
Halo para readers! Selamat malam.
Author mau rekomendasiin cerita yang bagus banget. sambil nunggu update bab selanjutnya.
"Pak!" panggil Niko yang sudah duduk dipaling ujung. "Nasi goreng 2 ya, Pak. Seperti biasa, tapi yang satu spesial ya, Pak."
"Siapp!" ucap pedagang nasi goreng itu dengan semangat.
Setelah berbincang lama diatas motor hanya untuk mencari tempat makan yang enak. Akhirnya saran dari Niko untuk makan nasi goreng di setujui oleh Aliza.
Perempuan itu juga sudah lama tidak makan nasi goreng. Dia jadi rindu masakan buatan Nita.
Aliza melihat sekelilingnya, ada banyak pembeli yang memilih untuk makan di tempat. Namun, ada juga yang minta di bungkus untuk dibawa pulang.
Sampai ada satu keluarga yang mengalihakan fokusnya. Seorang suami dan istri yang masih muda tapi sudah dikaruniai dua anak yang begitu manis dan lucu. Seperti keluarga yang begitu harmonis.
Aliza tersenyum menatap seorang anak kecil dengan rambut di kuncir dua itu menatapnya dengan senyum manis.
"Lo ngeliatin apa?" tanya Niko lalu mengikuti arah pandang Aliza.
"Lo pengen punya anak?" Niko tiba-tiba bertanya tanpa berpikir terlebih dahulu.
Seperti spontan dia mengucapkannya.
Karena dibenaknya terlihat seperti keluarga yang bahagia. Niko berpikir jika Aliza juga ingin keluarganya seperti itu.
Aliza menatap Niko tajam. "Nggak jelas lo."
"Gue cuma nanya doang anjir. Lo kok gampang ngambek sih. Pms lo ya?" Tuduhan Niko membuat Aliza mendelik lalu menjambak rambut rapi laki-laki itu.
"Aduh! Al. Sakit anjir!" Niko merintih kesakitan karena jambakan Aliza bukan main rasanya.
"Rasain tuh!" sungut Aliza setelah melepaskan jambakannya.
"Anjir! Pedes banget kepala gue." Niko masih mengusap-usap kepalanya.
"Lo kok jadi sadis gini sih, Al?" tanya Niko menatap Aliza heran.
Aliza diam seraya memainkan ponselnya tanpa mau menjawab pertanyaan Niko yang menurutnya tidak penting.
Niko terlalu banyak bertanya. Padahal dia belum juga kedatangan bulan. Entah sudah telat beberapa hari. Selalu begini jika terlalu banyak yang dia pikirkan.
"Eh, buset dah. Gue dikacangin!"
"Dua nasi goreng siap dihidangakan. Yang satu nasi goreng biasa, dan satunya nasi goreng spesial untuk nona cantik." Laki-laki pedanga nasi goreng itu mengantarkan pesanan Niko.
Aliza mengangguk. "Makasih, Pak."
"Iya sama-sama cantiknya Nak Niko," balas pedagang itu menggoda Niko.
"Pak Bambang suka bener goda cewek. Inget umur, Pak," peringat Niko.
__ADS_1
Pak Bambang tertawa. "Walaupun tua gini saya masih kuat ya. Jangan ngeremehi kamu!"
"Iya, Pak. Iya si paling kuat," ucap Niko diakhiri kekehan.
"Nak Niko kenapa punya pacar nggak ngomong sama saya? Baru juga belum la pulang dari luar negeri udah dapet cewek aja."
"Emang harus ya ngomong sama Pak Bambang?" tanya Niko menaikan sebelah alisnya.
"Harus dong."
"Ini saya udah bawa cewek saya, Pak. Jangan Bapak embat juga. Inget istri sama anak di rumah, Pak!" Niko memperingati pedagang nasi goreng itu yang terkenal sering menggoda para cewek.
Padahal sebebarnya Pak Bambang ini hanya bercanda tapi terkadang ada juga yang belum tau dan menganggapnya serius dan berakhir tidak membeli nasi gorengnya lagi.
"Saya mah goda tau batesnya, Nik. Saya juga punya anak perempuan," balas Pak Bambang.
"Ya sudah saya tinggal. Ada yang beli. Jangan disakiti ya!" Kalimat terakhir dari Pak Bambang sebelum dia beranjak untuk melayani pembeli yang baru saja datang, membuat Niko tertegun.
"Lo apa-apaan sih, Nik? Bikin malu," geram Aliza.
