Perjodohan Paksa Dengan Crush

Perjodohan Paksa Dengan Crush
Bab 11 Mengulang Masa Remaja


__ADS_3

Setelah mendapatkan tempat paling belakang Aliza segera duduk lalu diikuti oleh Arsen. Sekarang saja jantungnya berpacu sangat cepat, apalagi nanti jika kora-kora ini sudah dimainkan.


"Kenapa kita paling belakang, Kak?" tanya Aliza sedikit takut karna jika kora-kora itu diayunkan kebelakang dan otomatis ditempat Aliza lah yang akan mengayun paling tinggi.


"Seru kalo dibelakang," jawab Arsen dengan entengnya.


Kenapa Arsen sangat menyebalkan sekarang?


Padahal ditengah masih ada tempat kosong, sebelum mereka duduk dibelakang. Namun, sekarang Aliza ingin meminta pindah pun tak bisa karena tempat duduk sudah penuh. 


Aliza benar-benar menggerutu dalam hati ketika kora-kora akan diayunkan dengan aba-aba. Dia mulai memejamkan mata seraya memegang erat lengan Arsen.


Arsen yang sadar jika Aliza sangat takut padahal kora-kora baru diayunkan perlahan. Dasar memang Aliza ini penakut.


Arsen melepaskan lengannya dari cekalan Aliza dan beralih merangkul gadis itu dengan erat. Aliza itu semakin ketakutan dan mendekatkan kepalanya kedada bidang Arsen dengan tangan yang mulai terulur memeluk tubuh laki-laki yang sangat dirinya cintai itu.


Kora-kora semakin berayun sangat cepat membuat pengunjung lain berteriak ketakutan, ada juga yang sangat bahagia dan yang membuat Arsen sedikit menyunggingkan senyum adalah ketika Aliza mengumpatinya dengan lirih, tapi masih bisa dirinya dengar.


"Gue mau turun," lirih Aliza. 


Laki-laki itu mulai sadar jika ternyata Aliza diam-diam menangis karena ketakutan.


Kemaja putihnya itu mulai basah akibat air mata Aliza.


Akhirnya Arsen merangkul calon istrinya semakin erat seraya mengelus lembut punggung gadis itu.


"Bentar lagi ya. Sabar!" 


Sepuluh menit berlalu dan kora-kora sudah berhenti. "Aliza. Ayo turun!" ajak Arsen seraya melepaskan pelukannya.


Namun, Aliza hanya diam saja. 


"Al. Bangun!" Arsen mengangkat wajah Aliza yang masih menunduk ketakutan.


Ternyata tangis Aliza semakin menjadi membuat Arsen bingung. Mereka sekarang menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Akhirnya Arsen menggendong Aliza untuk turun. Gadis itu masih belum mau untuk membuka matanya. "Gue pusing, Kak."


"Coba buka sedikit. Pelan-pelan!" 


Aliza menuruti perintah Arsen. Mulai membuka matanya sedikit, tapi yang dirinya lihat Arsen dan lingkungan sekitar bergoyang membuat Aliza mengurungkan niatnya.


"Oke. Mungkin butuh waktu. Lo disini dulu ya. Kalo masih pusing jangan dipaksain buat buka mata."


Sebelum Arsen beranjak. Tangannya sudah dicekal oleh Aliza. Dia takut jika harus ditempat ramai sendiri dengan matanya yang tertutup.


"Nggak papa. Lo aman. Gue nggak jauh kok. Gue bakal pantau l.o. Ada yang mau gue beli," ucap Arsen lalu melepaskan cekalan Aliza.


Selang beberapa menit Arsen datang dengan segelas es berwarna merah muda dan arum manis berbentuk bunga.


Aliza mulai sadar jika Arsen datang. Padahal laki-laki itu belum mengeluarkan suara. "Kak Arsen." Aliza mulai berani membuka matanya. Walau pandangannya masih belum normal.


Karena aroma yang berasal dari minuman yang dibawa Arsen membuat gadis itu penasaran karena dia sangat menyukai apapun makanan atau minuman dengan rasa stroberi.


"Nih!" Arsen menyodorkan es stroberi itu pada Aliza. Dengan senang hati gadis itu menerimanya.


"Beli dimana, Kak?" tanya Aliza penasaran.


"Es teros kata Mak," pangkas Aliza lalu menyedot es kesukaannya itu.


"Nah itu tau. Kalo batuk, yang repot juga kan Emak," lanjut Arsen lalu tertawa.


"Iya lah. Orang masih diurus sama, Emak."


"Anak Emak ya kaya gitu," cibir Arsen menatap Aliza jail.


"Kaya lo bukan anak Emak aja," sarkas Aliza.


"Jelas gue anak Emak dong. Udah ganteng, manis, lucu imut-imut dan menggemaskan, uang gue banyak. Apa coba yang kurang dari gue?" ucap Arsen dengan begitu sombongnya.


"Kurangnya lo tuh belum jadi suami gue," ucap Aliza tanpa sadar.

__ADS_1


"Apa?" tanya Arsen ingin mendengar lebih jelas lagi.


"E-eh. Nggak. Kurangnya karena sombong," jawab Aliza sedikit gelagapan.


"Sombong? Emang gue pernah sombong?" 


Aliza mengangguk. "Itu tadi barusan. Apa bukan sombong namanya."


Arsen menghembuskan napas lelah. "Gue becanda Aliza."


Gadis itu mengangguk. "Iya gue tau."


Arsen sadar jika ternyata arum manis yang dia bawa belum diberikan pada Aliza.


"Selain suka stroberi lo juga suka ini, Kan?"


Aliza segera mengangguk lalu mengambil makanan kesukaannya saat kecil. Sampai sekarang pun Aliza masih suka tapi gadis itu sudah jarang memakannya.


"Kok lo tau sih, Kak?" tanya Aliza penasaran seraya memicing.


"Iya dong. Gue tau semua tentang lo," jawab Arsen yakin.


"Dih. Sok banget lagi." Aliza memutar bola mata malas.


Sedangkan Arsen malah tertawa begitu lepas. Mulai sekarang tawa Arsen merupakan nikmat Tuhan yang sangat berharga baginya.


Suara dering ponsel itu membuat Arsen menghentikan tawanya. Dia segera merogoh saku celananya. Alangkah terkejutnya Arsen ketika melihat siapa yang meneleponnya sekarang?


"Siapa?" tanya Aliza seraya berusaha untuk melihat siapa yang menelepon laki-laki tampan disampingnya ini.


"Bukan siapa-siapa." Arsen segera menyimpan kembali ponselnya.


Laki-laki itu memandang langit yang begitu indah dengan benda langit yang menjadi penghias.


Sedangkan Aliza menatap Arsen begitu lekat. Dia sangat bersyukur atas nikmat Tuhan yang diberikan padanya.

__ADS_1


Menurutnya, malam ini seperti first date mereka. Seakan mengulang kembali masa remaja yang sedang dilanda asmara.


"Gue sayang sama lo, Kak."


__ADS_2