
Halo para readers.
Selamat malam. sambil nunggu author update. author mau rekomendasiin cerita yang bagus banget.
"Sayang," panggil Risa dengan manja setelah mereka selesai makan malam bersama.
"Kenapa hmm?" bales Arsen seraya memegang dagu pacarnya. "Mau apa?"
Risa menggeleng. "Aku pengen habisisn waktu sama kamu malam ini."
"Emm. Sayang. Besok kita jalan-jalan kemana aja. Kemana pun yang kamu mau. Aku minta maaf ya. Aku nggak bisa. Kamu tau aku harus di rumah kalo malam. Ada Aliza di rumah. Aku nggak mungkin ninggalin dia sendirian," jelas Arsen penuh kasih sayang seraya mengelus lembut pipi perempuan yang sangat dia cintai itu.
"Aliza terus Aliza terus!" Risa dengan cepat menyingkirkan tangan Arsen dari pipinya. Dia melengos begitu saja. Muak sekali rasanya mendengar nama itu.
Apalagi jika bertemu ingin sekali dia membuat perempuan itu entah dari muka bumi ini.
"Sayang!" Arsen meraih tangan Risa.
"Aku janji besok kita jalan-jalan." Akhirnya Risa luluh.
"Janji ya?" Aliza menyodorkan jari kelingking.
Arsen menerimanya menautkan kedua kri mereka. "Janji."
"Kapan kamu cerai sama Aliza?" tanya Risa setelah selesai melakukan ikrar janji.
"Sabar ya. Umur pernikahan kami juga baru satu bulan," jelas Arsen menatap Risa sendu.
"Terus aku harus nunggu berapa lama lagi sih, Ar?" tanya Risa begitu kesal.
Telinganya begitu panas mendengar kata "Pernikahan".
__ADS_1
"Kasih aku waktu setahun. Aku janji setelah itu aku akan ceraikan Aliza," ucap Arsen meyakinkan pacarnya.
"Kamu kebanyakan janji. Aku cuma butuh bukti." Risa menekan kalimat terakhirnya seraya menatap Arsen serius.
"Iya, Sayang. Aku harap kamu mau bersabar ya." Arsen menarik Risa dalam dekapannya.
Di balik kaca transparan restoran yang mereka pilih untuk makan malam itu ternyata ada Aliza yang sedari tadi memperhatikan Arsen dan Risa.
Dia mendengar semua percakapam mereka yang menyakiti hatinya. Menggores begitu dalam.
Aliza memilih untuk segera pergi dari tempat itu. Tempat yang terlalu menyakitkan untuk dia terus berada disana. Semakin menambah rasa sakit yang ada. Menambah luka baru.
***
Kali ini Aliza mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Emosinya tak terkendali. Air mata yang terus turun hingga menutupi pandangan yang jelas itu tak membuat perempuan itu menghentikan laju mobilnya.
Lampu yang tiba-tiba meyorot tajam itu berasal dari depan hingga membuat pandangan Aliza terganggu. Dia membanting stir ke kanan.
Napasnya tak beraturan dan berpacu sangat cepat. Syukur lah dia tidak apa-apa.
Dia mulai sadar apa yang dia lakukan tadi sangat membahayakan dirinya sendiri.
Suara ketukan dikaca mobilnya membuat Aliza menoleh lalu membukanya.
"Lo ngapain disini, Al?" Niko menatap Aliza bingung. Bagaimana bisa Kakak iparnya itu malam-malam masih di luar?
Aliza menampilkan senyum kecil. "Gue nggak papa. Ini gue mau jalan pulang."
Niko memicing, mengamati wajah Aliza.
Perempuan itu terlihat seperti orang sehabis menangis.
"Lo abis nangis ya?" desak Niko setelah melihat betapa merah matanya dan bekas jejak air mata di pipi perempuan itu masih terlihat jelas.
Aliza menunduk, tak lama suara tangis itu mulai terdengar.
__ADS_1
Niko yang bingung segera masuk ke mobil Aliza mengambil tempat di samping perempuan itu.
Niko segera menarik Aliza, membawanya kedalam dekapan hangat miliknya.
Walaupun perempuan ini bukan miliknya tapi setidaknya ketika perempuan itu membutuhkan tempat bersandar seperti sekarang. Dia siap sedia.
Niko memang mengikuti Aliza yang mulai masuk restoran. Ternyata niat perempuan itu ingin makan dengan nyaman dan perasaan yang bahagia. Nyatanya sirna akibat melihat ulah dua orang yang saling mencintai bermesraan didepan matanya.
Niko tau bagaimana perasaan Aliza setelah melihat kejadian itu?
Makanya dia mengikuti Aliza, takut jika terjadi hal yang tidak-tidak padanya.
"Gue disini. Lo tenang aja." Arsen mengusap kepala Aliza lembut.
***
"Nih!" Niko menyodorkan secup es krim rasa strawberry kesukaan Aliza.
Tanpa semangat Aliza mengambil es krim itu. Namun, dia tak berniat sama sekali untuk memakannya.
Niko yang membawa Aliza ke kedai es krim. Dia tau jika perempuan itu sangat menyukai makanan apapun yang berbau strawberry. Akhirnya dia memutuskan untuk datang ke tempat ini. Kerena jujur saja dia dulu sering melihat Aliza ke tempat ini dengan membawa secup es krim strawberry.
"Al!" panggilan Niko tak direspon oleh Aliza.
Perempuan itu masih menatap lurus kedepan. "Hidup gue miris banget ya."
Niko diam beberapa saat mencoba mencerna perkataan Aliza. "Nggak boleh ngomong gitu!"
"Takdir gue gini banget." Suara Aliza semakin pelan.
"Gue nggak berhak ya buat bahagia?" lirih Aliza dengan menunduk.
"Berhak," pungkas Niko. "Lo berhak bahagia. Semua orang di dunia ini itu punya hak buat bahagia."
"Gue tau ini berat banget buat lo." Arsen menatap es krim yang dia bawa tadi yang masih dalam genggaman perempuan itu.
__ADS_1
Bahkan, makanan favoritnya pun tidak bisa mempengaruhinya. Sesakit itu ternyata.
"Gue yakin lo bakal bahagia. Lo kuat ngelewatin ini semua," ucap Niko mengelus pundak Aliza lembut.