Pernikahan Couple Dingin

Pernikahan Couple Dingin
bab 20


__ADS_3

Mendengar suara tembakan dari dalam ruangan membuat Alex dan para anak buah berjumlah lima orang yang sedang berjaga di luar terkejut. Mereka langsung spontan berlari mendobrak pintu secara paksa dan menodongkan pistol mereka.


Namun saat masuk kedalam, lagi - lagi mereka semua terkejut, tubuh mereka terasa kaku susah di gerakkan. Mata ke-lima anak buah dan juga Alex terasa susah sekali berkedip melihat kejadian langka dalam hidup mereka. Posisi para bawahan yaitu, mereka berdiri kaku dengan mata melotot terbengong, jangan lupakan tangan mereka yang menodongkan pistol ke arah dua orang berbeda gander di hadapan mereka.


Tembok yang bolong karena terkena tembakan peluru, meja yang terbalik, serta kursi yang juga ikut terbalik dengan satu kaki kursi patah.


Setelah kesadaran mereka kembali, buru - buru menurunkan pistol dan membalikkan badan membelakangi kedua orang tersebut.


Krek, bunyi kayu dari patahan kursi terinjak tidak sengaja. Alex memejamkan matanya dan menggigit bibirnya untuk menutupi kepanikannya. "Sial! kenapa harus aku yang menginjak kayu ini" geramnya dalam hati.


Saat akan memutarkan tubuhnya meminta maaf " KELUAR" suara bentakan dari zein lebih dulu menusuk telinga.


"Permisi tuan" pamit mereka langsung berlari terbirit-birit keluar, tidak menoleh kebelakang sama sekali.


Flashback on


"JAGA BATASAN UCAPAN MU WANITA SIALAN". Bentak Zein marah memotong ucapan Liona. Emosi yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar. Pria itu sangat marah terhadap wanita ini yang berani mengatakan seperti itu..... Sebenarnya sudah biasa ia mendapatkan pertanyaan seperti itu dari keluarganya. Dan Zein membiarkan saja sebab ia memang tidak peduli, masa bodoh saja. Tapi entah kenapa mendapatkan pertanyaan itu, dari Liona membuat dirinya tidak terima, seakan itu sebuah penghinaan.


Kedua tangannya terkepal menahan diri untuk tidak mencekik leher wanita ini. Matanya menatap Liona sangat tajam.


"Turunkan senjata mu tuan pemarah, aku tidak takut dengan pistol mura—". ucap terhenti matanya masih melirik pistol yang sudah berada di tangan Zein.


Saat melihat pergerakan tangan Zein yang akan menekan pelatuk pistol tersebut. Dengan gesit Liona menendang meja di depannya mengenai perut Zein. Menyebabkan pria itu terlonjak kebelakang dan membuat kursi yang pria itu duduki terjatuh patah.


Saking kuatnya dorongan yang disebabkan dari tendangan Liona. Saat tangan Liona akan merebut pistol yang sedikit oleng dari tangan Zein, namun suara...


Dor..!


Terdengar suara tembakan memenuhi ruang tersebut. Peluru itu mendarat ke tembok belakang tubuh Liona berdiri. Tembok yang tadinya rata sekarang harus bolong karena terkena tembakan dari pistol sang ketua mafia.

__ADS_1


Yah, Zein memang sengaja tidak menembak Liona karena hanya ingin membuktikan jika dirinya tidak bercanda dalam ucapannya. Bahwa pria ini bisa membunuhnya!.


Liona yang melihat itu, tahu bahwa Zein sengaja meleset kan tembakan pelurunya. Ia sangat kesal melihat wajah datar pria itu yang selalu menatap dirinya remeh, lalu sekarang pria itu membalas dengan mempermainkan dirinya. Baru saja ingin melangkah, tiba-tiba kakinya tersandung dengan ujung meja yang terbalik tadi.


Zein yang melihat tubuh Liona akan terjatuh pun refleks menariknya dan ....


Bruk


Suara terjatuh keduanya bersamaan dengan dobrakan pintu dari luar.


Mereka semua yang berada dalam ruangan tersebut melotot tak terkecuali dua orang yang terbaring dilantai dengan posisi tubuh Liona yang di atas menindih tubuh Zein.


