto pre wedding. Gimana sih Mbanya?" Arvi menoel lengan Aliza.
Aliza menyengir. "Sangking bagusnya jadi pengen cepet nyoba."
Aliza tidak berbohong dia suka sekali dengan model baju yang sudah dipilihkan oleh Ema. Ternyata seleranya dengan calon mertuanya itu sama.
"Ya udah langsung coba aja, Mba. Nanti saya bantuin pakainya."
Sebelum sempat menjawab ponselnya berdering tanda ada pesan masuk.
Arsenn
Sorry ya. Gue nggak bisa hari ini. Gue lagi di rumah sakit nemenin Risa abis operasi.
Kita undur besok ya?
Lo udah sampai di studio foto?
Aliza tak membalas apapun. Dia segera mematikan ponselnya. Entahlah, hanya mendapat pesan seperti itu saja membuat dada Aliza sesak.
Ternyata memang dirinya tidak sepenting itu bagi Arsen. Seharusnya dari awal dia cukup sadar diri.
"Lo mau berharap apa sih, Al? Lo tuh bukan siapa-siapanya Arsen. Jadi wajar kalo dia nggak ngejadiin lo prioritas," batin Aliza.
"Kak Arvi!" panggil Aliza seraya mendekat kearah perempuan berambut sebahu itu.
"Kenapa, Mba?"
__ADS_1
"Maaf ya, Kak. Fotonya nggak jadi hari ini.
Kak Arsen nggak bisa dateng. Jadi, diundur besok," jelas Aliza dengan perasaan tidak enak.
Semua sudah disiapkan, tapi harus diundur.
***
Arsen menatap ponselnya setelah mengirim pesan pada Aliza. Namun, pesan itu hanya dibaca.
Laki-laki itu menghembuskan napas perlahan lalu meletakkan ponselnya diatas meja disamping bed Risa.
Gadis dengan rambut panjang berwarna sedikit kecoklatan itu sedang berbaring tak berdaya diatas bed.
Wajah pucatnya membuat Arsen mengusap pelan pipi pacarnya itu.
"Cepat sembuh ya, Sayang."
Entahlah, rasanya Arsen juga ikut sakit yang dirasakan oleh Aliza.
Setelah melakukan operasi usus buntu Arsen baru dikabari oleh orang tua dari Risa.
"Risa aku sayang sama kamu. Ayo bangun!" Arsen mencium tangan Risa beberapa kali.
"Ayo bangun sayang," ucap Arsen dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Arsen!" Ema berjalan mendekat kearah putranya lalu mengusap punggung Arsen dengan penuh kelembutan.
"Yang sabar ya sayang," ucap Ema memandang putranya dengan tatapan sendu.
Ema tau tentang hubungan mereka dan sebenarnya Ravli dan Ema sudah memberi tau Arsen agar memutuskan Risa karena putranya itu akan mereka jodohkan. Namun, Arsen meminta untuk memberi waktu dulu sebelum dirinya benar-benar memutuskan pacarnya yang sangat dia cintai itu.
"Sebentar lagi Risa pasti bangun. Kita tunggu diluar dulu yuk!" ajak Ema.
"Nggak, Bun. Arsen nggak mau ninggalin Risa sendiri. Arsen mau disini."
Ema menghembuskan napas perlahan.
"Ya udah. Bunda tunggu diluar ya. Kalo Risa udah sadar panggil Bunda."
__ADS_1
Arsen mengangguk lalu kembali menatap wajah pacarnya.
"Kalo bisa biar aku aja yang ngerasain sakitnya. Jangan kamu, Sayang." Arsen menangis tanpa seorang pun tau.
Dia lemah jika mengangkut soal Risa. Perempuan yang sangat dicintainya.
Arsen akan siap melakukan apapun demi Risa walaupun itu akan membahayakan dirinya sendiri dia akan tetep melakukanya.
"Ayo bangun, Sayang!" lirih Arsen dengan cucuran air mata yang begitu deras.
Sebenarnya Arsen bukan tipikal orang yang gampang menangis. Namun, jika sudah menyangkut orang yang dirinya sayangi maka air mata itu tak akan bisa dirinya tolak untuk turun membahasi pipi.
"Maafin aku. Semoga hubungan kita akan baik-baik aja setelah kamu tau aku akan dijodohkan dengan orang pilihan kedua orang tua ku." Arsen teringat jika dirinya belum memberitahu Risa perihal ini.
***
Aliza kini sedang meringkuk diatas kasur kesayangannya dengan selimut yang menutupi seluruh badannya.
Sedari pulang dari studio foto, Aliza langsung masuk kamar dan mengunci pintu agar tak ada yang tau jika dirinya sedang sedih saat ini. Takut orang tuanya akan khawatir.
"Aliza! Buka pintunya, Sayang!" Nita mengetuk beberapa kali pintu kamar yang dikunci dari dalam.
Aliza tak ada niatan untuk beranjak.
Matanya sembab sekarang. Karena terlalu lama menangis. Dia malu jika keluar dengan keadaan seperti ini.
Ternyata Aliza juga baru sadar jika ini sudah malam karena setelah menangis dirinya tertidur hingga bangun hari sudah gelap.
"Buka pintunya, Aliza! Jangan bikin mamah khawatir." Nita sudah mulai kebingungan. Takut jika putrinya melakukan hal yang tidak-tidak.
Nita sudah tau jika hari ini Aliza dan Arsen gagal melakukan foto pre wedding. Nita bingung harus menghubungi siapa yang bisa membantunya.
Suaminya tidak ada dirumah karena ada pekerjaan di luar kota.
Akhirnya Ema memutuskan untuk menghubungi Arsen.
"Halo, Tan!" suara dari seberang mulai terdengar.
"Halo, Arsen. Kamu bisa ke rumah Tante sekarang? Aliza di kamar terus dari tadi abis pulang dari studio foto. Dia juga nggak mau buka pintunya. Tante takut Aliza kenapa-napa," jelas Nita tersemat nada khawatir didalamnya.
__ADS_1
"Arsen kesana sekarang!"
Sambungan telepon dimatikan sepihak.