
Pagi harinya matahari mulai menampakkan dirinya, silau dari cahayanya masuk melalui celah-celah jendela. Para burung beterbangan melewati jendela, suara kicauan terdengar merdu ditelinga. Hujan deras semalam meninggalkan jejaknya di pepohonan yang masih meneteskan air.
Tapi tidak bisa membangunkan seorang wanita yang masih terlelap di kamarnya. Ia hanya menggeliat tubuhnya saat sinar matahari mengenai wajahnya.
Sementara dibalik pintu kamar tersebut terdapat dua orang saling mendorong menyuruh siapa dulu yang mengutuk pintu duluan.
"Deon kau kan lebih muda dari ku, jadi kau saja yang mengetuknya". Pinta wanita itu kepada Dion sembari mendorongnya agar lebih dekat pintu.
"Mana bisa seperti itu, kak celin kan lebih tua jadi lebih baik kakak saja"tolaknya memundurkan tubuhnya disamping celin.
"Nah itulah sebabnya karena kakak lebih tua darimu, jadi kau harus menuruti perintah kakak".bujuk terus, supaya adiknya ini menurutinya.
" Tidak bisa.Yang ada juga kakak harus mengalah kepada adiknya"sanggah Dion.
"Begini saja kakak yang mengetuk tapi kau duluan yang masuk". tawar celin masih membujuk adiknya ini.
"Aku saja yang mengetuk pintunya, kak celin yang masuk".ucapnya mengajak negosiasi kepada sang kakak.
"Biar adil bagaimana jika kita berdua saja".pekik mereka berdua, saling menatap lalu memberikan jari jempolnya masing-masing.
Karena tidak ujung mendapatkan siapa duluan yang mengetuk akhirnya mereka membuat keputusan yang adil menurut mereka.
"Cepat kak" ucap Dion mendorong tubuh celin, dengan tidak sabaran.
"Sabar"ketusnya lalu menarik tangan adiknya.
Jadi posisi mereka berdua sekarang sangat dekat dengan pintu."Kita hitung sampai tiga"seru celin dibalas anggukan kepala oleh Dion.
__ADS_1
"Satu, dua, tiga"gumam mereka berdua dengan memejamkan kedua matanya, tapi dari mereka belum ada yang mengetuk pintunya. Celin membuka sebelah matanya melihat kearah Deon yang juga ikut memejamkan matanya.
Pukk"kenapa kau juga ikut memejamkan matamu! cepat ketuk!".
"Satu, Du—". Bruk. Suara pintu terbuka dengan paksa membuat keduanya terkejut dan oleng. Belum juga tangan mereka mengetuk pintunya. Mereka berdua terjatuh ke atas lantai dingin dengan posisi telungkup celin menindih tubuh Deon.
"Aduh kak celin awas tubuh kakak berat"celetuk Dion pinggangnya seakan ingin patah, untuk saja kepalanya terlindungi dengan tangannya.
"Sialan" desis celin menahan tubuhnya yang juga terasa sakit. Mereka berdua saling menggerutu kesal.
"Apa yang kalian lakukan disini!".
Meneguk ludah kasar mendengar suara kakak pertamanya, keringat dingin mengalir di pelipis mereka. Celin dan Dion saling menatap lalu mendongakkan kepalanya melihat wajah datar kakaknya ini membuat nyali mereka semakin menciut. Refleks mereka berdua langsung berdiri tegak melupakan sakit ditubuhnya yang tiba-tiba menghilang.
Liona mengerutkan keningnya bingung mengapa adik-adiknya ini seperti seorang yang ingin berperang saja.
"Apa tidak ada tempat lain untuk menggosip, selain didepan pintu kamar kakak?"tanyanya lagi memerhatikan mereka dengan kedua tangan melipat di depan dada.
Liona mengangkat sebelah alisnya semakin bingung melihat keduanya malah saling menyikut satu sama lain.
"Jika tidak ada hal penting keluarlah kalian berdua!"usir Liona. Sebenarnya ia sangat kesal karena mereka berdua mengganggu tidur lelapnya. Jika orang itu bukan kedua adiknya, mungkin liona akan langsung menjahit mulutnya.
"Tunggu kak!...". Teriak Celin dan Dion bersamaan, ketika melihat kak liona akan melangkah.
