
Pagi harinya setelah penghuni rumah melakukan sarapan.
Didalam ruangan terdapat dua orang beda usia sedang berdebat, lalu terdapat dua orang berbeda gender pula sedang menguping di balik pintu. "Kak geser sedikit tubuhmu menghalangi, aku juga mau mendengar" ucapnya Mendorong tubuh gadis didepannya ini, dirinya juga ingin dekat dengan pintu.
"Diamlah!". kesal gadis itu dengan berbisik sebab adiknya ini mendorong tubuhnya sedikit kuat, untung saja jidat mulusnya tidak terpentok pintu "cepat maju!" ketus sembari menarik baju adiknya supaya mendekat.
Adiknya membenarkan baju yang kusut karena tarikan itu. "Kak apa kakak tidak takut bila kita ketahuan menguping". Serunya juga ikut berbisik di telinga kakaknya. Karena dion sudah kapok mendapatkan hukuman dari kakak pertamanya, yang membuat dirinya ketakutan.
"Kalau kau takut pergi saja sana"usir celin dasar pengecut pikirnya. Sepertinya celin tidak mengingat saat mereka berdua dihukum oleh kakak mereka.
"Aku juga ingin tau apa yang mereka katakan didalam". Ia juga kepo dengan apa yang terjadi didalam.
"Maka diamlah jika tidak ingin ketahuan, cepat dekatkan telinga mu agar bisa mendengar" geram Celin. Deon langsung mengatup bibirnya. Keduanya menempelkan telinganya ke pintu dengan posisi celin membelakangi adiknya.
Para pelayan yang sedang berlalu lalang, menggelengkan kepalanya tidak abis pikir melihat kelakuan kedua majikannya. Keduanya terlihat seperti anak kecil, katanya ingin menguping tapi sibuk berdebat dan dorong - dorongan. Dan yang membuat mereka lebih tidak abis pikir yaitu kenapa kedua majikannya ini memiliki kakak seperti nona pertama.
Sedangkan di dalam ruangan tersebut terdapat kakek mereka yang sedang berusaha membujuk cucu perempuan pertamanya. Sedangkan sang cucu selalu menolak dengan wajah santai dan datar.
"Liona kau tidak bisa menolak, tidak mungkin celin yang menggantikan mu". Ucap sang kakek terus membujuk cucunya ini.
"Kenapa tidak, di perjanjian kalian tidak berisi harus aku kan yang melakukannya ". Sahut sang cucu santai, memang benar kakeknya tidak menyebutkan namanya, tapi entah kenapa kakeknya ini kekeh harus liona yang dijodohkan.
Kakek itu menghela nafas sabar melihat cucunya yang selalu membantah. "Yah, tapi kau cucu tertua kakek. Lagi pula umur mu sudah cukup untuk menikah. Bisakah kau melihat celin tingkah nya saja masih labil tidak mungkin kakek menyuruh dia menikah dengan Pria itu".
"Kek umur Liona baru 23 tahun, lagian perjanjian itu sudah lama tinggal lupakan saja" tolak Liona. Dirinya masih ingin bebas melakukan semua hal tanpa harus mendapatkan larangan dari siapa pun. Jika ia menikah pasti suaminya akan ikut campur dalam kegiatan nya. Tidak boleh ini!, tidak boleh itu!. Membayangkan saja sudah membuat wanita ini muak.
" Lagian perjanjian itu kan antara kakek dan sahabat kakek, jika kalian tetap ingin hubungan kalian semakin erat lebih baik kakek saja yang menikah dengan sahabat kakek itu". Protes Liona dengar wajah datar. Lihatlah cucunya ini memberikan solusi sesat kepadanya dengan wajah polos.
"Liona dimana otak mu ini....astaga". semakin pusing kepalanya menghadapi cucu keras kepala. "Kakek mu ini masih normal liona" geramnya menekan nama cucu perempuannya, ingin sekali dirinya mengetuk kepala cucunya ini agar kembali normal.
"Kalau begitu suruh saja celin" seru wanita itu.
__ADS_1
"Tapi hanya kau yang bisa menyetarakan pria itu, Liona dengar kakek. Walaupun perjanjian itu sudah lama tapi sebuah janji harus ditepati. lagi pula pria itu sudah menyetujui perjodohan ini jadi tidak ada pilihan lain, selain menyetujui perjodohan ini". Bujuk kakek terus tetap berusaha sampai cucunya menyetujui perjodohan.