Niko tersenyum pahit ketika mendengar kalimat terakhir Aliza.
"Bercanda doang gue." Arsen sedikit mengelak. Padahal jika hal itu benar dan takdir berpihak padanya dia pasti akan sangat bahagia. Namun, sayangnya semesta tidak mendukungnya.
Aliza sudah mulai makan nasi goreng spesial buatan Pak Bambang yang ternyata enak juga tapi tetap saja nasi goreng buatan mamahnya paling enak sedunia.
"Foto dulu ah." Niko tak menyianyakan mometum ini. Dia gunakan untuk memfoto Aliza dengan keadaan candid.
"Enak nggak?" tanya Niko setelah meletakkan ponselnya diatas meja.
Aliza hanya mengangguk sebagai jawaban. Rasanya masih kesal dengan Niko. Malam ini Niko sangat menyebalkan sekaligus membuatnya sedikit melupakan kesedihannya.
"Gue minta maaf ya. Gue nggak ada maksud apa-apa sih tadi." Niko mulai sadar jika Aliza marah karena dirinya.
Aliza tak menjawab apapun. Dia masih terus menikmati makanan enak itu.
"Nanti kita beli es krim stroberi."
"Kenapa Niko yang lebih banyak tau tentang dirinya tanpa banyak dia memberitahu? Kenapa Niko lebih tau bagaimana cara membujuknya. Berbeda dengan Arsen," batin Aliza menghentikan kunyahannya.
***
Suara pesan masuk dari ponsel Arsen itu membuatnya meraih ponselnya diatas meja.
Dia sedang dibawah mencari udara segar sedangkan Risa sudah tidur sedari tadi karena perempuan itu begitu lelah seharian di pantai.
Mereka memesan villa untuk menginap malam ini saja. Arsen mematikan rokoknya setelah mendapat pesan dari Niko.
Padahal niatnya ingin mendinginkan pikiran dengan merokok dan menikmati indahnya pemandangan malam ini.
Tak menunggu lama Arsen segera menelpon Niko.
"Halo Kak Arsen? Ada perlu apakah gerangan?" tanya Niko membuka suara.
__ADS_1
"Lo ngapain sama Aliza?" tanya Arsen to the point.
"Gue cuma ajak dia jalan-jalan aja. Biar nggak penat. Dari pada dia sendirian, terus malah lo tinggal liburan," sindir Niko.
"Ya udah bagus. Kasian juga dia di rumah nggak ada temen." Jawaban Arsen begitu diluar dugaan Niko. Dia terkejut bukan main hingga menjauhkan ponselnya.
Dia pikir kakaknya itu akan cemburu dan memarahinya.
"Lo nggak cemburu?" tanya Niko bingung.
"Cemburu kenapa?" tanya Arsen menaikan sebelah alisnya.
"Cemburu dia jalan sama gue lah."
"Biasa aja."
"Gimana kalo Aliza buat gue aja?"
"Makin nggak jelas lo. Kalo Aliza mau ya silahkan!" jawab Arsen dengan entengnya.
"Gue yakin sih dia nggak bakal mau sama anak curut kaya lo." Tawa keras dari sebrang itu membuat Niko berdecak.
"Lo ngejek gue, Kak?"
"Awas aja lo ya. Gue bikin ketar-ketir kalo Aliza benaran mau sama gue. Mampus lo!" balas Niko menggebu-gebu.
"Iya coba aja kalo bisa."
"Eh, Lo udah anterin Aliza pulang, kan?" tanya Arsen mengaganti topiknya kerena mengingat istrinya.
"Tanya aja sama Aliza."
Sambungan terputus. Niko yang mematikan sambungan telepon mereka.
Arsen hanya mengelengkan kepalnya seraya tersenyum.
Dia ingin menghubungi Aliza dan mematikan jika perempuan itu sudah selamat sampai rumah.
"Halo?" Arsen membuka suara.
"Halo. Kenapa, Kak?" Aliza menggigit bibirnya karena masih kaget ketika mendapat telepon dari Arsen malam-malam.
Jantungnya berdebar tak karuan, tubuhnya terasa panas dingin.
"Udah pulang?" tanya Arsen tanpa basa-basi.
"Eh, u-udah." jawab Aliza gelagapan.
Bagaimana Arsen tau? Ini pasti ulah Niko.
"Ya udah. Buat istirahat, udah malem! Besok gue pulang."
"Selamat malam, Aliza. Semoga mimpi indah." Aliza memejamkan matanya meresapi kata-kata dari Arsen.
__ADS_1