****
Dilain tempat, keluarga Xander sedang berkumpul para anak, menantu, dan juga cucunya sedang duduk di ruang keluarga. Sembari menunggu seseorang mereka sibuk berbincang-bincang, tapi sepertinya hanya para menantunya sedangkan para suaminya sesekali menimpalinya. Kecuali para cucu laki-laki. Geo dan Alka menyibukkan dirinya dengan bermain game, untuk Zein sibuk dengan handphone juga tapi tidak ada yang tau apa yang dilakukan pria itu.
__ADS_1
Tap tok, tap tok. Suara hentakan sepatu dibarengi dengan suara tongkat yang mengetuk lantai. Membuat mereka yang sibuk berbincang langsung mengatup erat mulutnya, diikuti Para cucunya yang ikut menyimpan handphonenya. Bisa mereka lihat kakeknya berjalan kearah mereka dengan ana yang menuntun di sebelahnya.
Suasana menjadi hening saat kedatangan kakeknya ini, mereka bisa melihat raut wajah serius itu. Jika sudah begini tidak ada lagi yang berani menyela atau pun bercanda. Beda sekali dengan kemarin, kakeknya masih bisa bergurau.
"Zein Leonard Xander". panggil kakek Brata suara tegas membuat mereka semua memusatkan perhatiannya kearah pria paruh baya itu. Setelah menduduki tubuhnya di kursi.
" Ya kek"sahut Zein tak kalah tegas.
Tiba-tiba suasana seakan mencekam ketika dua orang ini saling menatap, termasuk pelayanan dan juga pengawal mereka merasa tubuhnya sedikit gemetar. Bisa kalian bayangkan dua orang yang memiliki sifat kekejaman sama, saling berhadapan.
"Kakek akan menjodohkan mu dengan cucu dari sahabat kakek". ucap to the point kakek. Dengan tidak memutuskan pandangan sama sekali, melihat kearah cucu pertamanya. Bisa ia lihat wajah cucunya itu. Jadi tidak salah jika para musuhnya akan mengatakan bahwa Zein merupakan duplikat nya pada saat masih muda. Ntah itu dari wajahnya ataupun kekejamannya.
Hening, senyap, semua orang yang berada didalam ruangan tersebut membisu, terkejut mendengar tuturan orang yang paling dihormati dikeluaganya. Mereka terdiam tidak ada yang berani menimpali ucapannya. Karena dari mereka semua tidak adanya yang mengetahui tentang perjodohan ini.
"Pertunangan kalian akan dilaksanakan satu bulan lagi". Tambah kakeknya itu. Sebuah perintah yang tidak bisa dibantah.
Para orang tua langsung melihat kearah Zein, tetapi pria itu tetap memasang raut wajah datarnya jadi mereka tidak tahu apa yang dipikirkan pemuda itu. Kedua orang tua Zein pun tidak bisa berbuat apapun.
"Ada yang ingin kau sampaikan Zein? kau bisa bertanya siapa wanita itu?". tanya kakek pada cucunya itu.
"Tidak ada, kecuali tidak bisa menolak bukan!".sahut tegas Zein.
"Benar" serunya.
"Dan kalian berdua akan bertemu satu minggu lagi, karena kebetulan Liona sedang mengurus perusahaannya di sini". lanjutnya memberi tahukan. Dirinya mendapat kabar dari orang-orangnya jika gadis itu sudah berada di Indonesia.
"Jadi itu nama gadis yang akan dijodohkan kakeknya".ucap mereka dalam hati. Semua orang sekarang sudah mengetahui nama gadis yang akan dijodohkan oleh Zein bernama Liona.
__ADS_1
Sedangkan Alka, Geo, papi Farrel dan papa Vahren mereka berempat saling bertatapan mendengar penuturan kakeknya. Mereka seakan tidak percaya bahwa pembicaraan di malam itu memang kebenarannya. Apalagi Alka jantungnya berdetak kencang melihat Zein, ia mengingat dirinya lah yang membahas soal perjodohan Zein, mana ia tau ucapan asalnya menjadi kenyataan.
"Liona"gumam Zein pelan tidak ada yang mendengar ucapan nya, ntah wanita seperti apa yang dijodohkan oleh kakeknya. Membayangkan jika wanita itu memiliki sifat manja, cengeng, pasti akan menyusahkan dirinya. Memikirkannya saja membuat dirinya mendengus kesal.