Perjodohan Paksa Dengan Crush

Perjodohan Paksa Dengan Crush
Bab 14 Niko


__ADS_3

Kerutan didahi Arsen muncul setelah dia mendapatkan pesan dari adiknya itu.


Niko Arma Jaya, adik satu-satunya yang sering sekali membuatnya mengelus dada setiap hari.


Arsen jadi rindu kenangan mereka ketika masih kecil. Niko dulu sangat bendel sekali. Tak jarang kadang dia harus menjadi tameng untuk adiknya yang begitu jail dan nakal itu.


Walaupun begitu, Arsen sangat sayang dengan adik laki-lakinya itu.


Seriusan lo?


Kenapa mendadak lo pulang?


Tak lama pesan itu terkirim dan berubah tanda menjadi centang dua berwarna biru, tanda sudah dibaca.


Begitu lama Arsen menunggu balasan dari adiknya. Namun, karena dia juga sudah lelah dan mengantuk akhirnya dia meletakkan ponselnya diatas nakas.


Baru saja dirinya simpan ponselnya, sudah terdengar nada dering tanda ada panggilan masuk.


"Halo?" Suara Arsen sedikit ketus sebagai pembuka suara. Karena jujur saja dia lelah. Bukan tak senang jika adiknya akan pulang ke Indonesia.


Tapi karena hari juga sudah larut malam dan dia harus bekerja besok pagi.


"Hallo, Kak. Apa kabar? Cie yang mau nikah. Haha. Akhirnya lo nikah juga."


Suara Niko begitu menyebalkan bagi Arsen.


"Lo tau dari mana?" tanya Arsen tanpa basa-basi lagi. Bahkan pertanyaan Niko diawal pun tidak dirinya jawab.


"Ayah sama bunda lah. Btw. Cewek yang bakalan dijodohin sama lo gimana orangnya? Cantik nggak?"


"Kalo lo nggak mau. Nanti biar gue aja yang gantiin. Katanya lo kan mau fokus karir dulu," ucap Niko yang masih gencar menggoda Kakaknya itu.


"Lo nelepon gue malem-malem cuma mau ngomongin itu?" Kekesalan Arsen sudah ada dipuncaknya.

__ADS_1


Entahalah, bicara soal perjodohan begitu sensitif untuknya.


"Iya, tapi selain itu juga gue kangen sama lo," ucap Niko jujur. Dia sudah begitu lama tidak bertemu dengan kakaknya itu.


Yang lebih jelasnya Niko lebih kangen untuk menjaili Arsen kembali.


"Mending lo istirahat sekarang. Besok biar Ayah yang jemput ke bandara. Gue nggak bisa soalnya." Arsen mulai merebahkan badannya dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.


"Kenapa?"


"Gue ada urusan penting."


"Lebih penting dari gue?"


"IYA! Udah mending lo tidur. Besok kita lanjut ngobrolnya." Arsen segera memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Niko.


Jika Niko benar-bener pulang. Berati pernikahnnya dengan Aliza akan dilakukan dalam waktu dekat.


Walaupun itu mustahil.


Ketika ada hal dimasa yang akan datang dan tidak diinginkan. Rasanya waktu akan berjalan lebih cepat.


***


"Lo beneran liat Arsen sama Risa?" Melia yang sekarang sudah ada didepan Aliza dengan tatapan yang begitu serius.


Aliza hanya mengangguk dan fokus pada kertas putih dengan goresan tinta hitam diatasnya.


Melia datang pagi-pagi hanya untuk menanyakan perihal tanah yang akan Aliza beli. Karena Bapak pemilik tanah sudah berkali-kali menanyakan pada Melia.


Aliza juga sedang pusing karena ada beberapa masalah tentang toko rotinya.


Keterlambatan dalam mengantar pesanan juga menjadi nilai buruk bagi tokonya.

__ADS_1


Aliza membolak-balik kertas itu mengecek kembali apakah laporan keuangan juga sesuai. Bulan ini memang banyak pesanan kue dan kadang Aliza juga harus lembur untuk membantu pembuatan kuenya.


"Lo kasih nomor Bapak itu. Nanti gue hubungi dia." Aliza masih fokus pada kertas laporan keuangan itu sekali mengotak-atik komputer yang ada didepannya.


"Oke. Nanti gue kirim. Tapi jawab pertanyaan gue dulu. Terus gimana pas Arsen tau lo ngeliat dia lagi berduaan sama Risa?" Melia sangat tidak sabar. Dia ingin tau apakah reaksi Arsen setelah kejadian itu.


Akhirnya Aliza meletakkan kertasnya lalu membenarkan posisi duduknya menghadap pada Melia.


"Kak Arsen semalem nelepon gue. Mau ngejalasin mungkin. Cuma udah gue potong duluan." Aliza menjelaskan dengan gamblangnya.


"Kenapa nggak lo biarin dia jelasin dulu?"


"Buat apa?"


"Ya, seenggaknya lo dengerin dulu lah penjelasan dia. Biar keliatan menghargai."


Aliza tersenyum tipis. "Yang ada gue nambah sakit hati lah, Mel. Dia bakalan ceritain semuanya 'kan. Makanya lebih baik gue potong."


"Kemungkinan dia nggak enak sama gue pas gue liat dia sama Risa," lanjutnya.


"Iya mungkin ya. Tapi kalo dipikir-pikir kenapa Kak Arsen mau jelasin ke lo?"


Aliza mengedikan bahunya. "Gue nggak tau."


"Berati secara nggak langsung dia mikirin perasaan lo gimana. Takut lo sakit hati karena yang jelas kalian berdua dijodohkan," jelas Melia membuat Aliza menatap sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Gue sih mikirnya gitu ya. Kalo lo gue ngga tau."


Ada rasa bahagia dalam hatinya. Ternyata Arsen bisa sepeka itu. Namun, sedetik kemudian rasa bahagia digantikan dengan rasa sedih.


Entahlah. Aliza hanya tidak ingin terlalu berharap pada Arsen yang jelas-jelas mempunyai perempuan yang ada dihatinya dan itu bukan dirinya.


"Gue nggak mau berharap, Mel. Gue takut nanti gue yang sakit hati lagi," ungkap Aliza dengan tatapan kosong lurus kedepan.

__ADS_1


__ADS_2