"Aku tidak peduli, Liona akan tetap menolak apapun alasannya ". tolaknya, tetap kekeh dengan pilihannya.
Sang Kakek yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas panjang dan tetap berusaha sabar. Ternyata usahanya belum menghasilkan persetujuan. Ia harus membuat rencana agar membuat cucu keras kepalanya ini menyetujui perjodohan yang telah ditetapkan.
"Sudah tidak ada lagi yang ingin kakek bicarakan?". Tanya liona melihat kakeknya bengong..
"kek" panggil lagi Liona.
"Ya" ucapnya tersentak kaget.
"Tidak ada lagi kan?" ucap nya kembali.
"Tidak".
"Liona keluar dulu" pamitnya
Liona memberhentikan langkahnya saat ingin sampai ke pintu " Kek" panggilnya memutar tubuhnya menghadap kakek.
"Jangan melamun jika tidak ingin kerasukan" ucapnya santai.
"Liona Rose Stever". Geram kakek ingin sekali dirinya mementung cucunya ini dengan tongkatnya.
"Aku disini kek".
Sedangkan dibalik pintu terdengar grasak-grusuk dari dua orang"cepat, cepat kak liona datang ". ucap Deon panik, pada akhirnya saling dorong mendorong pun terjadi.
"Sembunyi, cepat sembunyi "bisik celin dengan bola mata ke kanan ke kiri mencari tempat untuk sembunyi.
krett, terdengar suara pintu terbuka munculah Liona, ia berjalan menuruni tangga melewati persembunyian mereka.
__ADS_1
"Untunglah kita tidak ketahuan" celetuk Dion menghela nafas lega, mereka keluar dari persembunyiannya. " Ayo". ajak celin menarik tangan Deon pergi.
Tidak tahu saja jika ada seseorang yang terkekeh geli melihat kelakuan keduanya dari cctv siapa lagi jika bukan sang kakak pertama.
****
"Kek kenapa kak liona di jodohkan?" tanya dion
"Dion pergilah" usir kakek.
"Kakek jawab dulu alasannya" kekehnya dengan berdiri di depan kakek.
"Dion pergilah jangan menghalangi jalan kakek"
"Tidak, sebelum kakek menjawab pertanyaan Dion"
" Ya Tuhan kalian ini membuat kakek pusing, yang satu cucu membuat kakek pusing karena dinginnya. Lalu satu lagi sangat cerewet".
"Seharusnya kakek bersyukur karena memiliki cucu yang komplit, ada yang dingin ada pula yang cerewet" serunya santai dan wajah polos.
Sekarang kakek Brama bersama dengan satu satunya cucu laki-laki keluarga Stever. Mereka berdua sedang berjalan setelah selesai makan malam bersama, dengan Dion yang terus mengekori kakeknya. Malah kadang akan menghadang jalan kakeknya jika pertanyaan belum di jawab. Dion merecoki kakeknya dengan pertanyaan seputar perjodohan karena saat di meja makan dirinya tidak berani bertanya sebab masih ada kak Liona.
"Dion berhentilah merecoki kakek" sambar celin, melihat kakeknya frustasi dengan tingkah Dion.
Saat ini ketiganya sedang duduk di sofa "Dimana kakak kalian?" tanya kakek sebab tidak melihat satu cucunya selepas selesai makan malam.
"Kakak liona keluar, tapi tidak tau kemana perginya"ucap Celin.
Cucu pertamanya memang tidak pernah berubah, tidak pernah memberitahu jika ingin pergi. Bahkan saat mereka tinggal di Landon, pernah liona pergi tanpa pamit dari pagi dan baru pulang malam hari padahal waktu itu umurnya masih 7 tahun. Di saat semua orang kelimpungan khawatir mencarinya, dia dengan tampang polosnya mengatakan bahwa keluar karena sedang bosan di masion jadi ingin mencari suasana baru.
"Kakek kami sangat merindukan kakek" manja celin memeluk sang kakek.
__ADS_1
"Maaf yah kek, kami tidak bisa mengunjungi kakek, itu karena kak liona menghukum kami" ucap Dion mengadu.
Kakek Brama yang mendengar itu tersenyum, para cucunya ini walaupun kadang membuat kepala pusing tapi sangat manja jika sudah bersamanya. Celin dan Dion selalu mengadu padanya jika Liona menghukum mereka.