
Para pelayan dan juga pengawal yang mendengar suara itu meneguk ludah kasar. Mereka saling melirik satu sama lain dengan takut - takut, tubuh mereka terasa merinding ketakutan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, hanya berdoa dalam hati masing masing. Semoga kemarahan nonanya cepat mereda pikir meret. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah mereka terhadap sang nona.
Walaupun Nona Liona sangat dingin, cuek, dan juga menyeramkan seperti saat tadi. Tapi di balik itu semua mereka sangat beruntung bekerja dengan nonanya. Mereka tidak bisa mengungkap kebaikan- kebaikan apa saja yang diperoleh dari nonanya.
Jadi mereka akan selalu membalasnya dengan perbuatan, seperti tidak akan berani berhianat kepada sang nona. Bahkan mereka selalu berusaha menjaganya walaupun mereka tidak bisa melakukan hal lebih setidaknya dengan menyerahkan nyawanya untuk melindungi nona. Itu bisa mereka lakukan.
Lalu mata mereka juga bisa melihat kedua adik dari nonanya ini yang tidak jauh berbeda dengan keadaan mereka. Keduanya sedang berusaha menelpon seseorang.
" Kak coba sekali lagi" suruh Dion dengan cemas.
Celin berdecak mendengar itu. " Ini juga sedang di telpon". geramnya apa mata adiknya ini rabun? tidak bisa melihat sedari tadi ia terus berusaha menelpon sang kakek!.
"Dimana lagi Kakek" kesalnya melihat telponnya belum juga diangkat "kek apa kau tidak kasihan melihat keadaan kami" gumam celin.
Dion yang mendengar gumaman kak celin pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga sudah menelpon asisten dari sang kakek yang juga ikut bersama kakeknya entah pergi kemana. Tapi tetap saja! tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Apa jangan-jangan keduanya bersekongkol? pikir jelek Dion.
__ADS_1
Lalu matanya melirik melihat para pelayan dan pengawal yang berdiri dengan ketakutan sembari sesekali melihat kearah kamar kakaknya.
"Pergilah kalian, Kerjakan pekerjaan masing-masing. Soal kak liona biar kami berdua saja yang menanganinya". Perintah Dion. Ia cukup salut dengan mereka yang merasakan khawatir terhadap kakaknya.
Mereka semua membubarkan diri setelah mendapat perintah dari adik nonanya.
Lalu Dion terlonjak kaget mendengar teriakkan kakaknya. Matanya balik lagi melirik kearah celin yang sedang
"KAKEK" teriak celin. Akhirnya sang kakek mengangkat teleponnya, ini sudah panggilan yang kelima baru di angkat. " Kakek kemana saja sejak dari tadi mengapa tidak mengangkat teleponmu Kakek cepat ke masion kakek harus bertanggung jawab gara- gara kakek menyeret kami masuk kedalam rencana kakek itu kak liona marah kepada ku dan juga Dion " jedanya mengambil nafas sebentar.
Ia kaget, lalu melihat handphonenya. Kakeknya itu dengan sengaja mematikan telpon, padahal celin belum selesai mengeluarkan semua unek-unek yang tersangkut di hatinya.
Dion yang sedari tadi duduk di dekat celin melongo mendengar kakaknya menyerocos sedari tadi dengan tidak ada titik koma. Melaju kencang terus seperti motor sport kak liona. Dion bergidik ngeri melihat air mancur banyak keluar dari mulut kakaknya. Bahkan saking kuatnya air mancur itu keluar sampai mengenai celana panjangnya.
" Kak air liur mu beterbangan tu" tunjuk Dion kearah tangan celin yang terkena air liur. " Lihat ini! sampai terkena celana ku juga". gerutunya mengelap celana yang sedikit basah.
__ADS_1
Mendengar itu Celin mengabaikan air liurnya dan juga gerutu Dion.
Dion berdecak kesal melihat kakaknya tidak merespon dirinya.
Dan sekarang ia melihat kakaknya malah mercak-mercak kesal menyalakan kakeknya.
Ting
Suara pesan bunyi dari handphone celin. Ternyata itu pesan dari sang kakek yang memberitahukan bahwa mereka sedang diperjalanan pulang.
Lalu memperlihatkan telponnya menghadap ke arah Dion yang juga ingin tau.
"Ayo" ajak celin.
Keduanya tidak mendengar lagi suara bantingan barang. Lalu celin mengajak Dion menuju ke atas tempat kamar Liona.
__ADS_1
Mereka berjalan terus melangkah menaiki setiap anak tangga di sertai dengan rasa cemas, takut, khawatir. Tapi tetap melangkah dengan keberanian yang di paksakan. Sembari menunggu kakeknya datang.