
Perjalanan pulang ke Rantauprapat mulai ditelusuri Zul dan Diva. Banyak tempat yang mereka singgahi. Seperti mandi sungai yang biasa digunakan untuk arum Jeram, Air Terjun Aek Limut, bendungan Sigura-gura hingga mereka mandi air terjun kembali di Simanimbo.
Jangan ditanya betapa puasnya rasa bahagia yang diberikan Zul pada Diva. Betapa menyenangkannya setiap moment terbaik yang diberikan Zul pada Diva. Dan kini mereka harus kembali ke rutinitas masing-masing.
Zul mendapati rumahnya kosong saat sampai dirumah. Tanpa menghidupkan saklar lampu, Zul hanya duduk terdiam sambil memikirkan sikap apa yang harus ia tunjukkan kepada Sekar. Sekalipun Sekar mengatakan akan menerima poligami ini entah mengapa Zul belum merasakan kelegaan.
Zul mencoba menelpon Sekar. Sekali dan dua kali tidak dijawab. Lalu pada panggilan ketiga Sekar menjawab.
"Halo" jawab Sekar.
"Adek kenapa belum pulang?"
Tidak ada jawaban yang terdengar hanya helaan napas. "Jadi abang sudah sampai rumah?" Tanya Sekar.
"Sudah"
"Kenapa tidak terpikir untuk jemput?"
Tersentak, Zul menyadari kebodohannya. Mengapa hal itu tidak terpikir olehnya.
"Ini baru beberapa hari, tapi dunia abang sudah berpindah total padanya" sindir Sekar.
Zul tidak berani menjawab. Ia tahu kesalahannya dengan tanpa sadar mengabaikan Sekar.
"Besok pagi aku pulang, naik kereta api paling pagi. Abang jemput saja aku di stasiun"
"Baiklah"
Sambungan telepon diputus oleh Sekar. Zul tahu betapa kecewanya Sekar terhadap dirinya. Ketidakpedulian Zul yang tanpa disadarinya membuat istri yang belasan tahun mendampinginya harus terluka.
Zul membuka hpnya dan melihat foto dirinya dan Diva di air terjun Efrata. Teringat di kepalanya ucapan Diva tentang hubungan mereka.
"Kelak, jika kita memang harus berpisah lagi. Aku nggak masalah bang. Sebab kita berdua sudah menciptakan hari-hari penuh dengan kebahagiaan. Mungkin kita bertemu lagi sebagai dua orang yang pernah saling mencintai"
Rasanya tidak rela jika harus kehilangan Diva kembali. Kehilangan orang yang menyihirnya dengan sejuta kebahagiaan. Namun, tidak rela juga jika Sekar mulai acuh terhadapnya. Situasi ini sungguh membuat Zul berada dalam kebingungan.
__ADS_1
Keesok harinya Sekar tiba dirumah, seakan tidak terjadi masalah apapun, Sekar memeluk erat Zul tanpa bicara. Mereka berdua melepaskan semua rasa yang bercampur jadi satu. Amarah, cemburu, rindu, dan penat melanda menjadi satu hingga menyatu adalah cara mereka berdua berdamai.
Mereka berdua saling pandang lama. Sekar membelai wajah Zul penuh kasih. Memikirkan pujaan hatinya telah berpaling rasanya menyakitkan namun sedikit terobati bahwa Zul masih tetap mencintainya.
"Jangan pernah berubah ya dek,,," pinta Zul lembut.
Sekar tersenyum lembut, "Diluar sana, kamu memang miliknya bang. Tapi dirumah ini kamu adalah milikku bang"
Sekar mendekap Zul, "Aku akan menandatangani surat persetujuan abang menikah lagi. Namun, syarat yang aku ajukan harus dipenuhi"
"Syarat?"
"Iya,,, pernikahan abang dan dia cukup hanya kita berdua saja yang tahu sekalipun abang menikah secara sah agama dan negara. Jangan sekalipun dia mengatakan dengan siapapun bahwasanya dia adalah istri abang. Dan jangan pernah datang ke rumah Mama Mertua apapun itu kondisinya"
Zul hanya diam mendengarkan ucapan Sekar. Baginya ini adalah langkah untuk membawa Diva ke arah pernikahan yang sah.
