
Sebuah rumah megah bernuansa Eropa, memiliki halaman luas bisa menampung puluhan kendaraan. Kediaman utama keluarga Xander yang lebih cocok disebut masion, berukuran dua kali lipat dari masion yang ditempati oleh anak ketiga keluarga Xander itu.
Masion utama yang selalu di jaga ketat oleh orang-orang berpakaian hitam serta berbadan
besar nan wajah sangar menyeramkan.
"Kak Al itu punya ana! Kenapa di habisin semua sih". Kesal ana melihat bungkus Snack kesukaannya berada ditangan kakaknya. Dan yang membuat dirinya tambah kesal ternyata isinya sudah ludes dimakan alka. Tidak ada yang tersisa sedikit pun untuk dirinya.
Sedangkan pria itu malah asik menjilati jarinya dengan santai. Alka melihat kearah sang adik yang berdiri didepannya dengan berdecak pinggang. "Tinggal beli lagi saja An lagian ini cuman snack biasa, banyak di minimarket". Sanggahnya dengan santai tidak ada ada raut bersalah sedikit pun. Gampang sekali kakaknya ini berbicara setelah menghabiskan tiga bungkus snacknya.
Kalian bisa bayangkan bagaimana kesalnya menjadi dirinya. Padahal ana sengaja menyimpan Snack kesukaannya itu, karena nanti malam ia akan begadang menonton Drakor favoritnya sembari mengemil. Tapi pria tidak tau diri ini menghancurkan semuanya. Ingat ana pria itu adalah kakak kandungmu teriaknya dalam hati.
Menghela nafas sebentar lalu memincingkan matanya melihat pria itu. "pokoknya kakak harus ganti! membelikan semua Snack kesukaan ana yang kakak makan, sepuluh bungkus sekarang juga!”. tekannya.
"tidak bisa, kakak memakan tiga bungkus kenapa harus mengganti jadi sepuluh bungkus". serunya dengan nyolot. Ia tidak terima bagaimana adiknya ini meminta ganti dengan tiga kali lipat. "kau ini seperti rentenir saja".
"Pokoknya kakak harus ganti, ganti, pokoknya ganti sekarang juga". geramnya ana tidak mau tau terserah kakaknya mau mengatai dirinya seperti rentenir. Tidak bisa diganggu gugat harus sepuluh Snack.
"Aduh, aduh, Iyah kau ini galak sekali". Menepis setiap bantal sofa yang dilempar adiknya.
"Itu salah kakak memakan Snack ana tanpa izin". gerutu ana melihat kakaknya menggosok telapak tangannya sedikit nyeri karena terketuk ujung meja, pada saat menepis bantal yang melayang ke arahnya.
"Kalau kakak tidak mau mengganti snacknya, ana adukan ke Papi".ancam gadis itu karena Alka tetap duduk melanjutkan nonton tv nya.
"Dasar pengadu"ketus Alka
__ADS_1
"Memang"sahut ana dengan senyuman lebar tercetak di bibirnya, melihat sang kakak akhirnya berdiri dari duduknya.
"Tunggu sebentar, kakak mengambil kunci mobil dulu". ucap dengan malas mendelik matanya melihat adiknya tersenyum sangat lebar, Ia memilih mengalah saja karena tidak ingin mendengar ceramah panjang lebar yang pasti akan berjudul menjadi kakak yang baik.
"Sepuluh kak jangan lupa harus sama seperti yang kakak makan yah". Teriaknya senang melihat sang kakak berjalan menaiki tangga mengambil kunci.
Inilah yang namanya mencari kesempatan dalam kesempitan. Kakaknya selalu menuruti jika sudah mendengar ancaman itu. Walaupun ia tau kakaknya terpaksa tetap saja dirinya tidak perduli. Ana lalu berlari kecil kearah dapur, menghampiri bunda dan maminya yang sedang menyiapkan makanan. Karena hari ini Kakek dan orang tua kak Zein akan datang.
****
Suasana hari semakin sore matahari sudah mulai menyembunyikan dirinya. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore cuaca di luar cukup dingin di karenakan langit mulai mendung.
Diruang keluarga para penghuni sedang duduk melingkar di atas kursi meja makan, kecuali para pelayan dan beberapa pengawal. Mereka berdiri dibelakangnya sembari sedikit menundukkan kepalanya.
