Pernikahan Couple Dingin

Pernikahan Couple Dingin
bab 22


__ADS_3

Sedangkan disisi lain.


Terdapat orang yang menjadi biang masalah membuat kedua cucunya uring-uringan bersama dengan asistennya sedang duduk di masion sahabatnya.


Sehabis berpelukan rindu ala pria, sebab sudah beberapa tahun tidak bertemu. Kedua orang paruh baya yang jika berjalan di temani dengan sebuah tongkat itu akhirnya bertemu.


Keduanya duduk di sofa empuk didalam ruangan tersebut.


" Sepertinya kau terlihat sedikit tertekan" celetuk sang tuan rumah.


" Basa basi mu masih saja buruk" ejek lawan bicara. "Bagaimana kabarmu?" tanya seorang yang menjadi tamu.


"Aku selalu baik" ucap dengan tenang dan juga datar.


"Pantas saja, terlihat jelas di wajah lempeng mu itu. Kau masih saja menampilkan wajah sok datar mu itu" pekiknya malas melihat wajah sahabatnya ini masih saja datar sejak dulu.

__ADS_1


"Dan kau masih sama tidak pernah sopan kepada ku, Aku ini masih pemimpin mu" seru tuan rumah yang mengaku sebagai pemimpinnya. Siapa lagi jika bukan Brata Mark Xander.


"Mantan pemimpin! sebutan yang baru pas untukmu saat ini!". Tekannya dengan tampang mengejek.


Melihat pria itu mengejeknya, membuat Brata kembali memandang dengan remeh. " Sekarang kau sudah berani kepadaku, Kau harus ingat waktu dulu kau pernah menjadi orang yang selalu patuh mengikuti semua perintah ku!".


"Kalau dulu iya, karena dulu aku seorang tangan kanan dari mafia mu, aku saja merasa bodoh untuk apa waktu dulu aku selalu saja menuruti perintah mu".


"Tentu saja. itu memang pekerjaan dari seorang bawahan".


Kedua orang tersebut adalah seseorang yang sama - sama paling di takuti di masa lalu. Siapa lagi jika bukan Brata Mark Xander sang pemimpin dari mafia yang paling kejam juga menyeramkan pada masa itu. Lalu satu orang lagi yang sengaja bertamu ke kediamannya, Selain sebagai sahabat terbaik dari Brata. Orang tersebut juga adalah tangan kanan dari pemimpin mafia itu, Brama Carl Stever seseorang yang tidak sopan terhadap pemimpinnya. Walaupun begitu dirinya selalu patuh dan mengikuti suatu perintah yang perintahkan sang pemimpin.


Ketiga anak Brata, Sean, Vahren dan Farrel sudah biasa melihat kedua seperti itu. Karena memang sedari dulu kedua sahabat ini akan selalu berdebat jika sudah di satukan. Tapi tetap saja ketiganya masih ada rasa kagum melihat keduanya.


Berbeda lagi dengan kedua cucunya Geo dan Alka juga asisten Berto. Mereka sangat kagum dan tercengang melihat keduanya berdebat dengan masih memancarkan aura bengis, tegas, gagah serta tatapan tajam. Padahal kakek dan juga sahabatnya itu sudah tua, kulit wajah mereka sudah terlihat keriput bahkan keduanya berjalan saja di temani dengan tongkat.

__ADS_1


Apalagi asisten dari kakek Brama sangat kagum juga melihat tuannya. Selain itu, Berto juga tidak habis pikir dengan tuannya. Tuannya ini malah asik berbincang hingga melupakan tujuan mereka datang kesini, karena tuannya ini ingin menyampaikan sesuatu. Yang bisa di lakukan pria itu hanya diam. Tidak mungkinkan dirinya harus menyela? jangan! jangan lakukan itu!.


Dringg


Tiba-tiba suara telepon berdering berasal dari saku kakek Brama. Tidak membuat keduanya terganggu. Juga tidak ada dari mereka yang berani memberitahukan sebab kedua kakek itu terlihat sangat serius membicarakan masa lalunya. Mereka hanya saling menatap lalu menatap kearah asisten kakek Brama.


Berto menghela nafas melihat tatapan mereka kearah dirinya. Karena dering ponsel terus menerus berdering akhirnya Berto memberanikan diri memberitahu sang tuan. "Maaf tuan ponsel tuan sedari tadi berbunyi" Ucap asisten dengan sopan.


"Benarkah" sanggah kakek Brama sembari mengambil handphone di dalam sakunya. Dan ternyata benar. Langsung memberikan ponselnya kepada asistennya tanpa melihat nama penelpon "Angkatlah" suruh nya. sebab dirinya sedang malas memegang ponselnya.


" Baik"


Baru saja menekan tombol hijau suara dari sebrang sana mengagetkan mereka semua.


"KAKEK! Kakek kemana saja sejak dari tadi mengapa tidak mengangkat teleponmu Kakek cepat ke masion kakek harus bertanggung jawab gara- gara kakek menyeret kami masuk kedalam rencana kakek itu kak liona marah kepada ku dan juga Dion Pokoknya kakek harus cepat pulang sekarang celin tidak mau tau kak liona sedang marah sekarang bahkan tadi kami mendengar suara keras dari kamar kak liona oh yah bawa juga asisten kakek itu akan aku memberi bogeman pria itu berani sekali mengabaikan telpo—". Brama buru-buru mematikan sambungan telepon, Berto menelan ludah kasar mendengar namanya terseret. Ia mengutuk dirinya sendiri karena kecerobohannya, malah tidak sengaja meninggalkan ponselnya di mobil.

__ADS_1


__ADS_2