
"Lan, boleh nggak seminggu ini aku nginep dirumahmu? Aku ganti deh biaya listri dan airnya, ya?"
"Lagi mencoba kabur, va?"
Diva hanya diam. Wulan tahu pasti kenapa alasan Diva memilih untuk tinggal dirumah Wulan, sebab Diva sudah menceritakan tentang dirinya dan Zul.
"Entar kalau Zul nyariin gimana? Dan apa kamu yakin mau ngilang?"
"Kamu semangatin aku dong" bujuk Diva.
"Nyemangatin bucin sama aja kayak nyemangatin ayam yang lagi bertarung, kagak pernah didengar"
Diva lalu mengerucutkan bibirnya, "Kamu malah nyamain aku sama ayam"
"Nggak usah main ngumpet deh Va. Sudah tahu hati sama pikiran nggak bakal bisa jauh eh sok-sokan mau ngilang. Sengaja ngilang biar dicari gitu?"
Awalnya Diva memang berpikir demikian, tapi yang ada justru Diva merasa ingin pergi dari Zul. Bagaimana pun besarnya perasaannya pada Zul, sungguh tak tega melihat Zul harus berperang dengan keluarganya sendiri.
"Aku berpikir untuk menyerah, Lan,,,"
Seketika Wulan melihat Diva, seakan tidak percaya dengan perkataan sahabatnya, Wulan langsung menghampiri.
"Kamu serius?"
"Menurutmu?" Tanya ulang Diva
"Apaan sih Va. Kan kamu tadi yang bilang gitu. Lagian ya va, kenapa sih bertahan sama suami orang. Kamu pikir dia mencintai kamu? Itu bohong Va. Itu karena egonya saja, hanya karena keserahkaannya ingin memilikimu"
Wulan melanjutkan, "Va, lebih baik berhenti deh. Kenapa sih suka banget nyari masalah. Banyak cowok single diluar sana yang suka sama kamu, nggak harus sama Zul deh"
"Tapi aku cinta, Lan" jawab Diva memelas.
"Aku nggak tahu apakah ini adalah kebodohanmu atau karena cinta. Bagiku ini adalah bodoh, dan jangan berani berdebat samaku. Aku bosen Va. Kamu yang bucin sedangkan yang disana juga nggak bisa ngasi kepastian, kenapa sih suka bertahan pada hubungan yang nggak nemu muaranya? Heran deh sama kamu, Va"
Wulan meninggalkan Diva begitu saja. Diva menyadari Wulan pasti bosan mendengar cerita Diva yang begitu-begitu saja.
Diva mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela, berpikir apakah ia harus bertahan atau meninggalkan Zul. Toh kenyataannya hubungan ini memang tidak akan pernah terjalin dengan baik. Pertentangan yang diterima mereka berdua bukan hanya dari 1 orang melainkan dari segala penjuru. Entah itu orangtua Zul atau orangtua Diva, tidak akan ada seorangpun yang membenarkan hubungan ini.
Zul mengetuk pintu rumah Diva, sedari pagi Zul berusaha menghubungi Diva namun hp Diva sama sekali tidak aktif. Dan kini Zul berdiri di depan rumah Diva sambil mengetuk dengan tidak sabaran.
"Iya, sebentar" ujar Diva dari dalam. Dan begitu pintu terbuka, Zul langsung memeluk Diva.
"Ya Allah dek, abang pikir adek kenapa-napa. Kenapa hp nya nggak aktif daritadi sih?"
__ADS_1
Zul melihat raut wajah Diva datar dan seketika Zul merasa ada yang tidak beres dari Diva.
"Pengen dimatikan aja, biar istirahat full sehari"
"Seharusnya bilang dulu kalau mau begitu, jadikan abang nggak terlalu khawatir"
Lagi, Diva hanya menatap Zul datar.
"Jangan lakukan itu," ujar Zul.
"Lakukan apa?"
"Bersikap dingin dan acuh"
"Tidak ada yang bersikap demikian" jawab Diva
Zul mendekati Diva dan menatap mata Diva dari dekat, mengikis habis jarak diantara mereka dan membuat Zul bisa merasakan deru napas Diva.
"Maaf,"
Diva tetap tidak merespon
"Dek, abang minta maaf. Tolong katakan sesuatu asal jangan kata berakhir. Abang sudah berjuang mempertahankan semuanya, tolong jangan katakan adek lelah dan ingin pergi"
Zul kemudian memeluk erat Diva, sekalipun pelukkan itu tidak direspon Diva. Tapi Zul tidak berniat untuk melepaskan.
"Ada banyak kerikil yang berserakan di setiap jalan itu bang. Satu atau dua kerikil mungkin sanggup aku lewati, berlahan tapi pasti akan ada batu-batu lainnya yang mungkin tidak sanggup ku lewati"
Zul hanya diam membiarkan Diva terus bicara
"Sulit rasanya terus berjalan dengan abang,,,"
Diva mulai terisak pelan di dekapan Zul. Kemudian Zul membawa Diva duduk dan Zul berlutut di depan Diva. Diva sama sekali tidak melihat Zul, hanya menundukkan kepala sambil sesekali menghapus airmatanya.
"Sulit bukan tidak bisa kan?" Tanya Zul.
"Atas semua resikonya?"
"Apa abang terlihat bercanda dek ketika menjalani dengan adek?"
"Dan kenyataannya, abang juga sulit berjalan ke arahku kan?"
