Persimpangan Rasa

Persimpangan Rasa
Angin Danau Toba


__ADS_3

Diva merasakan sentuhan lembut ditangannya. Berlahan ia membuka mata dan mendapati Zul berbaring miring sambil melihatnya.


"Nyenyak banget tidurnya, sampe abang datang adek nggak terbangun"


Diva memberikan senyum terbaik pada Zul kemudian mendekap Zul.


"Udaranya dingin banget, jadi buat ngantuk deh" Diva melirik ke arah jam dinding. Sudah pukul 5 sore, itu artinya sudah 2 jam dia tertidur. "Abang jam berapa tadi selesai?"


"Baru 15 menitlah abang sampai. Lihat adek tertidur jadi nggak enak banguninnya, capek banget ya?" Ujar Zul sambil mengelus kepala Diva yang bersandar di dadanya.


"Seharusnya pertanyaan itu untuk abang. Abang pasti capek kan, gitu nyampe langsung ke tempat acara. Nggak pakai istirahat"


Zul mengecup kening Diva. "Mau lihat sunset?"


"Memang udah terlihat?"


"Belum sih, tapi sambil nunggu kita bisa keliling-keliling hotel. Toh disini cuma kita berdua penghuninya. Anggap aja rumah kita"


"Aku siap-siap dulu ya bang" Diva beranjak meninggalkan Zul kemudian ke kamar mandi setelah sebelumnya menggambil pakaian ganti.


Setelah selesai mereka berdua menyelusuri setiap sudut hotel. Hotel silintong termaksud hotel yang luas. Namun sayangnya tidak begitu banyak peminatnya. Hotel ini tepat berada dipinggir Danau Toba dengan sekelilingnya taman. ada beberapa patung di sekitaran Hotel, dan ada beberapa juga taman anggrek yang terawat dengan baik. Bangunan hotel juga terlihat klasik dan memancarkan bangunan tua yang terawat baik.



Sambil berfoto ria sana sini, sesekali Zul menghadiahkan Diva kecupan dan pelukkan. Bahagia tentu saja menyelimuti mereka berdua. Bermandikan kasih sayang baik Zul dan Diva merasa bahwa saat bersama semua hal akan terasa baik-baik saja.


Bukan tidak khawatir atau tidak peduli pada hal yang akan mereka hadapi, tapi rasa takut itu tertutupi oleh rasa bahagia.


Zul terus menggenggam tangan Diva sambil berjalan. Sesekali Zul menggendong tubuh Diva dari belakang. Wajah Diva yang berseri memancarkan aura kebahagiaan. Melihat Diva yang tertawa riang bersamanya membuat Zul tidak mampu menahan diri untuk menghadiahkan Diva kecupan berkali-kali.


"Udah ah bang, malu dilihat orang."


"Biarin aja. Disini hanya ada kamu dan aku. Moment seperti ini tidak tahu kapan akan terulang lagi. Dan di kepala abang hanya ingin menciptakan semua moment baik bersama sayang"


"Idiih gombal"


"Biarin, kan ngerayu sama orang yang disayang sah-sah aja sih"


Zul kembali mendekap Diva dari belakang. Mencurahkan semua rasa cinta yang melimpah kepada Diva. Mereka berdua menikmati angin sore yang berhembus kencang di tepi tebing hotel Silintong yang mengarah ke Danau Toba.



"Abang ingin menikah dengan adek. Membangun keluarga bahagia bersama. Punya anak-anak yang lucu yang bisa melengkapi lembar cerita cinta kita. Melewati berbagai musim dan waktu bersama, melewati suasana yang pasti terkadang panas atau dingin. Abang ingin mewujudkannya dengan sayang. Jujur abang jadi serakah setelah semua ini, tapi Allah sudah memberikan adek dihidup abang, dan abang tidak ingin menyia-nyiakan itu semua."


Zul membalikkan tubuh Diva agar mengarah kepadanya. "Abang tidak tahu apa rencana Allah terhadap kita berdua. Abang juga tidak tahu apa yang akan kita hadapi setelah itu. Tapi, tekad abang benar-benar kuat, dek. Abang mohon, sayang juga demikian. Pasti, rasa sakit akan menyelimuti setiap perjalanan kita. Dan abang akan berusaha untuk mengobatinya. Abang memang kejam, menawarkan kehidupan yang sulit pada adek, tapi abang tidak ingin melewati hari seperti kemarin yang tidak baik -baik saja."


