
Halo para readers.
Kali ini author mau recomendasiin cerita bangus banget.
Sebulan berlalu, Arsen dan Aliza sudah mulai menempati rumah barunya hari ini.
Sungguh melelahkan bagi Aliza. Terlalu banyak barang yang harus dibawa. Terutama memang pakaianya sendiri.
Belum lagi punya Arsen.
Aliza mengelap keringat yang mulai menetes dipelipis. "Selesai!"
Tiba-tiba Arsen datang dengan koper hitam miliknya. "Udah selesai?"
Aliza mengangguk. "Itu apa?" tanyanya menunjuk koper yang Arsen bawa menggunakan dagunya.
"Pakaian gue." Jawaban Arsen sukses membuat Aliza melotot. Bagaimana bisa barang Arsen lebih dari satu koper?
Lagi-lagi ya dirinya yang harus menatanya.
"Ada lagi?" tanya Aliza tak percaya.
"Hehe. Iya. Ini baju kantor gue." Arsen meringis karena merasa tidak enak pada Aliza.
Perempuan dengan rambut dicepol itu berjalan mendekat kearah Arsen lalu mengambil alih koper yang Arsen bawa.
"Mumpung belum malem banget. Biar gue yang nata," ucap Aliza seraya membuka koper.
"Eh, besok aja nggak papa. Udah malem juga." Arsen melihat jam yang menempel didinding kamarnya yang menunjukkan pukul 8 malam.
Jujur saja Arsen tidak enak pada Aliza. Seharian dia membereskan rumah. Pasti dia lelah.
"Besok aja, Al. Lo pasti capek." Arsen mengambil kopernya tapi ditahan oleh Aliza.
"Udah nggak papa. Biar sekalian selesai. Nggak besok-besok." Aliza menarik koper hitam itu.
__ADS_1
"Ini juga udah tugas gue sebagai istri," lanjutnya.
Arsen menatap istrinya dalam. Kenapa Aliza begitu baik padanya? Padahal dia sering sekali membuat perempuan itu menangis.
Mata teduh milik Aliza itu seakan membuat Arsen terhipnotis. "Cantik," batinnya.
Selama kurang lebih sebulan ternyata Arsen belum sadar juga jika istrinya itu sangat cantik.
Sebenarnya dia senang sekali ketika waktu itu Aliza keluar dari rumah sakit. Jantungnya seakan berdetak dengan normal kembali. Karena selama Aliza sakit Arsen tak pernah tenang. Ada rasa bersalah yang mengelimuti hatinya.
Dia terlalu egois.
Tunggu sebentar Aliza inget sesuatu. "Kita satu kamar, Kak?" tanyanya seraya menatap Arsen serius.
Arsen hanya mengangguk. "Iya. Kenapa? Kan udah sah."
Aliza menggeleng. "Kan ada kamar yang dibawah kosong. Gue tidur disana aja, Kak."
Ternyata sedari dari tadi perempuan itu belum sadar jika mereka satu kamar. Padahal dia sendiri yang menata barang Arsen dan barangnya dalam satu kamar.
Jujur saja waktu tinggal di apartemen, tidur sama sekali tidak nyenyak. Selalu ada rasa takut. Padahal juga tidak apa-apa. Tapi jiwa waspadanya meronta-ronta.
Padahal mereka sudah menikah jadi seharusnya wajar saja jika tidur sekamar.
***
"Mau lo apa sih?" Niko yang baru saja datang langsung melontarkan kata-kata pada perempuan yang begitu licik didepannya ini.
Risa kemudian berdiri. "Tenang dong. Duduk dulu!"
"Nggak. Lo mau ngomongin apa?" tanya Niko to the point.
"Gue bakal ngomong kalo lo duduk."
Akhirnya Niko terpaksa menuruti permintaan Risa.
"Gue tau rahasia lo. Gue juga tau kenapa lo bisa semarah itu sama gue dan kakak lo sendiri," ucap Risa dengan senyum liciknya.
__ADS_1
"Lo ngomong apaan sih?"
"Nggak usah sok nggak ngerti. Gue udah tau semuanya. Rahasia lo ada di gue."
"Apa sih maksud lo?" tanya Niko menahan amarah yang sudah diubun-ubun.
"Sabar dulu dong." Risa mengetuk beberapa kali meja kafe dengan tatapan yang begitu senang melihat Niko Manahan emosi. Inilah salah satu rencananya.
"Gue tau lo suka sama Aliza."
Gebrakan di meja mereka membuat para pengunjung lainnya menoleh dan seketika mereka menjadi pusat perhatian.
Namun, tak lama mereka kembali ke aktivitas masing-masing.
"Lo tau dari mana?" tanya Niko yang semakin mengepalkan tangannya.
"Apa yang nggak gue tau tentang lo? Gue tau semua."
"Sok tau banget ya lo. Udah percuma gue ketemu sama lo cewek gila." Niko berdiri berniat meninggalkan tempat ini. Namun, lengannya ditahan oleh Risa.
"Gimana kalo kita kerja sama." ucapan perempuan itu membuat Niko menoleg.
"Lo suka sama Aliza dan gue sama Arsen. Jadi, gimana kalo kita buat rencana untuk menghancurkan hubungan mereka?"
Niko diam beberapa detik. "Gue …."
"Mau?" tanya Risa dengan mata binar.
"Kalo gue mau, lo mau bikin rencana apa?" tanya Niko kembali duduk dikursinya.
Rida tersenyum lebar. Akhirnya masuk umpan juga.
"Gue kasih tau kalo lo udah sepakat kerja sama dengan gue," jelas Risa berharap Niko mau untuk bekerja sama dengannya.
"Gimana?"
"Gue …."
__ADS_1