Zul mencium lama tangan Diva. Terbayang dikepalanya bagaimana Sekar yang saat ini masih marah padanya, begitu pun dengan orangtuanya yang seakan tidak sudi melihat Zul lagi karena merasa Zul masih berniat untuk poligami.
"Lalu, abang harus apa?"
__ADS_1
"Silahkan kembali pada Kak Sekar, bang. Habiskan waktu yang banyak dulu dengannya. Dia adalah rumah abang yang sebenarnya. Dia adalah tempat abang mulai merangkak hingga abang sudah berdiri tegak seperti sekarang. Sembuhkanlah dulu lukanya, siapkan hatinya dulu. Jika ke depannya Kak Sekar tidak mampu memahami perasaan abang, sebaiknya berhentilah"
Zul menatap Diva tajam. Tahu kemana pembicaraan Diva. Tapi Zul juga tahu, Diva tidak akan pernah menerima pendapatnya saat Diva sudah memutuskan.
"Lalu, kita harus berpisah?"
Zul tidak mendapat jawaban. Hanya isak tangis Diva yang menjawabnya. Diva benar, Zul harus memastikan pelan-pelan hati Sekar. Tidak dengan terburu-buru yang akhirnya justru membuat semuanya menjadi api.
Tapi, meninggalkan Diva, melepaskan Diva bukanlah pilihan yang mudah. lebih setengah tahun mereka bersama. Diva bukan hanya wanita yang ia cintai, bahkan Diva punya arti lebih luas dibanding itu.
Memperjuangkan Diva juga bukanlah hal yang mudah, begitupun melepaskan Diva. Sama halnya harus berjalan di atas bara api. Sakit tapi tetap harus dijalani. Saat itu maju, api itu akan terus menimbulkan luka di kaki. tapi saat memilih mundur padahal sudah dipertengahan jalan, bekas luka api itu juga tidak akan hilang dengan begitu mudahnya. Dia akan membekas, baik itu di kepala atau di kaki.
"Bolehkah kapan-kapan abang pulang kemari?" Entahlah, tiba-tiba Zul ikut menangis sambil memeluk Diva.
"Silahkan, semoga aku masih disini menunggumu"
"Seberat itukah dek terus mendampingin abang?"
"Tidak bang, tidak pernah aku merasa berat. Abang lihat sendirikan, bahkan aku tidak pernah menuntut waktu atau apapun dari abang. Sebab lebih besar rasa cintaku dibandingkan amarahku. Karena alasan itu jugalah, aku meminta abang untuk menyembuhkan luka Kak Sekar. 10 tahun perjalanan abang dan dia jangan pernah hancur. Pulanglah kepadanya dulu, dekatilah hatinya kembali, dan buatlah dia percaya kalau abang masih mencintainya"
Zul melepaskan pelukkannya dan menatap wajah Diva.
"Bagaimana denganmu dek?"
"Aku tidak akan baik-baik saja bg. Bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja melepaskan orang yang ku cintai. Namun, aku tidak ingin egois. Aku harus memberikan kalian berdua waktu lebih lama lagi agar bisa bersama kembali. Perasaanku? Sudah pasti hancur, tapi percayalah, perasaan itu tidak hilang bang. Aku masih Diva yang sama, yang teramat menyayangimu"
Zul mengecup kening Diva lama. Kemudian kembali memeluk Diva dengan erat. Berat rasanya harus pergi meninggalkan Diva, tapi juga teramat berat melihat Sekar yang masih belum bisa memaafkannya.
Zul tidak tahu, apakah keputusannya mengikuti ucapan Diva benar atau salah, yang Zul tahu, Sekar harus memahami kalau perasaan Zul terhadap Diva bukanlah perasaan yang sekedar datang sekedar hilang.
"Abang pastikan pulang dek" Kalimat ini hanya sampai di tenggorokan Zul. Setidaknya Zul sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia akan pulang pada Diva.
Pov Diva
Aku membuka mataku dan berlahan memandang keluar jendela. Pagi ini hujan masih dengan awetnya turun dengan tidak berniat untuk berhenti. Sudah hampir jam 10 dan hujan masih saja berbondong turun membasahi tanah yang pasrah akan kehadirannya.
ini sudah 3 bulan, saat aku dan Zul memutuskan untuk berpisah. Ya, saat itu aku pikir Zul dan Sekar harus membangun dari awal kembali hubungan mereka. Sebab aku tahu, Sekar terluka hebat karena kehadiranku.
aku siapa? Entahlah, apakah aku hanya sekedar orang yang kebetulan lewat dihidupnya Zul, atau aku juga ditakdirkan bersamanya. Biarkan saja Tuhan mengatur jawabannya. Tugasku hanya mencintai makhluknya dengan sebaik-baiknya.
Iya, terkadang aku teramat bahagia terkadang hatiku mampu menyelimuti hati Zul, menyadari hadirku diperhitungkan dihari-hari Zul. Zul membangun sebuah mimpi dari satu judul ceritaku, namun apakah aku berhak atas semua mimpi itu? Apakah aku berhak atas cerita diantara rasa yang tercipta antara kita berdua?
Ah entahlah, yang ku tahu 3 bulan ini aku tidak bisa berhenti merindukannya. Bahkan sekedar bertanya kabar, aku pun tak berani. Karena jika ku mulai, pertahananku ataupun Zul akan hancur padahal Zul sendiri belum siap membawaku ke kehidupannya sepenuhnya.
__ADS_1