"Menikah dengan abang juga bukan pekara mudah. Abang tahu adek berhak memilih yang terbaik. Tapi dibalik kesulitan yang ada, ada kebahagian yang terurai juga. Ada perasaan cinta kasih sayang yang terurai juga. Adek jauh lebih tahu bagaimana perasaan kita berdua."


Diva melihat bulir air mata mengalir pelan tapi pasti di pipi Zul. Begini rasanya dicintai begitu dalam. Begini pula rasanya mencintai namun tidak bisa memiliki seutuhnya.


"Maaf, abang tidak bisa menjadi seseorang yang selalu memahami adek. Tapi, abang adalah seseorang yang mencintai adek"

__ADS_1


Diva mencium kedua tangan Zul dan meletakkannya di kedua pipinya. "Bisa-bisa aku meleleh mendengar semua ucapan abang. Rasanya seperti mimpi bertemu dengan abang, melewati waktu dengan atau tanpa abang,sakit dan bahagia tergambar dengan jelas setiap langkah kaki kita. Aku tahu, menikah dengan abang bukanlah pekara mudah. Tapi aku yakin abang akan melindungi aku. Aku tidak akan menuntut apapun, selama kita berdua baik-baik saja, aku yakin semua juga akan berjalan dengan baik"


Binar mata Diva yang menawan terus menatap mata Zul hingga memenjarakannya. Zul dengan rela terbenam di dalam teduhnya mata Diva. Entah itu mata, entah itu suara, entah itu perlakuan Diva semua hal mampu menyihir Zul dalam sekejap. Tanpa memperdulikan sekeliling mereka,Zul mendekatkan tubuh mereka dan mulai mengecup dalam bibir Diva.


"I love you,,," bisik Zul


"Love you too" jawab Diva lirih.


Setetes dua tetes air langit mengenai kening mereka. Sambil berlari kecil, Zul dan Diva kembali ke kamar hotel yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri tadi.


Samosir hari ini sepertinya memberikan udara yang teramat dingin walau sehari-hari juga terasa dingin, terbukti dari kamar hotel yang tidak menggunakan AC karena udara Samosir juga sudah dingin.


"Mau kopi?" Tawar Zul kepada Diva.


"Boleh"


Zul mulai menyeduh kopi dan lalu setelah itu memberikannya kepada Diva yang sudah duduk diatas tempat tidur sambil berselimutkan bedcover.


Berlahan Diva menyeruput kopi buatan Zul. Rasa hangat menjalar ditubuh dibawa yang dibawa oleh kopi dan pelukan Zul pada dirinya.


Tidak ada kata yang terucap dari bibir mereka berdua. Hanya ada kediaman yang merayap ditengah derasnya hujan diluar sana.


Pelukkan yang mulanya hanya sekedar pelukkan kini berganti dengan dekapan yang menimbulkan suasana panas. Panas bukan karena udara kamar, namun panas yang muncul karena ada hal lain yang timbul di dalam diri mereka berdua yang berdekapan dengan erat.


Diva merasakan detak jantung Zul yang bergemuruh melalui telinga kanannya yang menempel langsung pada kulit putih Zul. Diva tidak berani mendongakkan kepalanya sebab takut setiap pergerakannya akan menimbulkan efek yang lebih hebat.


Namun Zul sepertinya memulai pergerakan itu.


"Apa?" Bisik Diva.


Zul turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah lemari. Lalu kembali lagi dengan sebuah kotak merah ditangannya. Diva menerima kotak yang sudah jelas adalah kotak cincin, dan benar. Didalamnya ada sebuah cincin dengan sebuah surat tanda pembelian.


"Apa ini?"


"Hadiah. Cincin itu abang beli sebelum kita berpisah kemarin. Awalnya mau abang gunakan untuk mahar. Tapi nyatanya kita berpisah. Lalu abang sakit dan teringat pada cincin ini. Dalam hati abang berjanji, akan memberikan cincin ini kepada adek saat sudah sembuh. Karena itu abang ke kost adek tapi justru adek udah pindah. Jadi karena udah ketemu, abang kasih sekarang saja sama adek. Mumpung ada waktu"


Diva mendengarkan secara seksama kata-kata Zul, "Mumpung ada waktu?" Tanya Diva heran.


"Iya, siapa tahu besok-besok adek berniat menghilang lagi. Setidaknya abang sudah menunaikan janji abang, memberikan cincin ini"


"Lalu soal maharnya?"