"Jangan pernah mengenalkan aku dengannya. Aku juga nggak akan pernah mencari tahu tentang dia karena bagiku dia tidak ada. Jika abang mau izin ke rumahnya cukup bilang mau dinas, agar mindset ku berpikir tetap demikian."
Sekar lalu duduk dan menatap Zul, "Namun ku mohon, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, bang"
"Itu tidak pernah ada dibenak abang, dek. Adek akan selalu jadi rumah pertama abang pulang. Adek bukanlah seseorang yang mudah untuk digantikan, disini didalam hati abang, adek selalu teristimewa"
•••
Diva membuka pintu kamar kostnya dan membiarkan udara memasuki setiap sudut kamarnya. Setelah bergumul dengan tugas kampus yang mendadak harus dipending, kini semua tuga itu telah selesai dan membuatnya bisa bernapas lega.
Sambil mendengarkan beberapa lagu, Diva mulai merebahkan badannya yang terasa pegal. Namun ritual menenangkan itu harus berakhir saat Nova tiba-tiba muncul di depan kamarnya.
"DIVAA!!!"
Diva berusaha santai dan melihat Nova dengan wajah masamnya.
"Apa sih? Teriak-teriak kayak di hutan aja"
"Kau itu ya,, ishh memanglah nggak ada otak. Ngilang gitu aja beberapa hari. Ku pikir diculik orang kau!"
__ADS_1
Diva tersenyum simpul, memang kenyataannya kemarin Diva di "culik" oleh Zul.
"Memang diculik kok. Sama cowok ganteng"
"Bujas,, pantaslah senang kali nampak mukakmu. Melalak kemana sama cowok ganteng itu?" Ujar Nova kepo.
"Anak kecil nggak boleh tahu, rahasia perusahaan" jawab Diva usil.
"Heleeh gatal kali kau"
Diva menjulurkan lidahnya ke arah Nova, namun tindakannya tersebur justru terlihat oleh Aji. Aji terlihat menatap Diva dengan dalam, entah apa yang ada dipikiran Aji saat itu namun tatapan itu terasa aneh dimata Diva. Tanpa bicara Aji berlalu begitu saja tanpa menyapa, Diva pun juga tidak berniat untuk bertanya.
"Tahu nggak si Aji itu aneh loh," kata Nova berbisik.
"Aneh?"
"Iya, kemarin pas kau nggak pulang. Dia kan tanya sama aku dan Lena, kau pigi kemana. Ya kami jawab nggak tahu karena memang kan kenyataannya kami nggak tahu. Terus mukaknya langsung suntuk gitu. Aneh kan?"
Diva terlalu malas menebak tindakan Aji. Walau mungkin terlihat tidak wajar, tapi Diva tetap tidak peduli.
"Kayaknya dia sukalah samamu," celetuk Nova.
"Hah?!"
"Iya bisa ajakan. Toh selama tinggal disini dia lebih suka ngomong samamu daripada sama yang lain"
Diva mencoba mengingat kembali. Memang benar, Aji lebih banyak berinteraksi dengannya dibanding dengan penghuni kost yang lain.
"Aku nggak peduli, Nov. Mau dia ada perasaan atau nggak samaku nggak ada urusannya samaku." Ketus Diva.
"Ya sih, toh kau juga punya pacar. Sekali-kali kenalkanlah pacarmu itu. Penasaran aku tuh"
Diva hanya tersenyum tipis. Tentu apa yang dikatakan Nova adalah hal yang mustahil. Diva tidak akan pernah mengenalkan Zul kenapa teman-temannya. Tentu status Zul lah yang membuat Diva tidak akan pernah melakukan itu.
Diva memandang keluar jendela, memikirkan bahwa sampai kapan pun ia tidak akan pernah menunjukkan pasangannya kepada khalayak ramai membuat Diva merasa kalut. Ini adalah salah satu akibat yang harus ia tanggung karena mencintai suami orang.
__ADS_1
Bisa saja entah kapan ia akan berpapasan dengan Zul ataupun Sekar. Dan Diva harus menyadari bahwa ia tidak berhak marah atas itu semua. Bahkan Diva juga tidak berhak marah sekalipun Zul tidak akan mengakuinya di depan umum.
Entah akan jadi apa pernikahan mereka jika kondisinya demikian. Terlintas dibenak Diva sanggupkah ia menjalani itu semua. Atau mungkin ia harus menyerah dan berhenti berharap pada Zul.