Keduanya melotot terkejut, bukan karena posisi mereka. Tapi karena bibir keduanya saling menempel. Mata kedua orang tersebut saling menatap, saking dekatnya Zein bisa mencium harum vanilla dari tubuh Liona. Keduanya masih saling menatap, bahkan bibir keduanya masih menempel, mereka belum sadar dengan posisi keduanya.


Kret, terdengar suara dari arah pintu membuat Zein dan Liona langsung tersadar. Buruh buru Liona mengangkat tubuhnya.


Flashback off.


Liona memandang Zein marah, karena pria ini telah mencium nya. Padahal kejadian tadi bukan hanya kesalahan Zein! tapi tetap saja Liona begitu marah!. Apalagi melihat Zein yang malah menatapnya datar seperti tidak terjadi apapun. Apa pria ini normal?. Tidak ada permintaan maaf kah? ini termasuk pelecehan!pikir Liona.


Ini juga salah mu juga! karena mengharapkan jika seseorang Zein leonard Xander mengucapkan maaf. Itu tidak akan pernah terjadi!. Liona berjalan mengambil pistol yang tergeletak di dekatnya lalu menembakkan peluru nya kearah Zein.


Dor..!


Setelah itu berjalan keluar meninggalkan Zein yang terdiam dengan pundak yang tergores terkena peluru. Namun mengeluarkan darah. Tanpa mengatakan sepatah katapun. Zein menghela nafas lega melihat Liona keluar. Sebenarnya jantungnya juga berdegup kencang karena merasakan bibir manis Liona. Tapi ia bisa menutupinya dengan wajah datar seakan tidak terjadi apapun. Mengabaikan rasa sedikit sakit di pundaknya.


Mendengar suara tembakan lagi dari dalam membuat Alex dan yang lainnya tetap diam. Tidak masuk karena tidak ingin melihat kejadian itu lagi yang membuat jantung mereka terasa copot.


Suara pintu terbuka mengalihkan tatapan mereka kearah pintu. Suasana menjadi mencekam saat Liona keluar dari dalam dengan wajah datar menyeramkan membuat tubuh mereka merinding.

__ADS_1


"Urus tuan kalian, Aku menembaknya sampai sekarat". perintah Liona memberi tahu keadaan pria itu.


Mereka yang akhirnya bisa melihat wajah dari calon tuannya terkejut, karena wanita itu memiliki postur wajah sangat cantik tapi sedikit menyeramkan. Apalagi Alex dirinya tidak menyangka jika wanita yang dijodohkan dengan Zein adalah wanita yang sama yang di temui di klub itu.


Suara langkah dari Liona menyadarkan mereka. Ia langsung teringat ucapan wanita itu, seperti mengatakan sekarat?.


Mereka langsung terburu-buru masuk kedalam melihat keadaan tuannya.


****


Setelah sampai. Liona masuk kedalam masion dengan menahan amarah disebabkan kejadian di restoran itu. Para pengawal dan pelayanan melihat nona mereka pulang dengan keadaan yang tidak baik membuat mereka ketakutan.


Suasana didalam menjadi mencekam sejak kedatangan nona mereka. Liona tetap berjalan dengan wajah datar dan dingin mengabaikan para pengawal dan pelayanan yang menunduk hormat kepadanya.


Terus berjalan ke arah kamarnya mengabaikan Celin yang sedang duduk menonton tv, refleks menegakkan duduknya melihat kakaknya. Bahkan Deon meneguk ludah kasar berpapasan dengan Liona yang sama sekali tidak meliriknya. melewatinya dengan wajah yang tetap tidak bersahabat.


"Kak celin" panggil Dion sembari berlari menuju celin dengan tangan yang membawa cemilan. Tadi Dion ke ruang dapur untuk mengambil cemilan untuk mereka berdua, atas perintah dari celin.


"Kak". panggil lagi Dion dengan mendorong sedikit tubuh kakaknya. Guna menyadarkan celin yang terbengong.


"Kakak juga takut Dion, bukan kau saja yang merasakannya" ucap lesu celin.


"Ini semua salah kakek, Kalau saja kakek tidak memaksa kita untuk ikut masuk kedalam rencananya, Kak Liona tidak akan marah pada ku" ujar Dion kesal tambah takut.


"Kau juga salah, karena tergiur dengan syarat yang diberikan kakek" sahut celin mengingatkan. Jika bukan karena mereka yang kepo. Tidak mungkin akan seperti ini.


PYAAR..!


Suara dari dalam kamar kak liona mengagetkan mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2