"Oh itu. Abang pikir ini terlalu rendah untuk mahar adek. Sebab adek itu istimewa jadi berhak mendapat yang lebih"


Diva memandang cincin itu, "Apa kita bisa menikah bang? Itu akan menjadi hal buruk bagi kehidupan abang. Pekerjaan dan keluarga abang menjadi taruhannya"


Zul tersenyum tipis. Menjadi Diva mengkhawatirkannya membuat hatinya bahagia. "Kita akan baik-baik saja selama kita kuat. Semua syarat yang diberikan Sekar akan abang turuti, selama adek juga menerima syarat itu"


Diva tahu syarat yang dimaksud Zul. Yakni Diva tidak boleh hadir di depan keluarga Zul sehingga membuat posisi Diva tidak akan pernah selamanya dianggap menantu di keluarga Zul.


"Kenapa abang memilihku?"

__ADS_1


Zul mengecup kening Diva,"Karena kamu adalah kamu. Kamu adalah segala hal baik yang diberikan Tuhan"


Zul kemudian memasangkan cincin tersebut dijari manis Diva. Lalu mengecup seluruh wajah Diva dan berhenti lama dibibir Diva.


"Boleh jujur?" Bisik Zul.


"Hmm?"


"Aku menyukai bibirmu,,,"


Matahari sudah tidak menampakkan cahayanya lagi. Kini hanya berganti langit yang masih setia menurunkan berliter-liter air hujan.


Suara hujan yang deras menyamarkan setiap ******* panjang dari bibir yang tipis. Sekalipun hujan tidak menembus kamar mereka, namun air mengalir deras dari setiap pori-pori tubuh keduanya. Segala rasa melebur menjadi satu. Segala kata melebur menjadi satu bagian.


"I love you,," kata-kata terus bergema dari bibir Zul. Sepanjang waktu entah sudah berapa kali diungkap Zul hingga akhirnya berhenti saat Zul mulai tertidur nyenyak sambil memeluk Diva.


•••


Praak


Gelas yang ada dimeja makan tanpa sengaja tersenggol Sekar. Refleks Sekar kemudian membersihkan pecahan kaca dan mengumpulkannya menjadi satu. Dadanya tiba-tiba mendenyut nyeri. Rasa denyut itu menjalar ke kepala hingga menciptakan denyut di dahinya.


Sekar terduduk diam beberapa saat hingga akhirnya memutuskan untuk menelpon Zul. Tidak peduli Zul bersama siapa, Sekar merasa mempunyai hak lebih atas Zul. Karena ia adalah istri sah Zul.


Dering pertama, kedua dan ketiga tidak kunjung diangkat Zul. Masuk dering keempat Zul akhirnya mengangkat telponnya.


"Hallo"


Dada Sekar bergemuruh mendengar suara Zul. Zul sepertinya bangun tidur. Apa yang baru dilakukan Zul hingga belum masuk tengah malam sudah tertidur.


"Hallo,, dek? Kok diem?" Ucap Zul kembali.


"Abang tidur?"


"Iya, capek banget. Tadi pagi gitu nyampe langsung ke tempat acara sampai sore. Lihat-lihat hp rupanya tertidur abang."


Bohong, gumam Sekar dalam hati. Zul bukanlah tipe orang yang akan tertidur karena capek perjalanan. Zul adalah sosok traveling. Baginya tidur saat jalan-jalan adalah hal sia-sia.


"Aku kangen,,," ujar Sekar berusaha untuk mengambil perhatian Zul.


"Oia,, sabar ya sayang"


Tidak ada balasan kangen dari bibir Zul yang ada hanya kalimat pengalihan.


"Cepat pulang ya bang"


"InsyaAllah. Begitu selesai acaranya abang langsung pulang kok"


Sekar lalu menyudahi pembicaraan mereka dan mulai menangis tanpa suara. Zul dan Diva telah bersama seutuhnya. Membayangkan hal itu membuat Sekar merasa tercabik-cabik. Namun membayangkan harus merelakan Zul untuk Diva, Sekar juga tidak rela. Sekar harus terus menutup matanya dan merebut kembali hati suaminya tanpa harus merasa bahwa dirinya terancam.


Baginya level Diva dan ia berbeda. Sekar didapat dengan cara baik-baik dan terhormat, sedangkan Diva didapat dengan cara tidak baik. Hubungan seperti itu hanya sekedar azas manfaat saja. Sekar yakin, suaminya hanya bermain ria dengan perempuan bodoh yang tidak tahu sedang dipermainkan.

__ADS_1


__ADS_2