
Tangisan Aliza semakin menjadi. Isakan yang kian terdengar pilu.
Arsen yang melihat Aliza terlalu lama menangis, reflek menarik tangan gadis itu dalam dekapannya.
Tangis Aliza mulai reda. Gadis itu mengangkat kepalanya dari dada bidang Arsen. "Ayo pulang, Kak," ucap Aliza dengan suara serak sehabis menangis.
"Es krimnya gimana?" tanya Arsen bingung memandang es krimnya yang mulai meleleh. Sedari tadi es krim itu dirinya pegang dengan tangan kanan. Bahkan untuk menarik Aliza itu hanya menggunakan tangan kirinya.
Aliza membungkam bibirnya dengan melipatnya kedalam. Takut jika suara isakan akan terdengar kembali setelah melihat es krim stroberi miliknya yang mulai mencair hingga sedikit menetes ke jari tangannya.
Memorinya memutar kembali kejadian dimana dia membeli es krim dan berbincang dengan Abang penjual es krimnya.
"Mau beli es krim, Bang," ucap Aliza seraya menatap kotak es krim disamping penjualnya.
"Mau yang rasa apa, Neng?" Dengan senyum merekah Abang itu segera membuka kotak es krimnya dan menunjukan ada rasa apa saja.
"Aku mau rasa stroberi satu sama vanilanya satu," ucap Aliza seraya menunjuk es yang dirinya maksud.
"Masih banyak ya, Bang?" tanya Aliza ketika melihat masih banyaknya es krim.
"Iya, Neng. Soalnya lagi musim hujan. Jadi jarang yang beli es krim."
Aliza memangngguk memang benar sekarang musim penghujan jadi pemintanya kurang.
"Emang biasanya jualan dimana, Bang?"
"Ya cuma blok sini aja. Saya nggak bisa jalan jauh-jauh. Takut nyeri sendi kumat karena dulu saya pernah jatuh terus cidera," jelas Pria yang berumur 30 tahunan itu seraya memasukan es krim pesanan Aliza kedalam plastik.
"Jadi jualan harus muter muter ya."
"Iya, Neng. Tapi nggak papa Abang mah. Yang penting masih sehat kuat jalan dan nggak kumat penyakitnya. Abang udah syukur alhamdulilah," ungkap pria dengan handuk yang terhampir dibahu kanannya dan sesekali digunakannya untuk mengusap wajahnya.
"Saya udah bersyukur bisa makan," lanjutnya.
Mata Aliza berkaca-kaca menahan tangis tapi semampunya dia tahan agar tak jatuh.
"Udah lama Abang jualan es krim?" tanya Aliza dengan suara kecil menahan tangis.
"Dari saya sebelum menikah, Neng. Sampai sekarang saya punya anak satu. Dan anak saya menderita asma. Makanya saya harus kuat dan semangat cari rejeki. Tapi kadang saya juga takut kalo pas penyakit asmanya kumat kaya tadi pagi," ucapnya.
"Terus sekarang gimana keadannya, Bang?" tanya Aliza. Entahlah, tiba-tiba saja ada rasa khawatir ketika mendengar perkaranya Abang penjual es krim.
__ADS_1
"Alhamdulillah udah agak baikan makanya Abang bisa kerja. Kalo belum membaik nggak akan Abang tinggal kerja dari pada nanti kepikiran pas lagi kerja. Walaupun ada istri yang merawat tapi tetep nggak tenang."
"Iya, Bang. Namanya juga orang tua. Wajar kok kalo khawatir anaknya lagi sakit."
"Hehe. Iya Neng," ucap Pria itu diakhiri senyum.
Aliza yakin senyum itu menyimpan banyak luka. "Oh. Maaf ya, Bang. Saya terlalu banyak bertanya."
"Nggak papa, Neng."
"Semoga anak Abang cepat sembuh ya."
"Iya makasih, Neng. Ini es krimnya. Jadinya 4 ribu." Pria itu menyodorkan plastik transparan pada Aliza.
"Oh. Ya. Ini, Bang." Aliza menyodorkan uang berwarna merah 3 lembar.
"Banyak banget, Neng. Saya nggak ada kembalian." Pria itu menatap uang tiga lembar yang ada ditangannya dan berniat mengembalikan uangnya.