"Dimana Zein dan Geo". Tanya seseorang paruh baya yang sedang duduk di atas sofa. Suara tegas mampu membuat mereka yang mendengarnya merasa merinding. Walaupun usianya sudah tua, kulit wajahnya sudah keriput, bahkan berjalan pun harus membawa tongkat. Tapi tetap saja aura kepemimpinan masih melekat pada pria paruh baya itu.
Mereka semua yang sedang berada di ruangan tersebut adalah keluarga Xander. Keluarga yang paling disegani dan di hormati oleh orang-orang. Tapi di balik itu semua banyak pula para musuh yang ingin menyingkirkan nyawa mereka.
Mereka sedang berkumpul karena kedatangan seseorang yang paling dihormati dan ditakuti di keluarga Xander. Brata Mark Xander seseorang yang paling ditakuti karena kekejamannya pada masanya. Pria paruh baya yang memimpin sekelompok mafia terkuat pada masa itu, tapi harus turun dari pimpinannya karena faktor usia. Tetapi aura kepemimpinan masih ia bawa sampai sekarang, bahkan sudah melekat dalam dirinya.
Pria paruh baya itu mendongakkan kepalanya melihat kearah orang-orang yang duduk diruang itu. Melihat ketiga putra dan menantunya lalu kedua cucunya yang merupakan anak dari putra ketiganya.
"Alka, Ana".panggil paruh baya yang mereka sebut kakek.
" Ya kek".sahut mereka berdua, lalu mendongakkan kepalanya kearah sang kakek.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kalian".
"Kami baik kek".
"Kemarilah"perintah sang kakek kepada kedua cucunya itu. "Kalian sudah dewasa sekarang.Kapan kalian akan memberikan kakek cicit".seru kakek. Pria terkekeh kecil melihat raut wajah keduanya. Padahal pria itu hanya ingin bergurau saja.
"Kek umur ana saja belum genap 18 tahun, baru lulus sekolah, jadi ana belum bisa memberikan cicit kepada kakek".seru ana dengan wajah memelas.
Kakeknya tersenyum melihat cucu perempuan satu-satunya ini, ia mengacak rambut cucu perempuannya"Baiklah alasan ana kakek terima".ucap kakek dengan menganggukkan kepalanya. Ana langsung tersenyum mendengar itu. lalu memeluk kakeknya yang sudah lama tidak bertemu.
walaupun kakeknya ini terkenal karena kekejaman dan ketegasannya, tetap saja sangat menyayangi cucu-cucunya. Tapi jika sudah dalam mode serius tidak ada yang berani membantahnya, walau hanya sekedar menyela.
"Dan kau Alka". melihat kearah cucunya itu, "umurmu sudah cukup matang untuk menikah lalu apa lagi yang kau tunggu".
"Itu karena Alka belum mendapatkan wanita yang pas kek". ucap Alka dengan wajah sok serius, "aku akan mencari dulu, jika sudah dapat aku langsung mengenalkan pada kakek".
"Kau pikir mereka ikan Al"sahut papi Farrel, ia menggelengkan kepalanya tidak abis pikir mendengar ucapan anaknya ini.
"bagaimana Kak Al mau mendapatkan kakak ipar, sedangkan mata kakak selalu melotot jika melihat wanita cantik.Bahkan kak Al selalu bilang mereka semua wanita idealnya ". Cibir ana dengan tampang mengejek, ia mengalihkan tatapan matanya saat melihat kak Al menatapnya dengan mata melotot.
Mereka semua tertawa mendengar cerocosan ana, apalagi pandangan mereka mengarah ke alka."Kau itu cerewet sekali ana, aku tidak seperti itu kek".Sanggah alka
"Tapi memang itu kebenarannya kak Al"
"Sudah-sudah kalian berdua berhentilah berdebat, biarkan kakek kalian beristirahat ". suara lembut wanita menghentikan perdebatan kakak adik tersebut.
__ADS_1
Kakek tersenyum melihat keduanya langsung mengangguk diam, cucu dari anak ketiganya itu memiliki sifat yang cerewet berbeda sekali dengan kedua cucunya yang merupakan anak dari putra pertama dan kedua. Apalagi cucu pertamanya itu sifat dan wataknya hampir sama seperti dirinya saat masih muda.