Pernikahan Couple Dingin

Pernikahan Couple Dingin
bab 23


__ADS_3

Mereka semua tercengang mendengar suara perempuan mengoceh tanpa henti dari sebrang sana.


"Celin" gumamnya kesal dalam hati. Brama mendelik matanya mengarah ke asisten, yang terlihat pucat. Jangan tanya penyebabnya! sudah pasti karena bogeman itu!.


"Haha" suara tawa menggelegar dalam ruangan tersebut. " Bram! Bram!" ujarnya terkekeh geli.


"Kenapa kau mematikan teleponmu, cucumu itu belum selesai mengocehi mu" tambahnya dengan menekan kata mengocehi.


Brama mendengus kesal " tutup mulutmu! ini semua juga karena kau! jika bukan untuk membuat cucu ku Liona menyetujui perjodohan ini. Tidak akan aku membuat rencana gila ini". Ketus brama untuk menutupi malunya.


"Jadi Liona sudah menyetujuinya" pekik Brata berubah serius.


"Hm"


"Baguslah" senangnya.


Hanya itu. Sahabat macam apa ini? Brama tertawa dalam hati melihat kebahagiaan di wajah sahabatnya. " Belum saja kau bertemu dengan cucu pertama ku. Tidak lama lagi wajah senang mu akan berganti dengan wajah tertekan sepertiku hihi" ujar Brama dalam hati.


"Apa tadi celin?" tanya Brata dibalas anggukan oleh Brama.


"Aku tidak menyangka anak kecil pendiam itu, berubah cerewet" celetuknya terkekeh.


"Kau akan terkejut melihat ketiga cucuku". ucap Brama dengan wajah yang sulit di artikan. Lalu matanya melirik kearah mereka yang sedari tadi hanya menyimak. Kakek Brama berbincang sebentar dengan mereka semua. Terutama pada Geo dan Alka. Ia bisa melihat jika Alka memiliki sifat hampir sama dengan cucunya Dion, Berbeda dengan geo.


"Tuan aku tahu kau ingin berlama-lama agar tidak cepat pulang bertemu dengan cucu - cucumu" batin sang asisten menghela nafas, yang juga ikut sedikit berbicara jika di tanya.


"Aku akan pergi, Aku hanya ingin memberitahukan itu saja". Pamit Brama menghentikan perbincangan mereka.

__ADS_1


"Pergilah"


"Cucumu sedang menunggu mu"


"Hm"


"Cih sok sekali"


Para anak dan cucunya tersenyum bahagia melihat orang yang paling di hormati dan disegani dalam keluarga Xander bisa melepaskan tawanya.


Persahabatan keduanya semakin lama, semakin tua, semakin erat juga.


****


"Liona" panggil kakek sembari menghampiri cucunya sedang berdiri, berada di balkon kamar.


"Hm"


Liona sudah tahu kedatangan kakeknya untuk apa! . "Memaksa!" tekan Liona mengingatkan.


"Ah iya, maksud kakek. Kakek minta maaf karena memaksamu". ucapnya tersenyum kikuk. Padahal ia sudah memasang wajah sok bersalah tapi malah tidak menduga seperti ini.


"Hm"


Kan benar! pasti cucunya ini memaafkannya.


"Berarti kakek dan kedua adikmu sudah di maafkan".

__ADS_1


"Hm, tapi jangan salahkan aku jika aku berbuat semauku seperti yang kakek lakukan"


"Baiklah lakukan semua yang kau inginkan " ujar kakek cepat tanpa merasa curiga dengan wajah senangnya. Tapi wajah senangnya seketika redup mendengar ucapan selanjutnya.


Liona mendengar kakek memberi izin, diam - diam tersenyum smirk. Tanpa di ketahui oleh kakeknya. "Akan ku lakukan, Termasuk membuat rencana membatalkan perjodohan itu".


ia sontak melotot "Tapi Lio-"


"Kakek sudah memberiku izin tadi" memotong ucapan kakeknya dengan santai.


" Kakek istirahatlah" bujuknya saat melihat mulut kakeknya akan berbicara.


Menghela nafas lalu mengusap kepala Liona dengan senyum "Kau juga" berjalan keluar sebab tau bahwa cucu keras Kepalanya ini mengusirnya secara halus . Dan tidak ingin di bantah.


"Kek bagaimana? kak Liona sudah tidak marah lagi kan?" tanya Celin.


Baru saja keluar dari kamar Liona, dirinya sudah di serbu pertanyaan dari cucu lainnya.


"Hm" Langsung melenggang pergi melewati keduanya.


"Aneh" celetuk Celin dan Dion lalu saling melirik, melihat kakeknya terus berjalan pelan dengan di temani tongkat.


Keduanya segera berlari menyusul, guna menuntun serta menemani kakeknya sampai masuk kedalam kamar.


****


Dua hari terlewati, kini Liona sedang berada didalam mobil yang terparkir di halaman luas masion Xander. Seharusnya kemarin ia mengunjungi masion Xander, tapi harus mengundurkan kunjungannya karena ada urusan mendadak.

__ADS_1


Pintu masion terbuka dengan lebar, Liona berjalan masuk sampai memberhentikan langkahnya. Memandang mereka semua dengan senyum andalannya hingga membuat mereka yang berada di ruangan tersebut memandangnya kaget.


__ADS_2