"Nggak papa, Bang. Ini buat berobat anak Abang yang lagi sakit. Semoga lekas sembuh ya, Bang," ucap Aliza dengan senyum yang begitu tulus seraya mendorong tangan penjual itu tanda Aliza menolak uangnya dikembalikan.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya, Neng. Semoga Nengnya dilimpahkan rezekinya, panjang umur, sehat selalu ya, Neng." Pria itu mengucapkan terima kasih dengan begitu tulus. Terlihat jelas dari sorot matanya.
Betapa kurang bersyukurnya Aliza selama ini. Jalan hidup Aliza bisa dikatakan jauh lebih baik untuk masalah ekonomi tapi dirinya tetap mengeluh perihal masalah yang lain.
Seharusnya dia lebih bisa bersyukur.
Sekarang Aliza tau jika bersyukur itu tidak harus menatap kebawah.
Dadanya kembali sesak. Sebegitu beratnya cobaan seseorang tapi mereka tetep bisa bertahan dan bahkan ada yang pintar menyimpan luka dibalik senyuman.
"Iya sama-sama, Bang. Makasih banyak ya, Bang." Aliza mulai beranjak setelah mendapatkan anggukan.
"Aliza? Lo ngelamunin apa sih?" tanya Arsen seraya melambaikan tangan didepan wajah gadis itu.
"Eh. Gue nggak papa." Aliza sedikit gelagapan setelah sadar dari lamunannya.
"Yakin?"
"Iya. Gue cuma keinget pas ngobrol sama Abangnya." Aliza menatap kembali penjual es krim yang masih meneduh dan betapa senangnya Aliza ketika ada orang yang membeli es krim Abang itu.
"Kenapa? Lo boleh cerita."
__ADS_1
"Nggak papa."
Arsen menghembuskan napas perlahan. "Kalo nggak papa. Nggak mungkin lo tadi nangis. Cerita aja siapa tau bisa bikin lega. Setidaknya gue bisa dengerin cerita lo sampai selesai."
Aliza tetap menggeleng.
"Semakin lo pendam semakin lelah diri lo nyimpan semuanya. Manusia itu butuh bercerita walau hanya sekedar hal yang sepele. Hal sepele pun kadang perlu diceritain apalagi pas ada masalah."
"Lo nggak bisa nyamain semua orang.
Gue tau lo terlalu banyak menyimpan luka.
Lo takut buat cerita karena mereka selalu nggak menghargai lo. Mereka nggak mau sekedar jadi pendengar tanpa memberi solusi pun."
"Kalo lo masih mikir nggak ada orang yang akan mau ngedengerin lo. Ada gue yang akan selalu berusaha buat jadi pendengar yang baik. Lo bisa cerita apa aja sama gue kalo lo mau. Dengan senang hati gue dengerin sampai lo selesai cerita," ucap Arsen menatap Aliza lekat.
Aliza merasakan perasaan yang berbeda.
Terasa nyaman mendengar tutur katanya.
Sepertinya memang pikiran Aliza saat ini salah. ternyata masih ada orang yang mau mendengarkannya.
Gadis dengan mata sembab itu segera memalingkan wajahnya ketika Arsen terus menatapnya.
"Gue nggak bisa cerita, Kak. Gue rasa juga ini nggak terlalu penting untuk dibicarakan."
Gagal. Gagal sudah usaha Arsen. Aliza ini terlalu tertutup untuk masalah apa yang dirinya rasakan.
***
Aliza sekarang sudah sampai di studio foto yang dimaksud oleh ibu calon mertuanya.
Sengaja memang sudah dipilihkan katanya itu adalah tempat foto terbaik di kota Jakarta.
Semua busana untuk pre wedding juga sudah dipilihkan oleh Ema. Yang pasti adalah busana adat Jawa.
Karena mereka sama-sama keturunan Jawa yang tinggal atau mulai pindah dari Jawa ke Jakarta ketikai anak-anak mereka masih keci.
"Loh? Sendiri, Mba?" tanya seorang perempuan yang pasti bekerja di studio foto ini.
"Iya, Kak. Emang Kak Arsen belum dateng?" tanya Aliza bingung. Katanya laki-laki itu tadi sedang otw ketika membalas chatnya padahal jarak kantor Arsen dan tokonya lebih jauh tokonya.
__ADS_1